Rabu, 20 Januari 2010

Ketika Mutiara Tak Lagi Berkilau


Sebelum memasuki Musim kompetisi 2009/2010 sang juara bertahan Persipura Jayapura, dilanda berbagai masalah di antaranya; kasus walk out pada final Copa Dji Sam Soe di Palembang yang berbuntut pada sanksi yang dijatuhkan pada pengurus maupun denda materil. Selain itu Persipura juga sempat digoyang isu kepindahan pemain asing yang menjadi pilar utama di musim lalu, seperti Ernest Jeremiah dan Alberto Goncalves, akibat regulasi BLI. Dan kini yang paling merisaukan adalah kondisi stadion kebanggaan Mandala, yang terancam tidak bisa menggelar laga Liga Champion Asia, padahal moment ini sudah menjadi kerinduan tersendiri seluruh publik pecinta Persipura. Padahal Persipura telah “mengorbankan” partai kandangnya di ISL dalam rangka renovasi untuk memenuhi syarat dari AFC bagi sebuah stadion untuk menggelar laga internasional selevel LCA.

Perjalanan Persipura di ISL dan LCA 2009/2010 masih sangat jauh, namun berujuk pada analisis dalam sembilan laga awal kompetisi ISL musim 2009/2010, pencapaian poin Persipura masih sangat minim. Tercatat mereka hanya mencatat dua kali kemenangan, empat kali seri, dan selebihnya kalah. Hanya 10 poin. Sebuah angka yang tentu saja tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa piala presiden bakal dipertahankan.

Selain cedera beberapa pemain inti, seperti defender handal, Ricardo Salampessy, dan striker haus gol Boaz Solossa, masalah lain adalah pindahnya home base Persipura ke stadion Andi Mattalatta, Makassar. Di stadion kebanggaan PSM Makassar ini Persipura tidak mampu menunjukkan performa, layaknya ketika bermain di depan ribuan publiknya. "Kami dalam kondisi serba terbatas. Ada beberapa pilar tak bisa diturunkan dan itu cukup berpengaruh. Ini sangat menyulitkan," kilah pelatih Persipura, Jacksen F. Thiago, dalam sebuah konferensi pers di Stadion Andi Mattalatta.

Mantan kapten Persipura (1968-1977), Hengky Heipon mengungkapkan keprihtinannya terhadap kondisi Persipura. Menurutnya Persipura memiliki sejumlah kelemahan, yang digunakan oleh lawan untuk mengobrak-abrik pertahanannya. Hal yang paling nampak adalah fisik dan speed pemain. “Banyak pemain sudah memasuki usia tua sehingga tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan dan tenaga pemain lawan, yang jauh lebih muda.
“Poin maksimal yang seharusnya diraih tidak mampu dipertahankan, karena para pemain belakang tidak melakukan defence yang baik terhadap serangan lawan,”. Menurut Heipon sebenarnya latihan untuk mempertahankan keunggulan itu ada, cuma tidak mampu dijalankan dengan baik oleh pemain. Mereka terlalu membebaskan pemain lawan memasuki daerah pertahanan. Lebih lanjut Heipon menyarankan agar para pemain muda lebih diberi kesempatan, agar menambah jam terbang. “Mereka punya skill bagus cuma masih minim pengalaman. Untuk itu perlu diberi kesempatan lebih banyak, kemudian penampilan mereka dievaluasi dan diberi tahu tentang kekurangannya,”.

Jurnalis olahraga lokal Rocky Bebena, mengungkapkan bahwa seharusnya sejak awal Persipura sudah harus mempersiapkan kerangka tim yang solid untuk menghadapi ISL dan LCA, maupun COPA. “Melihat dari pertandingan awal ISL, tim-tim yang berkompetisi sudah sangat kompetitif, dan rata-rata memiliki strategi dan visi bermain yang baik.
Faktor lain yang menyebabkan kondisi seperti ini menurut Bebena adalah sanksi yang menimpa pilar utama lini tengah Imanual Wanggai, akibat mangkir dari tim nasional Sea Games 2009 Laos. “Pemain ini sudah menjadi motor baru lini tengah bersama Eduard Ivak Dalam, dalam menyuplai bola kepada para striker, namun tidak mungkin dimainkan. Ini sekaligus menjadi pembelajaran bahwa kita punya aturan-aturan oleh lembaga otoritas sepakbola tertinggi di tanah air, yaitu PSSI, yang harus ditaati,”.

Persipura tidak menggunakan Mandala sebagai home basenya juga dianggap sebagai penentu. “Ini sangat berpengaruh baik terhadap permainan tim maupun dari segi pendapatan. “Suporter merupakan pemain kedua belas, yang memberikan dukungan moril. Hal ini semakin diperparah oleh biaya operasional yang membengkak. Bayangkan kalau sekali main harus mengeluarkan biaya 90 juta hingga 100 juta sementara pemasukan cuma sekitar 15 juta hingga 20 juta,”.

Pemilihan Makassar, sendiri dipilih karena posisinya yang strategis, sehingga jika Persipura menjalani partai away-nya, maka jaraknya tidak terlalu jauh. “Tapi sangat disesalkan mengapa tidak menggunakan stadion Pendidikan Wamena atau Sanggeng Manokwari. Kalau Bas Youwe jelas belum memenuhi syarat dari segi fasilitas pendukung, walaupun kualitas rumputnya sudah memadai,”.

Hal ini juga diakui oleh pentolan suporter fanatik Persipura Yan Permenas Mandenas, yang juga anggota DPR Papua 2009/2014, mengungkapkan bahwa Persipura yang harus bermain di luar berpengaruh besar terhadap performance mereka. “Ini dapat dilihat pada beberapa hasil pertandingan di awal ISL, yang menuai hasil seri, bahkan kalah. Hal itu terjadi karena minimnya dukungan suporter, sementara tekanan dari suporter lawan sangat tinggi,” katanya. Anggaran yang sangat terbatas menyebabkan kelompok suporter tidak mampu mendukung tim kebanggaan masyarakat Papua ini secara langsung di Stadion Andi Matalatta, Makassar..

Rekor Baru Persipura
Di balik ketidakkonsistenan tersebut muncul sebuah hal yang cukup menggembirakan para pecintanya. Rekor Persib yang tidak terkalahkan dalam 17 partai ISL di lampaui oleh Persipura, yang tidak terkalahkan dalam 18 pertandingan. Yang istimewa adalah Persipura meraih prestasi tersebut, dengan menghempaskan Persib dengan skor tipis 1-0, lewat gol semata wayang Alberto Goncalves, di Stadion Andi Matalatta pada tanggal 29 November 2009. Walaupun kemudian dihentikan oleh Sriwijaya FC, tiga hari kemudian. Sebelumnya Maung Bandung dan Persipura sama-sama mengantongi rekor durasi tak terkalahkan selama 17 laga di ISL.

Renovasi Mandala Berjalan Lambat
Di LCA persiapan untuk menyelenggarakan event akbar ini terus dilakukan. Kendala soal faktor kelayakan stadion Mandala menemui sejumlah masalah, padahal hal ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk menggelar sebuah pertandingan bertaraf internasional, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Badan Liga Indonesia (BLI), Andi Darussalam Tabussala, pada acara penyerahan trofi juara ISL Juni 2009 lalu. “Stadion Mandala belum memenuhi kriteria sesuai yang ditetapkan oleh AFC,” kata Tabusalla ketika itu. Pemerintah provinsi melalui Dinas PU kemudian bergerak cepat melakukan pembenahan stadion, mulai dari penanaman rumput, tribun, lampu stadion, ruang ganti dan ruang konfrensi pers. Waktu yang tersisa sebelum LCA bergulir dimanfaatkan sebaik-baiknya. Namun dalam kunjungan Direktur BLI Andi Darussalam Tabusalla yang didampingi manajer Komunikasi dan Informasi PT LI, Aswan Karim awal Desember 2009 lalu menilai bahwa stadion Mandala masih memiliki banyak kekurangan yang nantinya akan menjadi acuan tim ad hoc AFC yang akan berkunjung Januari mendatang untuk memindahkan laga LCA ke stadion lain seperti Gelora Bung Karno, Jakarta atau Jaka Baring, Palembang.

Beberapa persoalan yang diragukan tuntas adalah rumput yang kemungkinan besar belum bisa digunakan pada Maret mendatang. Penanamannya yang menggunakan cara one by one memakan waktu yang cukup lama, sekitar 6 bulan. Hal tersebut telah terjadi sebelumnya di stadion Jaka Baring Palembang. Solusi yang ditawarkan pada saat itu adalah panpel harus secepatnya bergerak dan menggunakan rumput sintesis. Selain rumput hal lain yang menjadi masalah adalah tata letak ruang ganti serta press konference.
Hal tersebut sangat disayangkan oleh Yan Mandenas. “Stadion Mandala bukan aset kota atau kabupaten, tetapi aset milik provinsi. Untuk itu ia menghimbau agar mempercepat pembangunan stadion, sehingga Persipura dapat memainkan laga kandang dan dapat disaksikan langsung oleh para masyarakat Papua. Ini adalah moment langka, tidak seperti ISL yang tiap tahun bergulir. Belum tentu tahun depan kita (Persipura-red) bisa ikut,".

Menurutnya pemerintah harus sadar bahwa LCA ini bukan sekedar event olahraga semata, tetapi juga merupakan ajang promosi daerah Papua ke luar, bahkan berpengaruh positif terhadap sektor ekonomi. "Hal ini juga akan memberi contoh bagi daerah lain, sehingga kita harus memperlihatkan keseriusan dalam pembinaan olahraga,".

Jika rumput yang sekarang memang tidak bisa digunakan pada waktunya, maka solusi yang paling baik yaitu adalah menggunakan rumput sintetis. Untuk itu peluang ini memang harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. “Lucu aja jika dana Otsus yang jumlahnya trilliunan itu tidak mampu membangun sebuah stadion yang memadai, seperti di luar Papua,” kata Mandenas kesal. Hal yang bisa disimpulkan di sini adalah bagaimana menggunakan aset daerah untuk memajukan prestasi di kancah domestik maupun internasional.

Sayangnya pihak KONI, ketika dikonfirmasi menolak memberikan komentar. “Sana tanya PU. Kami tidak pernah tahu dan tidak dilibatkan dalam renovasi Mandala,” kata salah seorang pengurus hariannya.

Anggota BLI Jayapura Jefry Pattirajawane mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil peninjauan rumput yang ditanam bisa digunakan pada bulan Februari. “Sementara survey dari AFC bulan Januari, jadi kalau mau dipaksakan main di Mandala, maka harus menggunakan rumput sintetis, kalau tidak harus memilih antara GBK atau Jaka Baring, yang telah memenuhi syarat,” katanya. “Sebaiknya pengerjaannya melibatkan banyak kontraktor. Jangan cuma satu. Kalau begini kapan selesainya,” tambah Bebena.

Liga Champion Asia
Boaz Solossa dalam pernyataannya beberapa waktu lalu kepada Foja mengungkapkan rasa optimismenya dalam menghadapi kompetisi LCA. Menurutnya berdasarkan rekaman pertandingan club-club peserta LCA yang lain ia dan teman-temannya menilai jika kualitas calon lawan tidak terlalu baik dibanding Persipura. “Saya, kaka Edu, dan rekan-rekan lain sudah nonton permainan mereka. Saya bilang kalau mereka mainnya seperti itu berarti kita sangat optimis mengalahkan mereka. Kualitas mereka biasa aja. Tidak terlalu istimewa. Ini hanya faktor mental,” kata pemain yang akrab disapa Bochi ini.

Kondisi tim saat ini justru sangat diragukan oleh Mandenas. Menurutnya hal yang harus dilakukan agar Persipura bisa kembali ke bentuk permainannya, maka sudah saatnya Persipura membenahi diri terutama lini depan. “Kehilangan Ernest Jeremiah begitu terasa, sementara ini dari pemain yang ada belum ada pengganti yang sepadan. Pemain muda sebenarnya mempunyai skill yang bagus namun belum punya jam terbang yang cukup serta belum bermental baik dalam menghadapi tekanan baik dari dalam maupun dari luar lapangan (suporter-red). Untuk itu perlu dicari pemain bertipe seperti itu untuk membuka ruang bagi Beto maupun Bochi,” kata Mandenas.

“Persipura yang ada sekarang memiliki kepincangan dari setiap lini. Bahkan ada pemain yang sudah tidak layak lagi bermain. “Satu hal yang paling berpengaruh adalah kehilangan Ernest Jeremiah di Lini depan. Tinus Pae bagus cuma perlu jam terbang lebih banyak. Ini tugas pelatih untuk memikirkan komposisi pemain yang lebih baik. Dengan kondisi tim yang ada sekarang, saya tidak yakin mereka mampu mempertahankan titel juara ISL, jika tidak ada perubahan yang signifikan. Jangankan ISL apalagi bersaing di LCA,” kata Bebena.

Senada dengan Bebena Hengky Heipon menilai hasil pertandingan di ISL, seharusnya dijadikan bahan evaluasi bagi pelatih dan manajemen untuk menghadpi LCA, yang levelnya lebih tinggi. “Kalau di ISL saja tidak mampu bagaimana di LCA nanti,” katanya. Heipon juga sangat berharap Persipura akan bermain di Mandala pda LCA mendatang. “dukungan suporter akan memberi suntikan moril bagi pemain, sehingga secara psikis akan lepas,” ungkapnya. (Junaedy Patading).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar