Kamis, 03 Desember 2009

Para Pegiat Kemanusiaan Papua


RORIWO KARETJI
Kesederhanaan dan motivasi untuk mengembangkan daerah terpencil di Papua, menjadi awal dari keterlibatannya dalam pelayanannya.

Menurut Roriwo Karetji ia mulai terlibat di Wahana Visi Indonesia Papua, sejak tahun 1989, sebagai evaluator, selama satu tahun. Berbeda dengan sebagian besar anak muda saat itu yang lebih memilih kota besar sebagai tujuannnya, Karetji malah memutuskan untuk bergabung dengan WVI, yang notabene melakukan pelayanan di daerah-daerah, yang sangat terpencil, di Papua.

“Waktu itu pelayanan kami masih terfokus pada pengembangan masyarakat Papua, terutama daerah terpencil. Saya sangat tertarik dengan kesederhanaan. Setelah melihat kehidupan orang-orang di pedalaman Papua, saya sangat tersentuh, dan tergerak untuk terlibat dalam pelayanan. Saya ingin melihat mereka maju dan berkembang dengan cara meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kami waktu itu memulainya dengan mengajar bercocok tanam dan beternak,” kata lulusan Antopologi Uncen ini.

Merebaknya kasus HIV memaksa pihaknya untuk tergerak melakukan tindakan preventiv guna melakukan pencegahan terutama bagi anak-anak. Awal keterlibatan WVI untuk penanganan HIV-AIDS, berawal ketika pada tahun 1994 kami mengundang Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboy, dan mulai mempromosikan bahaya HIV AIDS, dari suatu tempat ke tempat yang lain, seperti lokalisasi dan tempat-yang disinyalir sebagai tempat prostitusi. “Waktu itu kami masih sangat awam tentang HIV-AIDS. Satu hal yang kami pahami adalah HIV itu penyakit yang berbahaya,”.
Di tahun yang sama juga Karetji kemudian dipercayakan sebagai Branch Office Manager WVI Papua, setelah tiga tahun sebelumnya sebagai koordinator WVI untuk wilayah Jayawijaya.

Karena fokus dari WVI adalah anak-anak maka aspek penting ditekankan adalah preventive atau pencegahan. Kami juga mulai melakukan program kerjasama dengan sekolah-sekolah, dan dengan gereja. Jadi ada pelajaran tentang HIV sekolah minggu menerbitkan buku sekolah minggu yang punya muatan HIV-AIDS, jinggle tentang HIV di radio di berbagai stasiun agar informasinya semakin luas. Bukan hanya informasi bahayanya, tetapi lebih supaya anak-anak punya sikap yang tepat baik untuk mencegah maupun kepada orang yang terinfeksi. Tidak bersikap diskriminasi terhadap ODHA. Kami juga punya program Care and support, yang selalu memberi semangat kepada para ODHA.

Kita juga ingin agar gereja juga terlibat. Ada pelatihan bersama tokoh gereja. Hal ini kami lakukan karena bisa jadi yang terinfeksi adalah bagian dari jemaat. WVI juga mempunyai program chanel of hope (saluran pengharapan). Tujuan dari program ini adalah agar mereka memiliki pemahaman yang lengkap, ada mobilisasi informasi dan mengembangkan care and support bagi penderita,” kata pria asal Halmahera ini. Selain kedua program diatas WVI juga juga mempunyai Program Siaran Sistim Informasi Remaja, yang dilaksanakan bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota untuk membentuk KPA di setiap distrik.

Kendala
Menurut Roriwo Hingga saat ini akses yang sangat sulit dan medan alam yang berat merupakan kendala utama, dalam melakukan pelayanan, serta penyebarluasan mengenai informasi HIV-AIDS. Selain itu tingkat pendidikan juga merupakan faktor penghambat yang cukup berpengaruh. “Di beberapa daerah tingkat pendidikan masyrakat masih sangat rendah, dengan komunikasi yang juga belum lancar, mengakibatkan kami kesulitan dalam menyampaikan informasi tentang HIV-AIDS. Yang dikuatirkan juga terjadi kesalahan maupun kurang paham dalam menerima informasi. Kami masih sering memanfaatkan penterjemah di beberapa daerah,” katanya.

Ditanya soal alasan mengapa ia tidak pernah merasa jenuh dan lelah melakukan pelayanan, sambil tersenyum ia menjelaskan; bekerja di WVI seperti sebuah perjalanan iman. Kita akan merasa bahwa Tuhan ternyata memakai kita untuk berperan, dan demikian kita juga akan semakin dikuatkan dan memiliki kepuasan jiwa. (R3)



AGUS "Pecandu" HAYONG
Antusias, dan ramah adalah sifat yang dimilikinya tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang bekas pecandu Narkoba (narkotika dan obat terlarang) dan Miras (minuman keras).

Agus Pecandu demikian ia menyebut dirinya. “Saya menggunakan nama tersebut untuk selalu mengingatkan bahwa saya dulunya seorang pecandu narkoba dan Miras, yang sekarang sadar dan ingin berguna bagi orang lain terutama menolong teman-teman yang masih terikat dengan narkoba dan miras,” kata pria bernama asli Agus Hayong.
Ditemui di salah satu kegiatan penjangkauan SMP (Sekolah Menengah Pertama) YPPK Taruna Mulia di Argapura, 2 Juni lalu, ia tampak begitu bersemangat memberikan materi tentang bahaya narkoba, miras, dan HIV-AIDS bagi kalangan remaja utamanya anak sekolah. “Hallooo” katanya menyapa peserta. “Halloo,” jawab peserta. “Narkoba” teriaknya yang spontan dijawab para peserta “No”. “Prestasi” katanya lagi. “Yes” jawab para murid, yang diiringi dengan riuhnya tepuk tangan peserta. Yel-yel serupa dilakukan berulang-ulang sehingga menumbuhkan semangat peserta dalam mengikuti materi yang dibawakan. Menurut Agus kegiatan ini merupakan salah satu program dari Yayasan Permata Hati Kita, yang dilaksanakan oleh kelompok Muda Berdaya Papua.

Masa kelam
Dulunya saya adalah pecandu berat Narkoba dan Miras,” katnya mengawali kisahnya. Awal keterlibatan Agus terjerumus dengan Narkoba Miras dimulai saat Ia duduk di kelas dua sekolah menengah atas di Jayapura. “Awalnya saya hanya ingin mencoba, karena ajakan teman (tekanan sebaya). Waktu pertama kali pakai rasanya tidak enak sama sekali. Saya bahkan mual dan muntah hingga jatuh sakit. Tapi karena dorongan teman dan takut disebut kurang gaul jika tidak menggunakan Narkoba, dan Miras, hingga lama-kelamaan akhirnya saya merasa ketergantungan. Biasanya miras itu hanya sebagai tipuan untuk mengelabui orang lain, sehingga mereka mengira kami hanya mengkonsumsi Miras dan tidak berfikir kami menghisap ganja,“ ungkapnya.

Kelakuan Agus dan teman-temannya ini sebenarnya diketahui oleh pihak sekolah, bahkan orang tua Agus sering dipanggil menghadap di sekolah. Ada kejadian lucu dari kejadian tersebut. “Saya tidak pernah menyampaikan penggilan tersebut kepada orang tua. Biasanya saya meminta teman yang agak tua datang menghadap ke sekolah dan mengaku sebagai orang tua saya, dan pihak sekolah percaya,” katanya tersenyum.
Berbagai kelakuan buruk juga dilakukan oleh Agus untuk mendapatkan barang tersebut seperti kekerasan dan pemalakan. Pergaulan menyimpang tersebut terus dilakoni hingga Agus duduk di bangku perguruan tinggi. Sepandai-pandai tupai melompat akan jatuh juga. Kelakuan Agus tercium juga oleh Sang Ibu. “Ibu saya begitu sayang sama saya hingga beliau tidak tega bilang sama bapak,” ujar Agus. Bahkan karena terlalu sayang dengan sang anak sang ibu nekad memberi uang lebih untuk membelinya.

Insyaf
Mei 2008, melalui anjuran salah seorang teman Agus kemudian mencoba mendatangi pihak Yakita untuk mengikuti program rehabilitasi. “Waktu itu saya cuma iseng-iseng. Berbagai program yang dijalani terasa sangat berat. Setelah melalui beberapa program bersama teman-teman yang lain akhirnya saya merasa disinilah komunitas orang-orang yang bisa mengerti saya. Saya merasa Yakita merupakan satu-satunya tempat yang bisa menolong orang untuk lepas dari jeratan Narkoba,” ungkapnya.

Keinginan untuk sembuh dan menolong orang lain yang hidup dalam kungkungan alkohol dan obat terlarang mendorong Agus untuk berbuat lebih dari sekedar sembuh. Setelah melalui pelatihan Muda Berdaya selama tiga bulan, yang dilanjutkan dengan basic program di Bogor selama 1 bulan, akhirnya Agus terpilih sebagai koordinator Muda berdaya Papua. “Ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada saya. Apa yang saya lakukan dulu, membuat hidup saya hancur, hubungan dengan keluarga dan teman-teman retak, pengalaman ini membuat saya ingin mengajak teman-teman yang aktif (pecandu-red) untuk memperoleh masa depan yang cerah, serta memberi pemahaman kepada para remaja agar lebih baik tidak usah mengenal barang haram itu,” ujar lulusan D3 Teknik Elektro ini.

Kegiatan- kegiatan yang dilakukan sekarang ini seperti penjangkauan ke sekolah-sekolah, lingkungan Gereja, Mesjid, dan komunitas anak-anak muda. Penjangkauan tersebut meliputi pemberian informasi tentang bahaya Narkoba, Miras, dan HIV-AIDS, melalui pendekatan sebaya (anak muda-red). “Setiap bulannya kami menargetkan sepuluh kali penjangkauan. Untuk sekolah dan lingkungan Gereja serta Mesjid biasanya kami lebih mudah direspon.

Hambatannya jika kami melakukan penjangkauan ke komunitas anak muda atau lingkungan perguruan tinggi informasi yang kami sampaikan biasanya kurang mendapat tanggapan serius, padahal mereka ini termasuk kelompok yang beresiko tinggi,” katanya. Disamping Penjangkauan Agus dan teman-temannya di komunitas Muda Berdaya Papua juga membantu program rehabilitasi para pecandu narkoba dan miras di Yayasan Permata Hati Kita Papua. “Sayangi dirimu, sayangi dan tolong orang lain, serta jauhi Miras dan Narkoba!!!,” tegasnya. Setuju Bung. (R3)



ESTHER SANGGENAFA
Yayasan Persekutuan Penginjilan Masirey (YPPM) adalah sebuah yayasan Kristen yang didirikan tahun 1982 di Jayapura, Papua. Pada awal pembentukannya, yayasan ini hanya bergerak di bidang pekabaran Injil ke daerah-daerah yang belum mengenal Injil, khususnya menangani suku-suku terasing atau kampung-kampung yang belum mengenal pemerintah dan masyarakat lain yang hidupnya semi nomaden (berpindah-pindah) di Papua. Seiring berjalannya waktu, yayasan in tak hanya melayani dengan suku-suku tersebut, tetapi sudah merambah ke penanganan bidang lain, antara lain pembinaan anak-anak jalanan, perawatan orang-orang penderita HIV/AIDS, dan bimbingan terhadap anak-anak yang kena narkoba. Yang membedakan YPPM dengan LSM lain adalah Visi dan Misinya yang senantiasa bernafaskan injil. “Kira-kira demikian sekilas sejarah YPPM,” ungkap Pdt Esther Wanda.

Wanita bersahaja ini adalah direktur YPPM. Wanita berumur 42 tahun ini sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya demi masa depan anak anak jalanan yang terlantar. “Kami melakukan koordinasi dan kerjasama dengan KPA dan HCPI sejak tahun 2005 untuk ikut terlibat dalam penanggulangan HIV-AIDS di tanah Papua, karena bagaimanapun anak jalanan yang menjadi fokus kami merupakan salah satu kelompok yang beresiko terhadap bahaya narkoba, IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV-AIDS. Anak jalanan yang kami tangani senantiasa kami rangkul melalui mental dan rohani agar dapat menemukan jati dirinya. Dari 48 anak binaan kami 12 diantaranya terjangkit IMS dan dua diantaranya terinfeksi HIV-AIDS. Melalui pembinaan diantara mereka ada yang sudah menjadi petugas lapangan, memberdayakan mereka sesuai dengan minat dan bakat, memberikan keterampilan, dan menjadi mediator agar mereka bisa mandiri. Wilayah yang kami layani sekarang ini seperti Sarmi, Waropen, Kepulauan Yapen, Jayapura, dan kami juga telah mempunyai cabang di Jakarta.

Dalam kesehariannya Esther sering diperhadapkan pada tantangan seperti donatur untuk pendanaan berbagai program, dan susahnya menumbuhkan komitmen anak untuk berubah. “Ada yang kembali lagi seperti dulu,” katanya lagi. “Saya juga harus belajar sistim bagaimana merekrut staff,”. Bahkan Esther mengaku pernah merasa jenuh dengan kesibukannya. “Saya bahkan pernah mengusir mereka (anak binaaanya-red) dan menyuruh mereka mencari LSM lain, walaupun akhirnya saya juga menyesalinya,” kenangnya. Namun hal itu bukan menjadi halangan. Esther sudah berkomitment untuk menyelematkan Papua dari jeratan HIV-AIDS. “Saya tidak pernah terobsesi untuk menjadi seorang pendeta hebat, tapi saya mau Papua bebas virus HIV-AIDS!. Saya bermimpi suatu saat punya klinik khusus untuk menolong anak jalanan,” kata lulusan Sekolah Tinggi Theologia Malang, Jatim ini Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang anak binaannya, Semuel Jerry. “Ibu adalah figur orangtua yang sangat perhatian terhadap kami. Beliau selalu menegur kami secara halus. Ia menerima anak-anak yang telah diabaikan oleh orang kandung. Kami sudah menganggapnya sebagai orangtua sendiri,” kata Semuel.
Sebuah pengalaman lucu yang tak terlupakan Esther ketika ia harus dijemput paksa oleh aparat karena anak binaanya tertangkap mencopet dompet orang. “Ketika mereka disuruh menyebut nama orang tuanya, mereka menyebut nama saya, jadi terpaksa saya menjadikan diri saya sebagai jaminan untuk membebaskan mereka,” ungkapnya tersenyum.

Suatu waktu ia juga sering mendapati anak-anak tersebut mencuri di toko, dan dengan terpaksa ia harus mengejar mereka untuk menyuruhnya megembalikan barang tersebut, dan segudang pengalaman lainnya. “Tapi tidak apa ini semua adalah panggilan dan komitmen bagi generasi Papua yang bebas Virus,”. (R3)



CONSTANT KARMA
“Kalau kita tidak bekerja keras sehingga HIV-AIDS menjadi bencana social di Papua, maka kita sangat bersalah, karena kita sudah belajar dari pengalaman dari negara lain, kita punya banyak ahli, punya informasi, punya LSM, punya fasilitas, punya Perguruan Tinggi, punya waktu dan kesempatan, kita punya lembaga eksekutif dan legislatif juga orang Papua, dan kita punya Otsus”

Bersemangat, dan ramah adalah kesan pertama yang diingat dari sosok Constan Karma. Latar belakangnya sebagai seorang dokter hewan plus ketulusannya untuk mengabadikan diri demi kemanusiaan membuatnya dipercaya memimpin Komisi Penanggulangan HIV-AIDS Papua. Bahkan tugas berat yang dilakoninya dari tahun 2002 tersebut dikerjakan tanpa imbalan. “Ini semua semata-mata demi kemanusiaan” katanya tersenyum.

Ispirasi
Menurut Karma awal keterlibatannya di KPA, berawal dari sebuah pengalaman tak terlupakan ketika pada November tahun 2001 lalu Karma diajak untuk melihat kondisi epidemic HIV-AIDS di Uganda. “Waktu itu saya masih sangat buta dengan masalah ini (HIV-AIDS –red). Jadi waktu itu saya hanya ikut ajakan saja,” katanya. Menurut Karma pada awalnya korban HIV-AIDS di Uganda divonis sebagai pendosa oleh kalangan religius, namun lama kelamaan orang-orang dari kalangan religius tersebut mulai terinfeksi HIV-AIDS. Disana Karma dan teman-teman, diajak mengunjungi LSM yang menangani masalah HIV-AIDS, shelter penampungan ODHA, Angka kematian akibat HIV-AIDS disana begitu tinggi akibat dari pelayanan kesehatan yang tidak memadai serta perilaku beresiko penduduknya sendiri. Bahkan peti mayat sangat banyak dijual di pinggir jalan. Salah satu fenomena yaitu banyaknya burung nazar (burung bangkai) yang beterbangan di atas udara di tengah kota Kampala (ibukota Uganda). Hal ini mengisyaratkan bahwa di daerah tersebut ada banyak kematian. “Pada waktu itu HIV-AIDS sudah menjadi bencana nasional di Uganda. Tidak ada hari tanpa ibadah perkabungan, dan tidak ada keluarga yang anggotanya luput dari HIV-AIDS,” ungkapnya. Pengalaman mengerikan yang disaksikan di sana membuatnya tersentak. “Saya tidak bisa membayangkan kalau hal itu jika terjadi di tanah kelahiran saya Papua,” kenangnya.

Satu hal yang membuatnya salut dengan kesadaran penduduk Uganda untuk memeriksakan diri ke VCT, serta perbincangan bagaimana menangani HIV-AIDS, di semua kalangan masyarakat. “Per tahunnya ada sekitar 500 ribu hingga 600 ribu warga Uganda yang sukarela mejalani tes HIV-AIDS,” ungkapnya. Yang membuat Karma prihatin adalah anggapan dari kalangan agama di Uganda bahwa orang yang terinfeksi HIV-AIDS itu merupakan pendosa, dan kalau ia bersina berarti ia juga sebagai pembunuh karena telah menularkan virus HIV-AIDS.

Pengabdian
Sekembalinya dari Uganda bayang-bayang penglihatan miris tersebut begitu terpatri kuat dalam benaknya. Ia kemudian berkomitmen untuk menjaga Papua agar terhindar dari bencana social (baca : HIV-AIDS) seperti yang terjadi di Uganda. Karma kemudian mendapat SK Gubernur Drs. JP. Salossa untuk menangani masalah HIV-AIDS di Papua. Sebuah lompatan besar dilakukan Karma pada tahun adalah aktif mengkampanyekan kondom sebagai bagian dari pencegahan HIV-AIDS. “Waktu itu saya mendapat tentangan dari berbagai kalangan, terutama kalangan agama, tetapi saya terus maju, karena ini menyangkut kelangsungan hidup umat manusia,“ tegasnya

Untuk lebih mensosialisasikan pengetahuan masyarakat terhadap HIV-AIDS, Karma berupaya melakukan berbagai macam hal, seperti menerjemahkan buku yang dikarang oleh Rev. Gideon Byamugisha ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang di beri judul ‘Memecah Kebisuan HIV-AIDS di Afrika’ ini memberi contoh bagaimana institusi masyarakat membicarakan isu-isu seksual kepada masyarakat. Selain itu ia juga menerbitkan buku tentang pengetahuan dasar tentang HIV-AIDS bagi kalangan anak sekolah. “Buku tersebut sudah saya serahkan ke Dinas P dan P, tetapi sampai sekarang saya tidak melihat peredaran buku tersebut di sekolah-sekolah. Karma juga telah mengikuti berbagai seminar HIV-AIDS seperti Australian Society Of HIV Medicine tahun 2007 lalu di Australia, dan International AIDS Society ke 12 yang dilaksanakan oleh WHO di Mexico tahun 2008 lalu.

Constan Karma begitu prihatin dengan angka HIV-AIDS di Papua yang jumlahnya semakin meningkat. Dalam sebuah kesempatan Karma mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ‘Kalau kita tidak bekerja keras sehingga HIV-AIDS menjadi bencana social di Papua, maka kita sangat bersalah, karena kita sudah belajar dari pengalaman dari negara lain, kita punya banyak ahli, punya informasi, punya LSM, punya fasilitas, punya Perguruan Tinggi, punya waktu dan kesempatan, kita punya lembaga eksekutif dan legislative juga orang Papua, dan kita punya Otsus’.
Walaupun menghadapi berbagai tantangan seoerti pendanaan, maupun dari kalangan tertentu namun Karma sudah bertekad bulat untuk membebaskan tanah kelahirannya Papua dari HIV-AIDS. “Sekali lagi ini adalah demi nama kemanusiaan,” tegasnya. (R3)




VENERANDA KIRIHIO

Pengabdiannya terhadap kemanusiaan tidak perlu diragukan lagi. Dana terbatas tidak menjadi halangan untuk bekerja. Bahkan dengan cucuran air mata.

Menurut Veneranda Kirihio keterlibatan di Yayasan Harapan Ibu (YHI) Papua berawal dari keprihatinannya terhadap banyaknya anak-anak jalanan Papua yang terlantar, ia kemudian berkomitment untuk menyelamatkan masa depan mereka. “Tahun 2004, waktu itu saya masih bekerja sebagai pedagang di kawasan ruko, Jayapura. Pada malam hari saya melihat begitu banyak anak perempuan Papua, yang berkeliaran bahkan ada yang menginap di sana. Kasihan tidak ada yang memperhatikan mereka,” ungkapnya. Beberapa waktu kemudian ia berkenalan dengan staf YHI, dan tertarik untuk bergabung dengan mereka.

“Saya melihat apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka menyampaikan informasi dan memeriksa kesehatan. Hati nurani saya seperti terpanggil untuk bergabung”. Pada awal keterlibatannya ia sebagai seorang petugas lapangan, yang melakukan penjangkauan ke beberapa daerah di kota dan kabupaten Jayapura. Ketekunan dan keuletannya dalam bekerja membuatnya diangkat menjadi koordinator lapangan pada tahun 2006. Awal tahun 2007 ia menduduki posisi program manager, dan melihat ketekunan dan dedikasinya yang begitu tinggi, akhirnya pada Agustus tahun 2008 drs. David Wambrauw mempercayakan dirinya memegang tongkat kepemimpinan YHI. David Wambraw sendiri merupakan pendiri dari Yayasan Harapan Ibu Papua.

“YHI ini asalnya dari Pusat Studi Kependudukan (PSK) Universitas Cenderawasih, yang didirikan oleh David Wambraw untuk menjangkau pekerja seks di kota Jayapura, dan mendampingi dan memberikan informasi HIV-AIDS,” ungkap Veneranda. Kegiatan YHI sendiri adalah melakukan penjangkauan bagi kelompok-kelompok sasaran atau dampingan, untuk memberikan informasi dasar HIV-AIDS, dan Infeksi Menular Seksual (IMS).
Hingga kini kelompok dampingan YHI bukan hanya menjangkau PSK jalanan, tetapi juga pramuria bar, panti pijat High Risk Man (HRM) misalnya pelanggan pramuria bar atau lokalisasi, TKBM, tukang Ojek, sekolah-sekolah, perguruan tinggi, bahkan komunitas lintas agama. “Kami juga bekerjasama dengan puskesmas untuk melakukan mobile clinic. Jadi di manapun diminta, kami siap,” tegasnya.

Selain itu YHI juga melakukan pembinaan terhadap para ODHA, dengan membentuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), yang beranggotakan 40 ODHA. Sayangnya yang aktif hanya sekitar 20 orang. “Anggota KDS positif kemudian disupport, diberi keterampilan, di samping informasi tentang pengetahuan akses pengobatan,” ungkap wanita kelahiran 26 Mei 1971 ini. YHI sendiri saat ini mendampingi ODHA sebanyak 94 orang (16 meninggal). “Wilayah jangkauan kami masih sebatas kota dan Kabupaten Jayapura.

Satu hal yang membuat Veneranda sedih ketika ia harus merelakan kepergian beberapa ODHA dampingannya untuk selama-lamanya. “Mereka ada yang dikubur tanpa peti mati, tanpa pakaian layak, tanpa salib sebagai nisannya. Kami hanya bisa membeli plastik untuk membungkus mayat. Ini seperti bumerang bagi kami di mana kami melakukan penjangkauan, sementara kami tidak mempunyai dana yang cukup untuk membiayai pemakaman mereka. Kami bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk membantu mereka, karena pihak keluarga sendiri biasanya sudah lepas tangan. Namun bagaimanapun kami sudah berkomitmen untuk terus bekerja dan mendampingi mereka,” katanya. (R3)




JHONS PATRICH KUSMAWAN

Latar belakangnya sebagai seorang tenaga perawat membuatnya nalurinya untuk mendampingi ODHA tergugah. “Tahun 2003 saya lulus D3 Keperawatan Uncen, saya sempat bekerja sebagai perawat di RS Dok II Jayapura. Pada saat itu stigma dan diskriminasi terhadap ODHA begitu kental. Hati nurani saya kemudian terpanggil untuk mendampingi dan melayani mereka. Saya ingin mereka punya sahabat yang bisa berada di dekat mereka di segala kondisi,” ungkap Jhon Patrich Kusmawan.
“Awalnya saya bergabung dengan kelompok dukungan Jayapura Support Group (JSG), sebelum akhirnya bergabung dengan YPKM tahun 2006. Sejak Agustus 2007 saya dipercayakan oleh YPKM sebagai penanggungjawab pondok Cristami, yang merupakan tempat penampungan bagi orang yang terinfeksi HIV-AIDS,” kata pria campuran Cina-Papua ini.
“Pada prinsipnya pendampingan yang kami lakukan bagaimana melibatkan orang yang terinfeksi langsung untuk mengatur diri mereka sendiri seperti mengepel, memasak yang sehat untuk gizi, sehingga dengan demikian akan berfungsi sebagai anti bodi. Kami juga memberdayakan ODHA yang sehat sebagai tenaga pendamping bagi temannya yang sakit. Menurut Jhons prinsip yang ditanamkan kepada ODHA bahwa pondok ini hanya sebagai penampungan sementara untuk perlindungan dan pemulihan kesehatan, advokasi, sebelum dikembalikan ke keluarganya. Mereka juga diajarkan bagaimana mereka menerima kenyataan bahwa mereka berstatus HIV, yang secara otomatis akan dibawanya seumur hidup. Program lain yang dilakukan adalah perubahan perilaku seperti menghentikan kebiasaan merokok, minum minuman keras, dan bagaimana menjaga kesehatan. “Yang saya syukuri bahwa teman-teman ODHA yang kami dampingi sebagian besar telah kami kembalikan ke pihak keluarga, dan kelurganya sendiri telah menerima, walaupun harus melalui berbagai penjelasan. Contohnya ketika kami mengembalikan seorang ODHA ke keluarganya di Keerom, semula pihak keluarga tidak mau menerimanya, tetapi setelah diberikan penjelasan, maka akhirnya keluarga menerimanya. Ini adalah sebuah tantangan, bagaimana meyakinkan pihak keluarga untuk bisa menerimanya kembali, dengan cara menyampaikan informasi dasar yang benar tentang HIV AIDS, terkait penularan, dan pencegahan,” ungkapnya.
Berbagai kerajinan seperti membuat bantal, pita peduli HIV-AIDS, berkebun, dan menjahit, pelayanan kesehatan di kampung-kampung. “Kami melibatkan mereka yang sudah testimoni sebagai tim untuk memberikan informasi tentang HIV-AIDS kepada masyarakat, dan hampir semuanya sudah mau membuka diri kepada masyarakat, karena sudah memiliki kepercayaan diri,”. Menurutnya hal ini juga akan membuka mata masyarakat umum, bahwa mereka (ODHA) bisa produktif, seperti layaknya orang yang sehat. Selain itu dengan membuka diri terhadap masyarakat, akan memutus mata rantai penularan HIV-AIDS. Contohnya jika seorang mantan pekerja seks komersial telah menyatakan dirinya terinfeksi, maka ia tidak mungkin kembali lagi ke dunianya. “Tapi bukan berarti ODHA yang membuka diri (testimoni) tidak menemui tantangan. Mereka bisa saja mendapat stigma dari masyarakat yang tidak mengetahui informasi tentang HIV-AIDS yang benar,”.
Pendampingan yang dilakukan pihak YPKM ada tiga yaitu di shelter (pondok), di rumah, dan rumah sakit. Bagi yang sudah sampai pada tahap AIDS, yang harus rutin minum ARV, pihak YPKM akan tetap melakukan kontrol kesehatannya, walaupun mereka sudah kembali ke keluarganya. “Jadi kami tetap melakukan kunjungan 2 hingga 3 kali sebulan. Jika tidak bisa ditangani di rumah, maka akan dirujuk ke rumah sakit, dan kami tetap melakukan pendampingan berupa dukungan spiritual dan moril,”. Jumlah pasien yang ditangani saat ini adalah sebanyak 14 orang. “Inilah tantangan yang harus dihadapi dalam melakukan pendampingan. Setiap ODHA, memiliki sifat dan karakter berbeda, apalagi latar belakang mereka yang berasal dari anak jalanan maupun PSK, terutama pada program perubahan perilaku,” ujar lelaki kelahiran 11 Maret 1980 ini.
Salah seorang ODHA Sipora Inhuar sangat bersyukur dengan pola pendampingan dari pondok Cristami. “Saya sudah satu tahun di sini (Shelter) Kami sangat bersyukur didampingi oleh pak Jhons beliau selalu mendampingi kami dengan informasi yang benar. Di sini kami dilatih berbagai keterampilan, kesaksian di gereja, dan pelayanan di kampung-kampung, bagi-bagi obat ke masyarakat. Sudah satu tahun lebih di shelter. Sipora Inhuar. Saya bersyukur cuma saya dengan suami yang terinfeksi, sementara anak saya tidak. Suami saya aktif sebagai sopir taxi,” kata Sipora. Tim Bersahaja

Kerajinan Kulit Kayu Kombo di Asei Pulau, Sentani




Sejak dahulu Papua memiliki seni dan budaya yang unik. Hal ini terbukti dengan berbagai kesenian dan kerajinan, yang telah dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional. Produk hasil kerajinan ini diakui sebagai sebuah karya seni tinggi. Bahkan beberapa produk kerajinan tangan dari pengrajin asal Papua yang telah menembus pasar internasional, seperti tifa, panah, tombak, ukiran, patung, noken, dan lain-lain.

Melihat potensi sumberdaya Papua tersebut, maka Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan PKM Provinsi Papua, mencanangkan berbagai program pelatihan bagi kelompok-kelompok pengrajin bekerja sama dengan Direktorat Ekspor Produk Industri dan Pertambangan dan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan PKM Provinsi Papua mengadakan workshop yang diadakan di kampung Asei Pulau Kabupaten Jayapura tanggal 2 hingga 5 Mei lalu, dengan mendatangkan instruktur-instruktur berpengalaman. Tidak tanggung-tanggung pihak dinas terkait mendatangkan instruktur dari luar Papua. Bertindak sebagai instruktur Suparman dan Sri Suwarni dari Balai Kerajinan Batik Yogyakarta.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan PKM Provinsi Papua, Drs. Kaleb Worembai, MM pelatihan ini dilaksanakan melihat potensi dan minat masyarakat terhadap kerajinan tangan. “Hal ini kami lakukan dalam rangka pengembangan kreasi baru, dengan memanfaatkan bahan baku kulit kayu kombo mengingat selama ini hasil kerajinan mereka masih terpaku dengan kerajinan local, padahal mereka memiliki potensi dan keuletan yang bisa dikembangkan,” kata Kaleb.

Kegiatan workshop yang berlangsung selama empat hari ini diikuti oleh sekitar 38 orang yang terbagi dalam lima kelompok pengrajin. Menurut Kepala Kampung Asei pulau Marthen Ohee kegiatan ini hanya direncanakan akan diikuti oleh tiga puluh orang peserta. “Namun animo masyarakat begitu tinggi sehingga panitia terpaksa menerima mereka yang datang untuk ikut pelatihan,” ungkap Marthen.

Walaupun hanya berlangsung selama empat hari namun kegiatan ini mampu menghasilkan lebih dari dua puluhan jenis produk kresi baru, seperti tas, tempat lampu, sandal, bingkai foto, tempat tissue, dan lain-lain, dengan kualitas dan nilai jual yang cukup tinggi. “Kami memanfaatkan sumber daya yang ada yaitu kulit kayu kombo yang banyak dijumpai di kampung kami, yang ditopang dengan bakat seni dari masyarakat Asei Pulau. Sebelumnya Kulit kayu Kombo ini telah digunakan namun hanya untuk beberapa kerajinan seperti hiasan dinding,” ujarnya. Marthen juga menyatakan kebanggaanya dengan prestasi dari masyarakatnya tersebut. “saya sebagi kepala kampung sangat bangga dengan hasil kresi mereka, namun sangat disayangkan pelatihan ini hanya berlangsung selama empat hari, seharusnya bisa lebih lama lagi,” harapnya.

Sementara itu Kepala Sub Bidang Aneka Industri dan Kerajinan Iriana Trimurty Ryacudu dari Direktorat Perdagangan Luar negeri mengungkapkan bahwa ini adalah bagian dari program “One Village One Product” (satu daerah, satu produk) dari pihaknya. Ia juga menyatakan kekagumannya terhadap para pengrajin asal kampung Asei Pulau ini. “Mereka sudah memiliki kemampuan dasar dan sangat proaktif sehingga innstruktur tidak menemui kesulitan dan tinggal mengarahkan,” kata Iriana. Pada kesempatan tersebut Iriana juga menyerahkan bantuan berupa tiga buah mesin jahit kepada masyarakat kampung Asei Pulau.

Ke depannya para pengrajin kampung Asei Pulau juga bisa meningkatkan produktivitas hasil karyanya melalui bantuan berupa mesin pengering, mesin tumbuk, dan mesin pres, dan dua buah bangunan sebagai sentra kerajinan, yang merupakan aspirasi masyarakat kepada menteri perdagangan Republik Indonesia Mari Elka Pangestu dalam kunjungannya bulan Januari tahun 2006 lalu, yang segera direspon oleh menteri pada tahun berikutnya.

Hingga saat ini bantuan tersebut belum berperan maksimal akibat dari kemampuan para pengrajin yang belum memahami secara jelas operasional dari peralatan tersebut. Untuk itu pihak dinas terkait akan segera menindaklanjuti keadaan tersebut. “Kami akan segera menyediakan pihak pendamping untuk mengoperasikan alat tersebut, sehingga kreasi dan produktivitas para pengrajin bisa ditingkatkan,” janji Kaleb.
Menurut Kaleb Worembai nantinya hasil kerajinan ini akan dipamerkan, sehingga bisa menembus pasar nasional maupun internasional, seperti hasil kerajinan sebelumnya. Kaleb juga mengungkapkan pelatihan ini bukan hanya sampai disini tetapi kedepannya akan dilakukan pelatihan dengan jangka waktu yang lebih lama, sehingga dampaknya lebih maksimal. ”Saya sangat kagum dengan prestasi mereka. Pelatihan ini hanya berjalan empat hari tetapi bisa menghasilkan puluhan jenis produk, jika waktunya lebih lama maka hasilnya lebih akan bertambah, seiring dengan peningkatan kualitas pengrajin sendiri,” kata Kaleb bangga.

Selain itu pihaknya juga telah mengadakan pembinaan serupa di daerah lain. “Kami sudah mengadakan kerjasama dengan pihak lain seperti Askes dan Telkom, untuk mengadakan pelatihan serupa,” ungkapnya kepada Foja. Saat ini Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan PKM Provinsi Papua juga sedang mengembangkan berbagai kegiatan usaha kecil masyarakat Papua seperti industri kulit buaya di merauke, pembuatan batako di Boven Digul, peternakan lebah madu, dan industri pengolahan kopi di Wamena, dan lain-lain, sebagai bagian dari program Rencana Strategi Pembangunan Kampung (RESPEK). “Kami dari dinas terkait akan terus mendorong usaha kecil dan menengah baik lewat fasilitas sarana, pelatihan, maupun permodalan. Dengan bertumbuhnya sentra-sentra usaha kerajinan seperti ini diharapkan akan meningkatkan taraf hidup, dan perekonomian rakyat Papua,” ujarnya. (R3)

Narkoba: Jalan Lain Menuju Koma


Memasuki areal Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Narkotika Jayapura suasana tampak lengang, yang tampak hanya ada beberapa mobil dan motor terpakir di halamannya. Di salah satu sudut tembok tampak gambar daun ganja dalam lingkaran dengan strip merah. Di bawahnya terdapat tulisan “stop narkoba”. Setelah melapor di pos pejagaan depan, dengan menjelaskan maksud kedatangan, akhirnya Foja diijinkan masuk.

Memasuki pintu utama, suasana di ruang tunggu besuk tampak ramai oleh beberapa wanita muda, yang belakangan diketahui ternyata napi yang ditangkap di sebuah bar, beberapa waktu lalu di kota Jayapura. Mereka sedang bersenda gurau satu dengan lainnya, dibawah pengawasan beberapa orang sipir Lapas. Setelah melakukan registrasi dengan petugas Foja pun diijinkan masuk menemui Kepala Lapas.
Menurut kalapas Y.Waskito BC.IP,SH,MH,MSi, saat ini terdapat 78 narapidana yang dibina di lapas ini. “Angka ini sewaktu waktu bisa berubah. Ada napi yang masuk dan ada yang bebas,” kata Waskito.

Menurut Waskito ada perbedaan mendasar antara lembaga pemayarakatan narkoba dengan lembaga pemasyarakatan lainnya. “Yang diterapkan di sini adalah sistem pembinaan mental para narapidana untuk disiapkan kembali kelingkungan masyarakat.
Lembaga pemasyarakatan membina mental napi untuk kembali ke masyarakat. Jadi lembaga ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat Papua yang terjebak dalam penggunaan obat terlarang,” katanya.
Menurut data yang diperoleh di Lapas ini terdapat 70 napi laki laki, dan sebanyak 8 napi perempuan. Untuk kelompok umur diklasifikasikan atas dua bagian yaitu umur 18 tahun ke bawah sebanyak 4 orang napi, yang terdiri atas 3 laki laki dan 1 perempuan. Sementara untuk kelompok umur 18 tahun ke atas sebanyak 74 orang sebanyak 67 laki-laki dan 7 orang perempuan . Dari semua Napi yang di bina berasal dari berbagai wilayah seperti Kota Jayapura sebanyak 68 orang, Kabupaten Keerom 1 orang, pelintas batas yang merupakan warga negara tetangga Papua Nugini sebanyak 11 orang namun kini tinggal 10 orang, karena salah seorang diantaranya berhasil melarikan lari beberapa waktu lalu.

Menurut data setiap tahunnya jumlah tahanan di lapas ini mengalami peningkatan dari segi jumlah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan jumlah pengguna narkoba di wilayah Papua. Bahkan data terakhir menunjukkan bahwa penggunaan narkoba tidak hanya dari kalangan pria tetapi juga kaum wanita, bahkan sudah menyentuh kalangan remaja. Tercatat di tahun 2004, jumlah tahanan sebanyak 19 orang, tahun 2005 sebanyak 19 orang napi, tahun 2006 sebanyak 14 orang napi 2007 meningkat tajam sebanyak 49 orang napi, tahun 2008 sebanyak 43 orang napi dan sampai dengan bulan Mei tahun 2009 jumlah narapidana sebanyak 78 orang.
Perhatian bagi penghuni lapas ditempuh melalui beberapa pendekatan seperti dari segi religius melalui tokoh gereja, terutama pada hari raya besar keagamaan sementara bagi yang muslim menurut Waskito belum mendapat perhatian dari lingkungan atau lembaga keagamaan setempat. Perhatian juga ditunjukkan dengan pengembangan kretifitas napi melalui berbagai kegiatan seperti kerajinan tangan, membuat bingkai foto, tempat tissue, hiasan bunga, bercocok tanam, beternak ikan, dan pelatihan computer.

“Beberapa LSM juga menunjukkan perhatian serius seperti YPPM, dan YAKITA yang secara rutin memberikan bimbingan konseling bagi para napi,” kata Waskito.
Waskito sangat menyayangkan masih kurangnya perhatian pemerintah terutama fasilitas Lapas tersebut. “ Napi yang dibina sebagian besar dari kawula muda yang akrab dengan kreatifitas sehingga seharusnya lapas ini dilengkapi dengan sarana olahraga dan alat musik sebagai wahana penyaluran bakat,” imbuhnya.

Menurut salah seorang tenaga medis di lapas ini sampai sekarang belum ada napi yang terkait dengan HIV-AIDS. Penyakit yang diderita banyak diderita seperti TB Paru, yang merupakan pengaruh langsung dari penggunaan obat terlarang seperti ganja, serta penyakit infeksi menular.

Menurut Hs (samaran), salah seorang Napi yang berhasil ditemui, Ia telah menempati hotel prodeo ini sejak Desember 2007. “Saya dikenakan hukuman penjara satu tahun lima bulan, dengan status pemakai sekaligus pengedar,” kata Hs. Menurut Hs, ia menggunakan Narkoba jenis sabu-sabu sejak tahun 1997. “Waktu itu saya masih kuliah di Makassar. Awalnya saya hanya mau mencoba rasanya bagaimana. Saya menggunakan sabu-sabu untuk menambah kepercayaan diri, serta menambah tenaga. Saya tidak pernah tahu bahwa hal yang saya rasakan setelah mengkonsumsi sabu sabu itu hanya ilusi belaka,” katanya. Menurut Hs, dampak dari penggunaan sabu itu sangat merusak. “Kita tidak akan merasa ngantuk walaupun tidak tidur sampai berhari-hari. Akibatnya berdampak pada kondisi tubuh yang lemah, dan kurus. Selain itu efek psikologis dari penggunaan narkoba seperti perasaan gelisah, sensitive, cepat marah, serta pelupa.

Ketergantungan terhadap barang ini akan memaksa kita untuk mendapatkan barang haram itu dengan segala cara, “ ungkapnya.
Hs juga sangat berterima kasih dengan bimbingan dari para sipir di lembaga ini yang membuatnya sadar akan kekeliruannya. “Di sini kami memiliki banyak kesibukan sehingga kami bisa membekali diri untuk terjun kemasyarkat umum,” katanya.
Hs menghimbau para remaja, agar lebih fokus terhadap kegiatan yang positif. “ Pergaulan yang salah adalah awal keterlibatan remaja dengan penggunaan obat terlarang. Anda jangan pernah mencoba, cukup anda tahu. Tanpa narkoba hidup ini bisa indah dan berarti,” himbau Hs. Setelah berbincang-bincang cukup lama kami pun berpamitan pulang.

Di luar kami bertemu dengan seorang ibu. Dia bercerita kalau ia sedang menjenguk anaknya yang sudah satu bulan lebih menghuni hotel pordeo tersebut. “Saya tinggal di Kota Jayapura. Saya ke sini tiga kali dalam seminggu besuk anak saya. Bapaknya sudah tidak peduli lagi,” ungkapnya. Menurut ibu yang menolak disebutkan namanya itu ia tidak pernah tahu pergaulan anaknya hingga suatu hari ia didatangi oleh pihak kepolisian bahwa anaknya ditahan di kantor polisi. “Dia dan teman-temannya tertangkap sedang pesta ganja,” katanya tak kuasa menitikkan air mata.
***

Menurut Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSUJ) Abepura Dr. Samo Adi, Sp KJ sampai saat ini RSUJ Abepura belum memiliki bangsal khusus untuk para pengguna narkoba, namun dari ke 36 pasien rumah sakit yang ditangani hingga saat ini memiliki latar belakang sebagai pengguna Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif (NAPZA). Yang dimaksud dengan nakotika yaitu obat-obatan yang bisa mengurangi rasa sakit seperti petidin. Psikotropika merupakan obat yang dapat mempengaruhi psikologi manusia, seperti leksotan dan ecstasy. Sementara yang dimaksud dengan zat aditif merupakan zat yang dapat mengarahkan seseorang kepada rasa ketergantungan misalnya alcohol.
Pasien yang ditangani di RSUJ Abepura, rata-rata berada pada kelompok umur 30 sampai 60 tahun, dan beberapa orang dari kelompok remaja. “Diantara mereka adalah rujukan dari keluarga, kepolisian, lapas narkoba, dan titipan dari kejaksaan,” kata dr Samo. Namun yang mengejutkan bahwa hampir setengah dari pasien berasal dari kaum perempuan.

Dampak penggunaan NAPZA
Ada dua dampak dari penggunaan napza yaitu efek yang diharapkan dengan tidak diharapkan. Dampak yang diharapkan terdiri atas tiga bagian yaitu depresan, seperti perasaan tidak mengantuk contohnya heroin, morfin, stimulan seperti meningkatkan aktivitas sistim syaraf contohnya seperti sabu-sabu dan kokain, amphetamine dan yang ketiga adalah efek halusinogen yaitu mengakibatkan penderita mengalami halusinasi baik melalui penglihatan, pendengaran contohnya seperti penggunaan ganja, zat inhalan, dan ecstasy. Dampak yang tidak diharapkan seperti apatis dimana pemakai akan mengalami gangguan pertimbangan dan konsentrasi, gangguan perasaan seperti perasaan cemas, termasuk gangguan sex seperti penurunan libido, dan penurunan perhatian, penurunan denyut jantung.

Cara penanganan
Menurut dr. Samo Adi ada anggapan keliru kalau ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang tidak dapat dihentikan. Penanganan dapat dilakukan melalui program kesehatan jiwa, yang dilakukan secara bertahap, yaitu detoksifikasi, yaitu proses menghilangkan racun dalam tubuh, dan psikotherapi,yang meliputi terapi perilaku kognitif (pikiran), dimana pasien diyakinkan bahwa tanpa memakai Napza mereka bisa hidup normal, serta proses rehabilitasi, yaitu proses mengembalikan kondisi pasien seperti sebelum menggunakan Napza, yang ditujukan untuk stabilisasi mental dan emosional.

Selain penanganan secara medis, beberapa LSM juga memberikan perhatiannya melalui bimbingan konseling.
Dalam kaitannya dengan HIV-AIDS, dr. Samo mengakui hingga saat ini pihak RSUJ belum mempunyai VCT (Volountry Conceling Testing). “Hingga kini kami belum menemukan kasus pasien yang terinfeksi HIV-AIDS,” kata dr. Samo. (R3)

Senin, 30 November 2009

Pengabdian Sang Security


Pahlawan tanpa tanda jasa selama ini melekat erat pada para tenaga pendidik, namun bukan kritikan bila pengabdian mereka masih mendapat imbalan jasa yang cukup setimpal atas jasa-jasa mereka. Berbeda dengan nasib anggota Pertahanan Sipil (HANSIP), hanya dengan imbalan seragam hijau-hijau, sepatu hitam, dan tongkat yang menjadi kebanggaannya, mereka dengan sukarela menjalankan tugasnya membantu aparat keamanan menjaga ketertiban masyarakat. Berikut ini kisah Hiron Bamunti, salah seorang anggota Hansip asal Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Tempaan alam yang keras tampak tergambar pada raut muka yang keriput dan tampak lebih tua dari usia sesungguhnya dari pria kelahiran Oksibil 40 tahun silam ini. Menjalani masa kecilnya, sama seperti anak-anak pegunungan Papua lainnya, dengan kondisi alam yang keras, Hiron tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan tabah serta tahan terhadap semua kesulitan hidup yang menimpanya. Perannya sebagai Hansip dimulai sejak tahun 1975, pada saat itu Hiron masih berumur tujuh belas tahun.Tugasnya sebagai Hansip dimulai dengan ikut andil dalam membantu pemerintah membuka kampung-kampung dan distrik-distrik baru di daerah Pegunungan Bintang. Bukan pekerjaan mudah melaksanakan tugas ini karena ia mesti berjalan kaki menempuh jarak yang jauh dengan kondisi alam yang terjal dan berbukit bersama petugas lainnya.
Sebuah pengalaman tidak terlupakan baginya pada tahun 1989, ketika ia dan beberapa temannya berangkat ke wilayah negara tetangga Papua Nugini (PNG) untuk membujuk ratusan penduduk yang menyeberang kesana akibat kesulitan perekonomian serta ketakutan akibat tuduhan sebagai anggota GPK. “Waktu itu daerah kami menjadi daerah operasi militer, sehingga banyak penduduk yang melarikan diri kesana (Papua Nugini-red), karena takut,” kenang Hiron. Di sana Hiron dan teman-temannya mesti berjuang keras meyakinkan mereka untuk pulang ke kampung halamannya. “Setelah saya dan teman teman menjelaskan bahwa mereka telah keliru, karena lari tidak menyelesaikan masalah dan tidak perlu takut dengan tentara, akhirnya mereka mau kembali ke kampung halamannya,” ujar Hiron. Menurut Hiron, Ia dan teman-temannya tidak pernah mendapat maupun mengharap penghargaan atas jasa-jasa mereka tersebut. “Kami hanya membantu dengan ikhlas, dan tidak berharap diberi imbalan jasa, atau penghargaan. Penghargaan yang paling indah itu asalnya dari Tuhan,” kata pria berpostur kecil ini.
Tahun 2003, setelah pemekaran Kabupaten Pegunungan Bintang dari Kabupaten Puncak Jaya, akhirnya Hiron ditugaskan sebagai penjaga keamanan di kantor DPRD, Kabupaten Pegunungan Bintang, dengan gaji sebesar Rp1.500.000. Menurutnya gaji sebesar itu tidak mencukupi untuk ukuran Oksibil saat itu. (Sebagai perbandingan saat ini harga semen di Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai Rp1.200.000/sak, sementara harga bensin sebesar Rp40.000/liter).
Lima tahun bertugas di Kantor DPRD, akhirnya pada awal tahun 2009 ia kemudian di tugaskan untuk menjaga keamanan di kantor Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang. Keikhlasan, dan pengabdian, serta loyalitas diperlihatkan Hiron dan kawan–kawannya yang lain seperti Paulus Abintamo, Anton Abintamo, Leo Mimin, serta Salsan anjing setianya, mengamankan aula kantor Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, lokasi dimana berlangsungnya Rakerda dan Musrenbang daerah. Setiap pagi sebelum pukul 08.00 WIT, Hiron harus memimpin rekan-rekannya membersihkan halaman aula, selanjutnya mereka mesti stanby di pos masing-masing, di setiap sudut kantor Bupati selama kegiatan berlangsung sampai berakhir pada pukul 20.00 WIT.
Tidak hanya sampai disitu ketulusan yang di tunjukkan Hiron. Bersama pemilik tanah adat Betkum Uropdana lainnya, mereka dengan sukarela menyerahkan tanah adat tersebut untuk dijadikan arel pembangunan kantor bupati Kabupaten Pegunungan Bintang.

Berjuang untuk keluarga
Di sela himpitan ekonomi Hiron juga tidak tidak pernah menyerah pada keadaan. Tekadnya untuk memperbaiki nasib keluarganya ditunjukkan dengan perjuangannya menyekolahkan anaknya yang berjumlah enam orang. Hanya dengan bekerja sebagai petani sayur-sayuran, jagung dan ubi-ubian, Hiron bersama sang istri, Basylia Kasibmabin mampu menyekolahkan semua anaknya, tanpa bantuan orang lain. Lewat perjuangan kerasnya, saat ini salah seorang anaknya telah bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil pada dinas pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang. Saat ini Hiron dan Basylia masih harus menanggung beban biaya kuliah dua orang anaknya. Tidak tanggung-tanggung, salah seorang anaknya saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester lima salah satu perguruan tinggi di Jakarta, sementara seorang lagi duduk dibangku kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Jayapura. Selain itu salah seorang anaknya saat ini masih duduk dibangku sekolah SMU di Jayapura, sementara kedua anak lainnya duduk di bangku SD. “Semua ini terjadi karena pertolongan Tuhan. Saya sangat berharap salah seorang anak saya bisa menjadi seorang polisi, karena bagaimanapun saya sudah bertekad untuk menjadikan anak saya lebih baik dari saya, dan saya tidak akan menuntut balas atas semuanya” kata pria yang dulunya bercita-cita jadi polisi ini. Yepmum, Telepe, Asbe, Labmum, Jelako.(R3).

Potret Kemiskinan di Negeri Otonomi Khusus


Deretan rumah mewah pejabat disepanjang jalan menuju kawasan angkasa Jayapura, tak ubahnya seperti topeng yang menutupi wajah kemiskinan di bagian belakangnya. Jika kita menyusuri jalan Sabang Merauke, kita akan mendapati sebuah perkampungan yang disebut kampung Wamena. Sebuah ironi tampak jelas terpampang. Beberapa rumah papan yang sudah dimakan rayap, menandakan status social penghuninya. Namun gelak tawa sekumpulan anak kecil yang sedang bermain sepertinya menghapus semua kesedihan dan penderitaan penghuni kampung ini.
Fanny Asso misalnya bocah manis ini tampak selalu ceria berkejar-kejaran dengan teman-teman sepermainannya. Anak kecil berkulit putih dengan rambut keriting pirang menandakan hasil perkawinan campuran ini merupakan anak dari Paul Asso. Umurnya yang sudah tujuh tahun seharusnya mengantarkannya duduk di bangku sekolah dasar, namun kenyataannya hingga sekarang Fanny harus rela menghabiskan hari-harinya bermain di halaman rumahnya. “Saya mau sekolah tapi kata bapak tidak punya uang untuk biaya,” katanya polos.
Paul dan anaknya Fanny, menempati rumah berpetak tiga. Mereka sendiri menempati bagian tengahnya, sementara dua petak lainnya ditempati oleh kerabatnya. Ruang tamunya tampak rapi. Sebuah meja kayu panjang tanpa taplak, hanya dihiasi oleh sebuah vas bunga dan setumpuk buku rohani serta sebuah Alkitab. Sebuah televisi tua merek sony empet belas inch menjadi satu-satunya penghibur duka lara Paul dan Fanny, sementara jam dinding Seiko yang jarumnya tidak bergerak pertanda mati, sepertinya menjadi saksi bisu penderitaan keluarga ini.
Menurut Paul Asso, ibu Fanny yang asal Jawa, telah meninggal dunia beberapa waktu lalu akibat tumor ganas yang tidak pernah mendapat pengobatan. Ia sendiri dalam keadaan sakit sakitan. “Saya kasihan melihat Fanny. Setiap pagi mukanya kelihatan sedih melihat anak-anak lainnya yang berangkat ke sekolah. “Saya hanya mampu menyekolahkannya hingga Taman Kanak-Kanak,” ujar pria berbadan kurus ini.
“Saya lahir di Wamena, dan sekolah hingga kelas dua SMP, namun karena keterbatasan biaya, akhirnya saya berhenti dan berniat mencari pekerjaan. Kesulitan hidup di Wamena membuat saya berpikir untuk merantau ke Jayapura. Saya datang kesini (Jayapura-red) sejak tahun1980,” kata Paul memulai kisahnya. Di Jayapura Paul kemudian bekerja di rumah Komandan Kodim Danin Harianto. “Waktu itu saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Semuanya saya kerjakan mulai dari memasak, mencuci, menyetrika, hingga mengantar anak-anak ke sekolah. Saya bekerja disana tanpa imbalan, saya hanya berpikir yang penting saya bisa hidup,” kata pria kelahiran Wamena 1963 ini.
Setahun kemudian Paul memutuskan untuk bekerja sebagai cleaning service di depot Pertamina Dok IX, Jayapura. Di sini Paul bekerja selama kurang lebih empat belas tahun. Namun usia yang terus menggerogoti hidupnya menyebabkan ia harus berhenti. Oleh atasannya ia kemudian dipindahkan ke rumah dinas pimpinannya juga sebagai petugas kebersihan. Setelah bekerja selama satu tahun lebih satu persatu penyakit mulai menderanya. “Kata dokter saya menderita penyakit maag kronis, namun saya terpaksa tidak berobat karena tidak memiliki biaya, sementara ini saya belum menerima pesangon dari tempat kerja saya dulu. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan,“ katanya.
Hingga saat ini Paul hanya bisa berharap uluran tangan dari kerabat-kerabat terdekatnya. “Saya beruntung masih ada Alex Siep (kerabatnya-red) yang mau menolong kesusahan saya. Rumah yang kami tempati ini juga kami bangun dari hasil patungan dengan bapak Alex dan keluarga lainnya,” ungkap Paul. Kini Paul dan Fanny hanya bisa berharap perhatian dari pemerintah atau dermawan yang dapat membantu kesulitan ekonomi dan menyekolahkan Fanny demi masa depannya. Ataukah pendidikan gratis anak-anak Papua, yang digembor-gemborkan pemerintah mungkin hanya akan menjadi sebuah mimpi penghias tidurnya. (R3)

Hidup Tanpa Harapan


Jika kita berada di Jakarta fenomena perumahan kumuh dan tempat tinggal yang tidak layak huni bukan pemandangan langka. Namun jika hal itu terjadi di daerah yang diberi otonomi khusus seperti Papua, lalu sejauh mana peran dari otsus itu sendiri setelah berjalan hampir sembilan tahun. Bahkan hal itu bisa ditemui di tengah ibukota Provinsi Papua, Jayapura yang menjadi pusat pengelolaan dana otsus.
Pina May mungkin salah satu dari sekian banyak contoh kegagalan otonomi khusus, yang digadang-gadangkan mampu mewujudkan kesejahteraan orang Papua.
Ditemui Senin malam 15 Juni 2009 lalu di pondoknya yang terletak di sudut jembatan Hanyaan, jalan raya poros Hamadi-Entrop, suasana pondok mama Pina demikian ia biasa disapa tampak lengang, dan temaram. Tempat kediamannya yang berukuran kurang lebih tiga kali lima meter itu lebih layak disebut gubuk hanya diterangi oleh sebuah lampu lantera, dan ruang dalamnya, yang merupakan dapur sekaligus tempat tidur diterangi oleh pelita, yang terbuat dari kaleng buatan mama Pina sendiri. Lantai papan yang berderik dan beberapa tampak lepas dari posisinya karena tidak di paku, membuat kita mesti hati-hati melangkahkan kaki, jika tidak mau terperosok kedalam sungai. Tidak ada meja ataupun perabot lain di dalamnya. Menurutnya tanah tempat membangun gubugnya tersebut merupakan tanah adat suku Dawir. “Saya sudah mendapat ijin dari kepala suku, untuk tinggal disini,” ungkap mama Pina.
“Pondok ini saya buat sendiri, sekitar lima tahun lalu tanpa bantuan siapa-siapa,” katanya. Perempuan kelahiran Serui enam puluh tahun silam ini menceritakan bahwa suaminya Suradi yang asal Jawa merupakan seorang nakhoda kapal Navigasi Teluk Tanah Merah, milik dinas perhubungan provinsi Papua. Namun karena terserang penyakit, akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Pina dan seorang anak perempuannya. Kesulitan ekonomi yang mulai menghimpit, membuat Pina memutuskan menyerahkan anak semata wayangnya ke pihak neneknya di Jawa, untuk di pelihara. Jauhnya jarak yang memisahkan Pina dan anaknya menyebabkan putusnya hubungan komunikasi diantara mereka. Kabar terakhir menyebutkan bahwa anaknya tersebut telah berada di Swiss, karena menikah dengan orang setempat.
Kehilangan suami dan anaknya tidak membuat Pina hilang arah hidupnya. Berbekal semangat untuk bertahan hidup mama Pina berjuang mencari nafkah sebagai pencari kayu bakar, yang kemudian dijual di depan gubugnya. Setiap harinya mama Pina berangkat mencari kayu dengan mengayuh sampan mengarungi kali Hanyaan hingga muara bersama teman-teman lainnya, hingga muara Tobati. “Kami biasanya berangkat bersama teman-teman pukul 08.00 dan pulang ke rumah pukul satu siang,” ungkap wanita asal Serui ini. Setelah beristirahat mama Pina melanjutkan aktifitasnya untuk membelah kayu bakarnya untuk dikeringkan. Dari hasil menjual beberapa tumpuk kayu bakar mama Pina hanya bisa menghasilkan enam puluh ribu rupiah itu pun kalau laku terjual. “Terkadang satu harinya tidak ada yang laku, apalagi kalau lagi tanggal tua,’ ujarnya. Walaupun penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhannya, namun mama Pina tidak pernah mau meminta belas kasihan orang lain. Gaji pensiunan suaminya yang tidak pernah diterimanya tidak membuatnya sakit hati. Dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diprioritaskan bagi fakir miskin pun tidak diharapkannya. Bahkan dua orang saudara kandungnya yang telah menempati posisi strategis di pemerintahan, juga tidak menunjukkan perhatian kepadanya. “Saya tidak mau berharap pada orang lain bahkan kepada anak dan saudara-saudaraku Soleman dan Frans May,” tandasnya.
Di gubugnya tersebut Mama Pina hanya ditemani oleh tiga ekor anjing kesayangannya jena, ani dan asko. Ketiganya dengan setia menjaga gubug jika mama Pina keluar ataupun sedang tidur. “Saya tidak pernah takut tinggal sendirian di sini. Sering di depan ada orang mabuk namun mereka tidak pernah mengganggu saya,” kata Pina.
Penderitaan yang dialami mama Pina tidak membuatnya lupa akan Tuhan, sebaliknya ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa, dan beribadah setiap hari minggu di Gereja. “Saya selalu bersyakur dalam segala kekurangan saya, sehingga hati saya selalu gembira menjalani hidup,” ungkap wanita yang gemar menggunakan kalung salib ini. (R3)

Hapus Stigma


Persepsi pemerintah pusat dan militer terhadap masyarakat asli Papua
Menurut Neles Tebay Sejak Papua diserahkan Belanda kepada Indonesia orang Papua tidak diperlakukan sebagai orang Indonesia, tetapi dipandang sebagai musuh, lewat operasi-operasi militer yang dilaksanakan di Papua. Sehingga sejak awal sudah ada main set yang menempatkan orang Papua sebagai separatis, sehingga sejak 2 Mei orang Papua diperlakukan sebagai separatis atau musuh. Sejak itu juga berbagai operasi militer itu dilakukan dengan maksud memberantas musuh dan separatis. Jadi yang pertama harus dilakukan pemerintah pusat adalah mengubah pandangan tersebut. Pemerintah harus melihat orang papua sebagai orang Indonesia juga. Caranya orang papua harus diberi ruang untuk terlibat dalam pembangunan di Papua. Dimana kebijakan dilakukan di luar Papua tetapi pelaksanaannya dilakukan di Papua, sementara mereka tidak mengerti tentang kearifan lokal Papua. Berapa contoh ketidak adilan yang dialami oleh orang papua seperti
1. pengambilalihan hutan adat oleh perusahan perusahan kayu yang mendapat protes dari masyarakat adat Papua. Aksi protes tersebut langsung diterjemahkan sebagai aksi separatis. Jadi bagaimana kita bisa membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Papua jika setiap aspirasinya langsung dituding sebagai separatis.
2. Setelah adanya UU otsus justru terjadi penambahan pasukan di wilayah Papua, yang walaupun kita tidak mengetahui jumlahnya namun Indikatornya jelas seperti penambahan Korem, pembukaan Kodim baru seiring pemekaran kabupaten baru, yang secara otomatis diikuti oleh pembentukan Koramil-Koramil baru di setiap distrik. Indikator lainnya adalah penambahan jumlah personil di batalyon-batalyon infantri baru, pembukaan pos-pos pengamanan baru. Hal ini jelas membuktikan bahwa telah terjadi penambahan jumlah [pasukan di tanah Papua, karena tidak mungkin semuanya itu dibangun tanpa penambahan personil pasukan, dan yang kita lihat yang berseragam, belum lagi yang tidak berseragam.
3. Sikap arogansi militer terhadap orang asli Papua. ”Jika mereka hendak kesuatu tempat mereka akan diinterogasi dulu. Hendak kemana, dan tujuannya apa, jadi hal ini membuktikan bahwa mereka mendapat perlakuan diskriminatif sehingga ruang geraknya terbatas. Mereka sepertinya bukan orang Indonesia sehingga harus diinterogasi. Kami malah merasa lebih aman sebagai orang Indonesia justru di luar Papua,”. Pengalaman saya tahun 80-an jika kita jalan-jalan maka kita harus bawa KTP, karena tentara pasti tanya, karena jika tidak ada KTP berarti separatis, dan aturan itu hanya berlaku untuk orang Papua, sementara pendatang tidak.
4. Pada saat pemilu lalu banyak orang papua yang tidak terdaftar dalam DPT. Hal ini menunjukkan orang papua tidak dianggap sebagai orang Indonesia, karena yang melakukan pendataan adalah pemerintah sendiri.
”Saya baru menyusun daftar penembakan yang terjadi beberapa minggu terakhir. Sekarang ini Papua sepertinya dijadikan arena atau tempat latihan tembak”. Kemarin yang heboh itu di Timika karena korbannya orang asing, sementar jika yang korban itu orang Papua itu tidak dihargai sama sekali mungkin dianggap tidak bernilai,”
Jadi yang menyatakan orang Papua itu bukan orang Indonesia adalah pemerintah sendiri dan militer hal itu tercermin dari sikap dan tindakan mereka terhadap orang Papua asli. Nasionalisme orang Papua hanya diukur sejauh mana ia mengibarkan bendera merah putih. Sekalipun Ia mengibarkan bendera merah putih ia tetap diasumsikan sebagai separatis. Sebagai anggota dewan, pejabat pemerintahan, atau apapun tetap saja ada kecurigaan bahwa mereka itu separatis. Tidak ada cerita bahwa operasi militer dilakukan di Papua untuk mengejar orang non Papua yang tinggal di Papua. Sasarannya tetap orang asli Papua, sehingga dalil separatis selalu dijadikan alasan untuk membunuh orang Papua. Hal inilah yang menyebabkan biasa berkata ; jika kami tidak dipandang sebagai orang Indonesia maka biarkan kami mengurus diri sendiri”. Jadi dalam hal ini orang Papua hanya sebagai akibat, sementara penyebabnya adalah pemerintah sendiri.

Kegagalan Implementasi Otsus
Pada dasarnya UU otsus itu teorinya bagus, karena ada perlindungan, keberpihakan dan pemberdayaan, dan jika perdasus dan perdasi tidak bermuara kesini bararti harus diganti, dan ini adalah fungsi dari MRP, untuk mengawasi. Persoalannya adalah sejak awal pemerintah tidak menghendaki otsus. UU otsus dilakukan untuk meredam tuntutan rakyat Papua untuk merdeka sedang bergejolak bahkan gaungnya sampai ke dunia Internasional. ”Karena tidak ada niat baik pemerintah untuk menjalankan otsus, maka dalam setiap kebijakan di papua selalu bertentangan dengan UU otsus,” ujarnya. Hal itu terbukti ketika Presiden megawati menandatangani UU otsus tahun 2001 sedangkan pada januari 2003 meneluarkan inpres pemekaran 3 provinsi di Papua. Yang kedua menurut UU otsus MRP dibentuk setelah 6 bulan stelah lahirnya Otsus namun hal tersebut harus menunggu 4 tahun untuk pembentukan MRP. Yang ketiga presiden SBY mengeluarkan inpres percepatan pembangunan, dan hal ini tumpang tindih dengan UU otsus dan yang lebih parah lagi hal ini disetujui dan diterima oleh pemerintah provinsi, mungkin mereka mengira akan ada dana khusus untuk inpres seperti otsus. Pemekaran provinsi Otsus justru membawa kerancuan, karena dengan dengan demikian disana juga menuntut pembentukan MRP. Perlu ada pengadilan Ham, sehingga disana juga harus ada pengadilan HAM juga KKR, jika dibentuk apa dasar hukumnya demikian sebaliknya. Hal ini sengaja dilakukan pemerintah pusat. Kemudian UU otsus juga mnegisyaratkan bahwa orang Papua boleh memiliki bendera sebagi lambang jati diri. Perdasus yang harus dibuat gubernur jadi gubernur mana yang harus membuatnya. Jadi kebijakan pemerintah pusat tersebut cenderung menghambat pelaksanaan implementasi otsus. (R3)

Membentuk Karakter Dan Mental Lewat Olahraga Beladiri




Kushin Ryu ; “Jiwa yang besar disertai akal budi pekerti yang luhur dan memiliki ilmu yang tinggi dan percaya diri dapat membela diri dengan tangan kosong,”.

Sejarah KKI
Pendiri Kushin Ryu Karatedo adalah Kiyotada Sannosuke Ueshima di wilayah Hyogo (Kobe), di kota Akou, Jepang. Aliran perguruan KKI (Kushin Ryu M Karate-do Indonesia) lahir pertama kali di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1966. Organisasinya sendiri resmi berdiri setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 11 April 1967. Aliran Kushin Ryu di Indonesia diperkenalkan oleh Sensei Horyu Sinya Matsuzaki, yang kini menyandang gelar sebagai Presiden Kushin Ryu Se-Dunia. Aliran perguruan KKI (Kushin Ryu M Karate-do Indonesia) lahir pertama kali di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1966. Organisasinya sendiri resmi berdiri setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 11 April 1967. Aliran Kushin Ryu di Indonesia diperkenalkan oleh Sensei Horyu Sinya Matsuzaki, yang kini menyandang gelar sebagai Presiden Kushin Ryu Se-Dunia.

KKI Papua
KKI sendiri masuk ke Papua pada tahun 1967, yang diperkenalkan oleh anggota Detasmen Kavaleri Panser Cobra (Den Kav Ser Cobra), dengan pelatih Kopral Hermanto, Sersan Mudjabir, Sersan Mayor Sungkowo di kota Jayapura. Hingga saat ini KKI telah berkembang menjadi perguruan karate terbesar yang ada di Papua dan telah tersebar di hampir semua kabupaten dan Kota. Kepengurusan KKI untuk periode 2007/2011, dijabat oleh Alex Hasegem, pemegang Dan III Karate-Do, yang juga merupakan Wakil Gubernur Provinsi Papua, sementara Ketua Harian dipercayakan kepada Fannie Dimara (Dan II Karate-Do), yang juga anggota Komisi C DPRP Papua.
Menurut Fannie Dimara, hingga saat ini keanggotaan KKI Papua sudah mencapai lebih dari 1000 anggota. ”Fungsi dari Karate-Do itu sendiri adalah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menyadari bahwa daya potensi yang dimilikinya baik secara fisik, maupun spiritual, dapat dilatih melalui latihan yang tepat dan terarah, dengan tidak meninggalkan aspek-aspek penting dari Karate-Do, yaitu Karate Do sebagai seni beladiri, pembinaan mental dan fisik, sebagai sains, , dan olahraga pertandingan, dengan tujuan mengajarkan dan membentuk atlet sesuai tahapan dalam kurikulum untuk menciptakan atlet yang berkualitas, dan mempelajari teknik berkelahi, dalam keadaan mendesak,” kata Dimara. Pedoman Karate-Do KKI menrut Dimara yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, setia kepada bangsa dan tanah air Indonesia, bersifat jujur dan sportif, berjiwa tabah, berani, berjiwa suka menolong sesama, disiplin, dapat menguasai diri, bersifat ksatria dan sopan santun, dan setia kepada jiwa Karate-do.
Beberapa prestasi membanggakan yang pernah ditorehkan oleh KKI Papua seperti meloloskan enam atlet yang memperkuat tim karate Papua pada PON XVII Kalimantan Timur tahun 2008 lalu. Salah satunya Yolanda Asmuruf yang saat ini tercatat sebagai pemain Pelatnas sejak bulan Februari lalu di Kaltim untuk menghadapi Sea Games di laos Desember mendatang. Dalam bulan Juli lalu juga KKI Papua berhasil meloloskan 7 atletnya untuk mengikuti Seleknas, di Lampung, yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2009. Mereka diantaranya ; Adonia Wally (Kelas 48 Kg putri), Dian Yoku (dibawah 60 Kg putri), Vera Yoku (di atas 60 Kg putri), Yansen Ibo (di bawah 70 Kg putra), Jefry Pasaribu (di bawah 75 Kg putra), Charles W. (di bawah 66 Kg putra), dan Ryan Lukman (di bawah 55 Kg putra). ”Mereka adalah hasil seleksi daerah dari berbagai dojo di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom,” kata Dimara.
Di Kota Jayapura sendiri terdapat beberapa dojo KKI yang dilatih oleh para traineer handal seperti dojo BPD, dimana Alberth Pesulima (Dan IV Karate-Do) bertindak sebagai pelatih kepala didampingi oleh Lamuri Jumbo sebagai asisten pelatih (dan 3 Karate-Do). Menurut Alberth hingga saat ini anggota yang aktif di dojo BPD sebanyak 85 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok umur. Sementara itu dojo Uncen, Abepura bertindak sebagai pelatih kepala yaitu Zakarias Sogorom (Dan IV Karate-do), dan asisten pelatih Rustam Sattuan (Dan III Karate-Do). ” Saat ini anggota kami kurang lebih 100 orang, yang sebagin besar merupakan pelajar dan Mahasiswa,” kata Irwan Rahim yang juga pengurus dojo Uncen. Selain dojo terdapat juga ranting Karate-Do yang telah terbentuk di beberapa sekolah.
Kini dengan semangat untuk memasyarakatkan olahraga Karate, KKI Papua semakin gencar menggiatkan pembentukan cabang di setiap kabupaten. ”Kami sedang menggiatkan pembentukan dan pembinaan cabang di setiap Kabupaten, sehingga masyarakat semakin mengenal olahraga ini sebagai sarana pembinaan mental dan fisik, terutama sebagai wadah bagi generasi muda untuk berprestasi dan tidak melakukan aktivitas yang merugikan diri sendiri dan masyarakat luas. Jika mereka punya kegiatan dan prestasi, maka paling tidak ini akan berdampak positif terhadap masa depan dan karakter dalam hidup bermasyarakat,” kata Dimara. (R3)

Harapan Yang Tak Kunjung Tiba


Fisiknya mungkin tidak seperti orang lain namun tidak demikian dengan semangat hidupnya.
Sebuah rumah berdinding tripleks beratapkan seng berukuran tidak lebih dari empat kali enam meter yang terletak di jalan Ardipura 4 RW 5 sore itu tampak ramai. Seorang wanita tua tampak sedang mengayunkan kapak untuk membelah kayu bakar. Sesekali ia menyeka peluh yang membasahi mukanya yang sudah keriput. Seoarng wanita lain yang lebih muda sedang membersihkan halaman rumah dari sampah yang berserakan. Dua orang anak kecil sedang bermain dihalaman rumah yang tak lebih luas dari ukuran rumah itu. Kedatangan foja sendiri disambut oleh seorang lelaki dengan perawakan tegap namun bertumpu di kedua tongkat besinya karena kehilangan salah satu kakinya. Ia adalah Noach Yoas Mandobar (45), yang lebih akrab di sapa om Noach. “Itu ibu saya,” katanya menunjuk wanita yang sedang membelah kayu itu. “Dan yang itu istri saya dan kedua anak saya, yang seorang lagi sedang ikut latihan gerak jalan. Persiapan tujuh belasan!,” ungkapnya lagi sambil bersiap-siap menyambut kedua anak kecil yang berlari ke dekapannya.
Om Noach mulai bercerita tentang kehidupan yang dialaminya dan keluarganya. “Tahun 1995 saya berprofesi sebagai seorang loper koran, setelah itui saya bekerja menjadi seorang cady Golf di lapangan golf Kodam Cenderawasih. Disana saya kemudian saya dikursuskan sebagai driver,” ungkapnya. Namun karena sebuah hal Noach kemudian keluar dan oleh Tahi Butar Butar (Direktur Yayasan Pemberdayaan Kesejahteraan Masyarakat) ditugaskan sebagai driver. “Saya waktu itu sudah membulatkan tekad untuk mengabdi bagi sesama. Sering ketika merawat ODHA, saya bahkan tidak menggunakan pengaman, walaupun sering diingatkan teman-teman lain,”. Berkat pengabdiannya itu Noach pun merasa menemukan kebahagiaan tiada tara. “Walaupun harus mengunjungi kampung demi kampung, bahkan biasa pulang pagi, namun saya selalu merasa bahagia, karena merasa hidup saya sudah berguna untuk orang lain,”. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nasib berkata lain. Sebuah peristiwa naas menimpa Noach.
“Saya mengalami kecelakaan motor tahun 2003 lalu dari perjalanan dari sentani ke Jayapura bersama seorang temannya. Motor slip dan jatuh bertepatan ketika sebuah truck melintas dan menggilas kaki saya,” katanya sambil memejamkan mata. Entah sepertinya masih trauma atau sedang mengingat sesuatu.
Dalam keadaan terluka parah sesorang yang lewat dengan mobil taft berhenti untuk menolongnya. “Waktu itu saya tidak pingsan karena saya masih sempat mendengar terikan histeris dari orang itu walaupun saya tidak bisa melihat mukanya,”. Sempat mengalami pertolongan pertama di RSUD Abepura, Noach akhirnya dirujuk ke RS Dok II, Jayapura.
Noach mengaku walaupun sempat merasa tertekan akibat harus menghadapi kenyataan kehilangan kaki kirinya, namun hal itu tidakberlarut-larut. Semangat hidupnya bangkit lagi. Ia pasrah menerima keadaan tersebut. “Mungkin ini adalah cobaan bagi saya dan keluarga,”.
Noach yang sebelumnya adalah seorang driver di Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat, Papua beralih tugas menjadi seorang operator mesin foto copy, di YPKM. “Saya juga bertugas menerima telepon yang masuk, dan mencetak tabloid untuk HIV-AIDS,”. Ia bahkan sudah mengikuti kursus komputer.
Setitik harapan terbersit ketika ia dinyatakan berhak atas satu kaki palsu buatan Sugeng dari program Kick Andy (Metro TV). Sayang seribu disayang kaki palsu tersebut ternyata tidak cocok dengan kaki buntungnya. Noach masih harus bertumpu pada kedua tongkatnya.
Dalam kunjungan tim Media Indonesia waktu itu mengundangnya tampil di acara Kick Andy. “Saya sangat bahagia jika saya bisa tampil disana. Saya sangat terinpirasi dengan sosok Sugeng yang cacat namun punya semangat hidup dan bisa berguna untuk sesamanya,”.
Menurut sang istri Yulian (41), Noach seorang yang tegar. “Dia tidak pernah mengeluh, setiap pekerjaan dilakukannya dengan senang,” kata Yuliana. Mereka juga sudah berkali-kali meminta bantuan kaki palsu kepada Dinas Sosial Provinsi, maupun Kota, namun selalu di tolak. Tidak ada alokasi dana. Jawaban yang selalu diterimanya.
Walaupun begitu Noach tidak berkecil hati. Setiap harinya ia menjalankan tugasnya di YPKM sambil mencoba memelihara tiga ekor babinya. Semua itu dilakukannya demi mewujudkan cita-cita ketiga buah hatinya; Daniel Mandobar (11), Abraham Yinseren (7), dan si bungsu Yana Yakomina (6). (R3)

Derita Di Tanah Impian


Jam baru menunjukkan pukul tiga pagi, Suminah bergegas dari pembaringan. Mengambil air wuduh di sumur belakang rumahnya selanjutnya menggelar sajadah untuk ritual sholat subuhnya. Sebait ungkapan doa terlantun lewat bisikan bibirnya. Anak, suami dan rejeki untuk hari ini adalah permintaan rutin disetiap doanya. Sejurus kemudian merapikan mukenah dan melipat sajadahnya.
Ia kemudian membuka tudung saji di meja makan. Segenggam nasi dingin meluncur mulus ke dalam mulutnya, ditemani segelas teh panas.
Setelah mencium kening ketiga anaknya yang masih terlelap ia berjalan keluar rumah sambil menenteng dua tas plastik hitam berisi tomat dan lombok jualannya, menunggu taksi ke arah Jayapura. Ditemui di salah satu sudut perkantoran instansi pemerintah di Dok IX Jayapura, Suminah menceritakan awal mula ia melakoni pekerjaannya itu.
Suminah, 48 tahun perempuan asal Surabaya ini merantau bersama suaminya ke Papua, tiga tahun lalu, tepatnya di Arso IV kabupaten Keerom. “Saya diajak kesini sama teman yang kebetulan pulang ke kampung (Surabaya-red). Dia banyak bercerita tentang mudahnya cari uang yang banyak di Papua. lahan kosong, jaminan pemerintah berupa rumah dan makanan. Pokoknya transmigrasi itu enak,” kenangnya. Tergiur oleh bujuk rayu teman sekampungnya tersebut Suminah dan Sutimin suaminya kemudian berkemas-kemas. Dengan bekal seadanya Sutimin sekeluarga kemudian kemudian berangkat bersama ketiga anaknya, dan meninggalkan kedua anak tertuanya.
Singkat cerita Sutimin sekeluarga tiba di “tanah impian”. Harapan tinggal harapan. Setibanya di Arso Sutimin sekeluarga harus numpang di rumah teman sekampungnya tersebut. Lama kelamaan perasaan risih mendera. “Kami tidak enak numpang terus di rumah teman,”. Mereka akhirnya memutuskan pindah ke salah satu rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. “Saya tidak tahu itu rumah siapa,” katanya lagi. Kehidupan semakin tidak menentu. Untuk menghidupi keluarganya, suaminya hanya bekerja sebagai buruh kasar. Dua tahun kemudian atas alasan menjenguk anaknya di kampung Sutimin kemudian meninggalkan anak istrinya dan kembali ke Surabaya. Hari demi hari berlalu. Bulan berganti bulan. Sang suami yang diharapkan pulang untuk menafkahi tak kunjung datang. “Suami saya berangkat setahun lalu menjenguk anak tapi sampai sekarang belum bisa kembali. Tidak ada ongkos katanya”. Suminah semakin bingung karena harus membiayai hidup dan tiga orang anaknya. “Anak saya masih sekolah saya bingung membiayai mereka,”. Sadar tidak bisa mengharap sang suami ia kemudian berusaha mencari jalan. Dengan modal seadanya ia kemudian membeli lombok dan tomat yang banyak dihasilkan petani di Arso IV yang di jualnya di Abepura atau Jayapura.
Pagi itu dengan penuh keyakinan Sutinah berangkat ke Jayapura menawarkan dagangannya. Sesampainya di Terminal Abepura. Sutinah kemudian melangkahkan kaki beralaskan sandal jepit bututnya. Tidak ada tujuan pasti. Semata-mata hanya menjajakan dagangannya. Sesekali terdengar suaranya menawarkan jualannya ke rumah-rumah. Matahari sudah di ubun-ubun, namun jualan belum juga habis setengahnya. Panas mendera. Sutinah bingung tidak tahu mau kemana lagi. Pilihan terkahir pun dijatuhkan dalam sekejap. Tidak ada jalan lain kecuali ke Jayapura. Setibanya di Jayapura, Sutinah pun kembali berjalan kaki ke arah Dok IX. Panas matahari dan mulutnya yang kering karena berpuasa tidak membuatnya menyerah. Seperti biasanya ia berhenti di setiap kantor pemerintah untuk menawarkan dagangannnya sembari beristirahat. Beberapa pegawai dari dinas-dinas itu telah mengenalnya terutama para wanita.
“Saya tidak tahu mau bikin apalagi, jadi terpaksa saya seperti ini. Kadang tidak ada yang laku jadi terpaksa saya menginap di terminal karena tidak punya ongkos pulang. Tahun depan kalau ada uang saya mau pulang saja ke kampung. Saya sudah tua dan tidak kuat lagi menghidupi anak saya, bahkan untuk lebaran saya tidak ada uang sama sekali,” katanya polos.
Tapi hari itu ia beruntung jualannya laris semua. “Saya mau pulang dulu mas,” ujarnya sambil membenahi barang-barangnya. Lebaran sudah berlalu, namun seperti seperti tahun lalu tidak ada baju baru untuk anak-anaknya. (R3)

Kamis, 26 November 2009

Blunder KIB Jilid II



Pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) telah berlalu, namun bukan berarti lepas dari sejumlah masalah mulai dari komposisi anggota kabinet yang didominasi oleh figur partai, kepastian PDI Perjuangan untuk berada di luar pemerintahan, penolakan sejumlah figur oleh masyarakat, dan yang menjadi kontroversi serta cukup menyita perhatian media adalah gagalnya Nila Moelek menjadi menteri kesehatan dan digantikan oleh Sri Endang Rahayu Setyaningsih.

Dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta nasional, salah seorang fungsionaris partai Demokrat, menyatakan bahwa ‘wajar saja jika yang masuk dalam susunan kabinet adalah orang-orang yang berkeringat’. Hal ini mengindikasikan bahwa SBY cenderung memberi prioritas kepada para tim sukses maupun tokoh parpol koalisi Demokrat, dibandingkan dengan kaum profesional, yang notabene lebih kompeten. Sebut saja nama-nama seperti Hatta Rajasa (PAN), Tifatul Sembiring (PKS), Fredy Numberi, Andi Mallarangeng (tim sukses), Surya Dharma Ali (PPP), dan lain-lain. Tercatat lebih dari 50% di antaranya merupakan figur yang berasal dari partai, sementara selebihnya merupakan kaum profesional. Pertanyaannya adalah apakah mereka (figur partai) cukup berkompeten untuk menduduki jabatan yang sangat penting ini?.

Pengamat politik Maswadi Rauf menilai, di sebuah media harian menilai bahwa pembentukan kabinet SBY kali ini memang sangat ditentukan oleh afiliasi partai. "SBY terlihat ingin melakukan power sharing dengan koalisinya. Hal ini bertentangan dengan keinginan banyak orang agar SBY memilih menteri yang ahli di bidangnya," kata Maswadi. Menurutnya memberikan kursi menteri kepada perwakilan partai politik bukan merupakan kesalahan, namun SBY seharusnya memilih orang-orang partai itu sesuai kebutuhan kementerian dan sesuai keahlian kandidat yang dipilihnya. “Hal ini tidak masalah, tetapi jangan orang sembarangan. Ini tidak hanya merugikan SBY, tapi juga rakyat Indonesia yang berharap banyak dari pemerintah," ujarnya.

Selain itu menurutnya di tubuh partai politik sebenarnya tersimpan para profesional. Namun, pada pemilihan orang-orang partai kali ini, ia menilai SBY agak mengabaikan syarat keahlian bagi seorang menteri. Maswadi berharap, dalam perjalanan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, SBY bisa melakukan evaluasi secara ketat terhadap kinerja menteri-menterinya. "Kalau dalam penilaiannya dipandang tidak layak, maka beliau harus berani memberhentikan. Jangan sampai menteri yang tidak bisa bekerja dibiarkan saja karena bisa merugikan rakyat Indonesia," kata Maswadi.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Cenderawasih Naffi Sanggenafa. Ia menilai komposisi KIB sudah cukup baik namun kurang berimbang antara profesional dengan figur partai. “Masyarakat semakin dewasa untuk menilai buktinya mereka melakukan protes terhadap Hatta Rajasa sebagai menteri perhubungan, karena dianggap tidak mempunyai keahlian di bidang itu, sementara untuk melakukan adaptasi itu butuh waktu. Figur-figur yang baru mesti banyak belajar kepada para pendahulunya agar tidak terjadi over laping, atau hal baru di luar apa yang telah diletakkan sebelumnya karena pembangunan itu harus berkelanjutan. Program 100 hari SBY itu sangat penting sehingga bisa dilakukan evalusi terhadap kinerja menteri itu. Contohnya gagalnya Nila Moelek menduduki jabatan Menkes merupakan blunder karena berdampak negatif terhadap psikologi ibu Nila. Seharusnya SBY menggunakan 100 hari itu sebagai evaluasi bagi kinerjanya,” kata Pembantu Rektor IV Uncen ini.

Ia juga menilai fit and proper test itu tidak menjamin kapabilitas para menteri. “Itu hanya wawancara mengenai apa yang diketahui oleh para kandidat soal posisinya nanti, jadi bisa dikatakan bahwa itu hanya formalitas saja. Kalau mau lebih akuarat seharusnya dilaksanakan oleh lembaga yang independen. “Namanya saja yang fit and proper test,”.

Sementara itu Ketua Fraksi PDIP DPR Papua Max Mirino menilai dalam penyusunan KIB jilid 2, SBY telah melakukan sebuah kemajuan dengan melakukan fit and proper test kepada masing-masing kandidat, dan diikuti secara terbuka oleh publik. “Ini sebuah terobosan baru, yang memberi nilai competitive adventage, dan berbeda dari penyusunan kabinet lainnya di waktu lalu, yang tiba-tiba saja diumumkan,” kata Mirino. Mirino juga memuji SBY, yang mengadakan National Summit, yaitu pertemuan para stake holder, dengan jajaran kabinet di awal masa tugasnya.

Ia juga tidak mempermasalahkan KIB, yang didominasi oleh wajah-wajah dengan latar belakang parpol. “Mereka itu dicalonkan oleh partai, dan tentu saja partai telah mengetahui kapasitas dari calon tersebut lagian mereka tentu mempunyai akses seperti konsultan dalam bekerja, sehingga kita tidak perlu meragukan kinerja mereka ke depan. Yang terpenting adalah bagaimana SBY konsisten menjaga keterbukaan yang telah dibangunnya ini ke depan”. Terkait PDIP sendiri yang tidak ambil bagian dalam KIB, Mirino mengatakan bahwa partainya telah mengambil kebijakan sebagai oposisi. “Salah jika mereka mengatakan kami ketinggalan kereta. Yang benar adalah kami tidak membeli tiket kereta!,” tegasnya membantah pernyataan Andi Alfian Mallarangeng beberapa waktu lalu. (Pat)
Gbr:gudangfurniture.com

Lapas Narkotika Klas II A Jayapura


Memasuki areal Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Narkotika Jayapura suasana tampak lengang, yang tampak hanya ada beberapa mobil dan motor terpakir di halamannya. Di salah satu sudut tembok tampak gambar daun ganja dalam lingkaran dengan strip merah. Di bawahnya terdapat tulisan “stop narkoba”. Setelah melapor di pos pejagaan depan, dengan menjelaskan maksud kedatangan, akhirnya Foja diijinkan masuk.
Memasuki pintu utama, suasana di ruang tunggu besuk tampak ramai oleh beberapa wanita muda, yang belakangan diketahui ternyata napi yang ditangkap di sebuah bar, beberapa waktu lalu di kota Jayapura. Mereka sedang bersenda gurau satu dengan lainnya, dibawah pengawasan beberapa orang sipir Lapas. Setelah melakukan registrasi dengan petugas Foja pun diijinkan masuk menemui Kepala Lapas.
Menurut kalapas Y.Waskito BC.IP,SH,MH,MSi, saat ini terdapat 78 narapidana yang dibina di lapas ini. “Angka ini sewaktu waktu bisa berubah. Ada napi yang masuk dan ada yang bebas,” kata Waskito.
Menurut Waskito ada perbedaan mendasar antara lembaga pemayarakatan narkoba dengan lembaga pemasyarakatan lainnya. “Yang diterapkan di sini adalah sistem pembinaan mental para narapidana untuk disiapkan kembali kelingkungan masyarakat.
Lembaga pemasyarakatan membina mental napi untuk kembali ke masyarakat. Jadi lembaga ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat Papua yang terjebak dalam penggunaan obat terlarang,” katanya.
Menurut data yang diperoleh di Lapas ini terdapat 70 napi laki laki, dan sebanyak 8 napi perempuan. Untuk kelompok umur diklasifikasikan atas dua bagian yaitu umur 18 tahun ke bawah sebanyak 4 orang napi, yang terdiri atas 3 laki laki dan 1 perempuan. Sementara untuk kelompok umur 18 tahun ke atas sebanyak 74 orang sebanyak 67 laki-laki dan 7 orang perempuan . Dari semua Napi yang di bina berasal dari berbagai wilayah seperti Kota Jayapura sebanyak 68 orang, Kabupaten Keerom 1 orang, pelintas batas yang merupakan warga negara tetangga Papua Nugini sebanyak 11 orang namun kini tinggal 10 orang, karena salah seorang diantaranya berhasil melarikan lari beberapa waktu lalu.

Menurut data setiap tahunnya jumlah tahanan di lapas ini mengalami peningkatan dari segi jumlah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan jumlah pengguna narkoba di wilayah Papua. Bahkan data terakhir menunjukkan bahwa penggunaan narkoba tidak hanya dari kalangan pria tetapi juga kaum wanita, bahkan sudah menyentuh kalangan remaja. Tercatat di tahun 2004, jumlah tahanan sebanyak 19 orang, tahun 2005 sebanyak 19 orang napi, tahun 2006 sebanyak 14 orang napi 2007 meningkat tajam sebanyak 49 orang napi, tahun 2008 sebanyak 43 orang napi dan sampai dengan bulan Mei tahun 2009 jumlah narapidana sebanyak 78 orang.
Perhatian bagi penghuni lapas ditempuh melalui beberapa pendekatan seperti dari segi religius melalui tokoh gereja, terutama pada hari raya besar keagamaan sementara bagi yang muslim menurut Waskito belum mendapat perhatian dari lingkungan atau lembaga keagamaan setempat. Perhatian juga ditunjukkan dengan pengembangan kretifitas napi melalui berbagai kegiatan seperti kerajinan tangan, membuat bingkai foto, tempat tissue, hiasan bunga, bercocok tanam, beternak ikan, dan pelatihan computer. “Beberapa LSM juga menunjukkan perhatian serius seperti YPPM, dan YAKITA yang secara rutin memberikan bimbingan konseling bagi para napi,” kata Waskito.
Waskito sangat menyayangkan masih kurangnya perhatian pemerintah terutama fasilitas Lapas tersebut. “ Napi yang dibina sebagian besar dari kawula muda yang akrab dengan kreatifitas sehingga seharusnya lapas ini dilengkapi dengan sarana olahraga dan alat musik sebagai wahana penyaluran bakat,” imbuhnya.
Menurut salah seorang tenaga medis di lapas ini sampai sekarang belum ada napi yang terkait dengan HIV-AIDS. Penyakit yang diderita banyak diderita seperti TB Paru, yang merupakan pengaruh langsung dari penggunaan obat terlarang seperti ganja, serta penyakit infeksi menular.

Menurut Hs (samaran), salah seorang Napi yang berhasil ditemui, Ia telah menempati hotel prodeo ini sejak Desember 2007. “Saya dikenakan hukuman penjara satu tahun lima bulan, dengan status pemakai sekaligus pengedar,” kata Hs. Menurut Hs, ia menggunakan Narkoba jenis sabu-sabu sejak tahun 1997. “Waktu itu saya masih kuliah di Makassar. Awalnya saya hanya mau mencoba rasanya bagaimana. Saya menggunakan sabu-sabu untuk menambah kepercayaan diri, serta menambah tenaga. Saya tidak pernah tahu bahwa hal yang saya rasakan setelah mengkonsumsi sabu sabu itu hanya ilusi belaka,” katanya. Menurut Hs, dampak dari penggunaan sabu itu sangat merusak. “Kita tidak akan merasa ngantuk walaupun tidak tidur sampai berhari-hari. Akibatnya berdampak pada kondisi tubuh yang lemah, dan kurus. Selain itu efek psikologis dari penggunaan narkoba seperti perasaan gelisah, sensitive, cepat marah, serta pelupa. Ketergantungan terhadap barang ini akan memaksa kita untuk mendapatkan barang haram itu dengan segala cara, “ ungkapnya.
Hs juga sangat berterima kasih dengan bimbingan dari para sipir di lembaga ini yang membuatnya sadar akan kekeliruannya. “Di sini kami memiliki banyak kesibukan sehingga kami bisa membekali diri untuk terjun kemasyarkat umum,” katanya.
Hs menghimbau para remaja, agar lebih fokus terhadap kegiatan yang positif. “ Pergaulan yang salah adalah awal keterlibatan remaja dengan penggunaan obat terlarang. Anda jangan pernah mencoba, cukup anda tahu. Tanpa narkoba hidup ini bisa indah dan berarti,” himbau Hs.
Setelah berbincang-bincang cukup lama kami pun berpamitan pulang. Di luar kami bertemu dengan seorang ibu. Dia bercerita kalau ia sedang menjenguk anaknya yang sudah satu bulan lebih menghuni hotel pordeo tersebut. “Saya tinggal di Kota Jayapura. Saya kesini tiga kali dalam seminggu besuk anak saya. Bapaknya sudah tidak peduli lagi,” ungkapnya. Menurut ibu yang menolak disebutkan namanya itu ia tidak pernah tahu pergaulan anaknya hingga suatu hari ia didatangi oleh pihak kepolisian bahwa anaknya ditahan di kantor polisi. “Dia dan teman-temannya tertangkap sedang pesta ganja,” katanya tak kuasa menitikkan air mata. (Yul-Pat CR 8)

Rabu, 25 November 2009

THE MORNING STAR,


MERAMBAH DIVISI I LIGA INDONESIA

Kondisi alam geografis yang keras, tidak menjadi halangan bagi talenta-talenta berbakat asal Pegunungan Bintang untuk terus berprestasi. Walaupun baru terbentuk secara resmi pada tanggal 20 November 2003, namun mereka terus menunjukkan grafik peningkatan penampilan. Memulai kiprahnya ditahun 2005, di kompetisi divisi III Liga Indonesia Zone Papua, di Timika, Persatuan Sepakbola Pegunungan Bintang (Persigubin) langsung lolos ke kompetisi Divisi II PSSI, dengan menyandang status peringkat empat diakhir kompetisi. Pada tahun 2006 berlaga di kompetisi Divisi II di Palu Sulawesi Tengah dan hanya menempati Peringkat Lima sehingga mereka terpaksa menunda ambisinya untuk naik ke kasta kompetisi yang lebih tinggi. Kegagalan itu tidak menyurutkan semangat persigubin untuk tetap berprestasi. “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, menjadi pelecut semangat mereka,” kata Manejer Persigubin Drs. Theodorus Sitokdana. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan promosi ke Divisi I Liga Indonesia PSSI pada tahun 2007, dengan bergabung di grup VIII, hingga sekarang.
Prestasi The Morning Star, demikian julukan Persigubin tidak hanya sampai disitu, buktinya tercatat beberapa orang pemainnya disumbangkan untuk tim PON Papua di Kalimantan Timur Lalu. Penampilan ciamik nama- nama seperti Vendri Mofu, yang saat ini sudah bergabung dengan Persiwa Wamena, Yohanes Tjoe, Ilfred So, Alex Yarangga, dan Yulianus Goo, berhasil memikat perhatian pelatih Sepakbola tim PON Papua Rully Nere.
Bahkan pada sebuah laga persahabatan pemanasan Pra kompetisi liga Indonesia beberapa bulan lalu Tim Persigubin berhasil menahan seri saudara tuanya tim Mutiara Hitam, Persipura Jayapura. “Striker kawakan seperti Boaz Salossa bahkan tidak mampu menjebol gawang kami,” kata sang manejer bangga.
Menurut Drs. Theodorus Sitokdana, yang juga Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang yang menjadi ciri khas dari tim Persigubin adalah permainan kolektif dan kerjasama yang baik.
Sistem pembinaan yang berjenjang diharapkan mampu menghasilkan pemain yang berkualitas sehingga dapat mengharumkan nama Pegunungan Bintang, Papua, bahkan Indonesia. “ Saat ini kami telah melakukan pembinaan berdasarkan kelompok umur, yaitu kelompok umur dibawah 12 tahun, dibawah 15 tahun, dibawah 18 tahun, dan dibawah 21 tahun. Kami berusaha untuk mengelola klub secara professional, dimulai dengan nilai kontrak dan gaji para pemain yang tertera diatas perjanjian hitam putih, hingga transfer pemain, sehingga bila ada klub lain yang menginginkan pemain Persigubin, harus melalui transfer dan administrasi yang jelas, ” ungkap Theodorus. Kini Persigubin mulai berbenah, dengan merencanakan pembangunan stadion yang layak menggelar pertandingan berskala nasional, sehingga tidak heran jika suatu saat nama Persigubin akan diperhitungkan di kancah sepakbola Nasional seperti kedua saudara tuanya yakni Mutiara Hitam Persipura Jayapura dan Badai Pegunungan Tengah, Persiwa Wamena. Maju terus, bravo sang Bintang Pagi. Yepmum, telepe, asbe, labmum, jelako.(Yen, Pat/CR 8)
Profil Persigubin
Berdiri : 20 November 2003
Julukan : “ The MORNING STAR TEAM ”
Alamat : Jl. Yapimakot – Oksibil Pegunungan Bintang
Telepon : 0967 – 594765 (sementara)
Faksimile : 0967 – 594765 (sementara)
Kostum : Orange - Hijau
Website : persigubin@yahoo.com
Stadion :
Kapasitas :
Ketua Umum : Drs. Theo B.Opki
Manajer : Drs. Theodorus Sitokdana
Pelatih :
Suporter : Persigubin Mania

Pendiri : Pieter Kalakmabin – Nicolaus Uropmabin
Arnold Uropka – Drs. Theo B. Opki

Balada: Abraham Wukah



Hidup sebatangkara jauh dari tanah kelahiran dan sanak famili bagi sebagian orang mungkin lazim, dan bukan sebuah persoalan. Namun apa jadinya bila penderitaan tersebut ditambah oleh kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk menjalani hidup
Abraham Wukah yang akrab disapa Bram misalnya. Sosok laki-laki asal pedalaman Wamena ini tergolong manusia bertekad baja. Sejak tahun 2002 Bram mesti berjuang sendiri menghidupi dirinya, tanpa tanpa bantuan orang lain di dengan kodisi cacat pada kakinya, dikota Jayapura. Menurut Bram cacat itu harus diterimanya sejak masih bayi, ketika ia baru berumur satu minggu. Dari cerita yang diperolehnya dari sang ibu Kumeh, waktu masih bayi ia terjatuh dari bale-bale buatan ayahnya, sehingga harus mengalami patah tulang kaki. Seorang dokter yang berasal dari Belanda mengusulkan untuk mengamputasi kakinya, namun karena kedua orang tuanya tidak tega, akhirnya Bram mesti tumbuh dengan kaki kirinya yang tidak normal, sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.
Warisan sang ayah dan siksaan ibu tiri
Ayah Bram, Waukmo ternyata tidak berumur panjang. Karena sakit, ia kemudian meninggal dunia, di saat Bram masih sangat kecil yang tidak mengerti apa-apa. Walaupun ayahnya mempunyai harta warisan yang tidak sedikit untuk ukuran pedalaman, namun tetap saja kebahagiaan tersebut tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh Bram. “Dahulu bapak saya memiliki banyak kebun seperti kopi, kacang, kedelai, kebun sayur, bahkan beternak sapi,” ungkapnya. Bukan hanya sampai disitu penderitaan Bram. Perebutan harta warisan sang ayah oleh ibunya dengan ibu tirinya, sering melibatkan dirinya menjadi korban amarah. “Saya sering dimarahi ibu tiri, bahkan saya pernah dilempar dengan bara api waktu saya baru berumur empat tahun,” kenang Bram.

Hijrah ke Jayapura
Menjalani masa kecilnya, tanpa kasih sayang sang ayah, membuat Bram seperti kehilangan arah hidupnya. Apalagi sanak familinya tidak peduli lagi dengannya. Sempat mengecap bangku sekolah hingga kelas tiga Sekolah Dasar, Bram mesti rela berhenti sekolah karena terbentur biaya serta kehidupan keluarga yang morat-marit. “Waktu itu kehidupan sangat susah. Untuk makan aja terkadang saya harus mencuri kacang dan batatas (sejenis ubi), dari kebun orang lain untuk sekedar menahan lapar. Namun kondisi ini tidak membuatnya patah arang. Tahun 2002, tepatnya saat ia berumur tujuh belas tahun Bram memutuskan untuk mengadu nasib ke Jayapura. Namun bukan persoalan gampang mewujudkan niatnya tersebut, karena perjalanan dari Wamena ke Jayapura harus ditempuh dengan pesawat terbang, sementara ia sendiri tidak memiliki biaya tiket, yang tergolong cukup mahal. Bram tidak putus asa. Demi tekad bulatnya tersebut ia memberanikan diri menghadap petugas bandara untuk meminta bantuan untuk memperoleh surat jalan. Bram sunguh beruntung, dan atas kebaikan dari petugas bandara, Bram akhirnya diijinkan naik pesawat tanpa membayar sepeser pun.

Sebatangkara
Setibanya di Abepura, Bram harus menghadapi kesulitan yang tidak kalah peliknya. “ Waktu itu saya bingung mau tinggal dimana. Saya akhirnya meminta ijin ke pihak Gereja Bethel Jemaat Gunung Kemuliaan, Abepura untuk tinggal di gedung gereja, sambil membantu menjaga dan memelihara kebersihan gedung gereja. “ Saya menjaga gedung gereja sambil mencoba mencari pekerjaan,” katanya. Tahun 2005, Bram kemudian diterima bekerja di perusahaan penerbangan MAF (Mission Aviation Fellowship), di Sentani. “ Saat itu saya bekerja sebagai tukang cuci mobil perusahaan, dengan penghasilan sebesar dupuluh ribu rupiah per hari, namun pekerjaan itu tidak dijalani setiap hari. Terkadang hanya dua kali seminggu sehingga hasilnya jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Pekerjaan ini terus saya lakoni hingga dua tahun,” katanya lagi.

Loper koran
Tahun 2007, sekali lagi Bram mendapat pukulan berat. Bagai petir disiang bolong ia mesti menerima kabar kepergian sang ibu untuk selama-lamanya. Bram sempat pulang ke Wamena untuk memberi penghormatan terakhir bagi ibunda tercinta, bahkan sempat pula membuat sebuah kolam ikan, yang dipercayakan kepada saudaranya. Sekembalinya dari sana bungsu dari tujuh bersaudara ini kemudian beralih profesi sebagai penjual koran, tabloid, dan majalah. “Lumayan saya memperoleh keuntungan Rp1.600 sampai Rp5.000 per eksempelarnya,” akunya. Dari hasilnya bekerja sebagai loper inilah Bram berhasil membangun sebuah gubuk berukuran tiga kali empat meter disamping gedung gereja. Bahkan ia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. “Jika saya sudah punya banyak tabungan saya berniat membuka usaha, namun belum tahu usaha apa yang potensial,” katanya optimis. Setiap harinya Bram bisa menghasilkan keuntungan hingga dua ratus ribu rupiah. “Saya tidak mampu menyewa rumah kost, sehingga untuk menghemat saya mendirikan gubuk ini untuk menetap,” ujar Bram. Setiap pagi kira-kira pukul 06.00, Bram sudah berangkat dari kediamannya ke tempat mangkalnya di depan pintu masuk Saga Mall Abepura, dibantu kedua tongkat besi rancangannya.
“Terkadang bawaan berat jadi saya terpaksa naik ojek,” timpal Bram. Pukul 12.00, Bram kembali ke gubugnya untuk makan siang sekaligus melepas lelah hingga pukul 16.00. Ternyata pekerjaan ini dirasa cocok sehingga Bram tidak berniat mencari pekerjaan lain. Di lingkungan tempat tinggalnya, maupun tempat kerjanya ia cukup disenangi rekan-rekannya, karena memiliki kepribadian yang sopan.

Melayani Tuhan lewat musik
Menurut Bram ia tidak pernah mendapat perhatian dari kerabatnya yang ada di kota Jayapura, namun ia tidak pernah dendam terhadap mereka. “Saya tetap optimis walaupun mereka tidak peduli dengan saya. Saya juga tidak dendam sama orang-orang yang pernah menyakiti saya disana (Wamena –red). Jadi semuanya saya serahkan sama Tuhan,” kata lajang berumur 25 tahun ini. Tinggal di lingkungan gereja tdak disia-siakan Bram. Ia selalu menyempatkan waktu senggangnya untuk berlatih musik secara otodidak. “ Saya belajar keyboard sendiri tanpa bimbingan khusus. Syukurlah saat ini saya sudah bisa mengiringi jemaat yang beribadah, dan itu anugerah Tuhan yang luar biasa bagi saya,” tandasnya.
(Pat/CR 8)