Jumat, 16 April 2010

Menuju Rumah Sakit Sehat



Sejarah singkat
Setelah perang dunia ke II selesai antara tahun 1946–1959 RSUD Abepura dikelola oleh pemerintah Belanda. Setelah penyerahan kekuasaan kepada RI tahun 1969 RSUD Abepura diubah statusnya menjadi Puskesmas Perawatan dan sekaligus berfungsi sebagai Latihan dan Percontohan Kesehatan Masyarakat (DLPKM). Selanjutnya tahun 1989 DLPKM dipisahkan menjadi PKM Abepura dan Rumah Sakit Pembantu Abepura dengan Kapasitas tempat tidur 30 buah. Sebagai tindak lanjut berikutnya maka sesuai dengan Surat Gubernur KDH.TK.I IRIAN JAYA NOMOR 445/1019/set tanggal 23 Maret 1990 serta surat Dirjen YANMED no.601/YANMED/RS/BU, Dik./YMU/90 tanggal 24 Agustus 1990, kemudian diterbitkan SK Gubenur KDH TK I Irian Jaya No.204 tahun 1990 tentang penetapan RSU Abepura dengan Kapasitas tempat tidur 50 buah. Tahun 1997 sesuai SK Menkes no 1183/Menkes /SK/XI/194 dan keputusan Mendagri nomor 117 tahun 1996 RSUD Abepura ditetapkan menjadi RS Kelas D yang diresmikan oleh Gubenur KDH TTK I Irianjaya pada tahun 1997.

Tidak lama berselang, SK Menkes nomor 491/Menkes /SK/V/1997 tanggal 20 Mei 1997 status RSUD Abepura dinaikkan kelasnya menjadi Kelas C atas persetujuan Mendagri melalui Radiogram nomor: 061/1983/ tanggal 2 juli 1997, dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 107 buah. Rentang waktu yang lama telah dilalui RSUD Abepura memberikan pelayanan masyarakat di Papua.

Visi, Misi dan Motto
Visi dari RSUD Abepura adalah Memberikan Pelayanan Kesehatan dan dipercaya oleh pasien, karyawan dan pihak lain yang berkepentingan dan dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional untuk kepuasan pelanggan untuk terwujudnya Indonesia sehat tahun 2010. Visi tersebut kemudian dijabarkan ke dalam beberapa misi seperti: Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang profesional, sesuai dengan bidang tugasnya, Mengadakan sarana dan prasarana serta kelengkapan fasilitas sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan baku. Mewujudkan pelayanan prima. Mewujudkan lingkungan Rumahd an sakit yang bersih dan tertib. RSUD Abepura sendiri mempunyai Motto Motto CERIA yaitu:
• Cekatan, adalah setiap penanganan klien dalam bertindak selalu cekatan, cepat tepat dan teliti.
• Efisien, adalah setiap penanganan klien selalu bertindak efisien baik dari segi waktu,biaya dan material.
• Ramah, yaitu setiap petugas dilingkungan RSUD Abepura selalu bersikap ramah kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan dan informasi tanpa membedakan suku/golongan.
• Indah, yaitu selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit, sebagai cermin dan kesan pertama bagi para pengunjung RS.
• Aman, yaitu selalu memberikan rasa aman kepada klien dan keluarga, karyawan dan orang lain saat berada di lingkungan.


Manajemen profesional
RSUD Abepura berdiri diatas tanah seluas 7.675 m². Fasilitas yang dimiliki oleh rumah sakit ini adalah gedung perawatan pria, perawatan wanita, perawatan UGD, perawatan bersalin, perawatan bedah, operasi, perawatan anak, gedung poliklinik, loundry, gizi, ruangan kelas/VIP, genset, workshop, ruang rapat, laboratorium, radiologi, obat, apotik, kamar jenazah, dan mobil ambulance. Tenaga perawat dan non perawat 302, sementara dokter umum 23 orang, gigi 3 orang, spesialis 38 orang.
Menurut Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, drg. Allosyus Giay, Rumah Sakit merupakan lembaga padat karya, dengan ratusan jenis pelayanan sekunder dan tersier yang berbeda dengan lembaga lain dan berlangsung duapuluh empat jam dalam sehari. Kondisi tersebut menyebabkan rumah sakit menjadi organisasi atau lembaga yang padat tenaga, karena membutuhkan banyak tenaga profesional. “Spesifikasi atau jenis tenaga kerja yang ada di Rumah Sakit sangat heterogen, dan mempunyai karakter yang berbeda-beda, sehingga membutuhkan manajemen yang sangat baik untuk menyatukan,” kata Giyai.

Pengalamannya serta karirnya yang memperlihatkan dedikasi tinggi menempatkan dirinya sebagai figur the right man in the right place. Tercatat ia pernah memimpin di sejumlah instansi seperti Koordinator pendirian Rumah Sakit Pendidikan Type RSUD Jayapura tahun 2002-2005, Ketua Pengelola JPS (Jaminan Pengamanan Sosial) di Bidang Kesehatan RSUD Jayapura tahun 2003-2005, Kepala Seksi Puskesmas pada Subdin Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Jayapura tahun 2005-2007, Kepala Sub Dinas Kesehatan Keluarga pada Dinas Kesehatan Kota Jayapura tahun 2007, Kepala Puskesmas Perawatan Inap Koya Barat pada Dinas Kesehatan Kota Jayapura tahun 2007, Ketua Jurusan Administrasi Kebijakan Kesehatan (AAK)/Pejabat Kontrak pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Uncen 2005-2007, dan Kasubdin Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Jayapura, 2007-2009.

Menurutnya Seorang pemimpin harus mempunyai beberapa aspek penting yaitu ilmu, pengalaman organisasi, keberanian mengambil resiko, dan seni memainkan, karena terkadang aturan itu berbeda dengan kondisi di lapangan,” ungkapnya diplomatis.
Sejak kepemimpinannya di RS ini berbagai perubahan telah dilakukan. “Saya berusaha menghidupkan sistim organisasi, sesuai dengan Tupoksi masing-masing bagian sehingga mereka merasa dihargai. Saya juga berusaha membangun komunikasi dengan para staf, dengan berbagai pendekatan. Misalnya saja ketika mereka tidak masuk saya tidak sungkan untuk datang ke rumahnya untuk menanyakan permasalahannya.

Giyai berpendapat kualitas SDM (Petugas-red) akan semakin meningkat bila memenuhi faktor-faktor seperti Human Relation, yaitu pembangunan hubungan antara bawahan, dan atasan secara terus menerus, adanya transparansi pengelolaan keuangan, maupun hal-hal yang perlu diketahui, dan perubahan sistim seperi memperjelas Standar Pelayanan Minimum (SPM), dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Misalnya di Unit Gawat Darurat UGD) untuk kasus ringan kami menuntaskan pelayanan dalam waktu 5-10 menit atau tidak lebih dari 20 menit, kasus sedang tuntas dalam waktu 10-20 menit atau tidak lebih dari 30 menit, dan kasus berat tuntas dalam waktu 30-50 menit atau tidak lebih dari satu jam.

Program Jamkemas dan Jamkesda
Ia mengatakan bahwa sesuai dengan Perda No. 6 Tahun 2009 yang dikeluarkan Gubernur Papua tanggal 3 Maret 2009, pihaknya saat ini sudah mengimplementasikannya sehingga bagi masyarakat asli Papua miskin dan bagi warga asli Papua yang tidak mampu tidak dipungut biaya dalam bentuk apapun. Hal ini berlaku bagi pasien yang memiliki kartu Jamkesmas ataupun tidak karena, bagi pasien yang memiliki Kartu Jamkesmas sudah tercover dari dana APBN sedangkan yang tidak terakomodir oleh Perda No. 6 Tahun 2009 yang dikeluarkan Gubernur Provinsi Papua tanggal 3 Maret 2009 tentang Kesehatan Gratis bagi masyarakat Papua. Kebijakan yang ditempuh ini ditujukan untuk meningkatkan standar dan mutu pelayanan di RSUD Abepura. “Diperlukan sebuah terobosan radikal untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga bisa dirasakan oleh masyarakat. Pihak kami juga berusaha membebaskan biaya bagi masyarakat non Papua, yang benar-benar tidak mampu”.

Menurutnya kebijakan ini adalah dilakukannya mengingat sumpahnya sebagai seorang dokter yang harus melayani masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan. Saat ini ia sudah membuat Juknis (Petujuk Teknis) tentang prosedur pelayanan sesuai Perda No.6 yang dikeluarkan Gubernur dan juga Formularium (daftar obat-obatan) RSUD Abepura. “Para dokter dan tenaga medis yang melayani harus mengacu kepada formularium sehingga tidak ada lagi biaya bagi masyarakat yang berobat,”.


Pembangunan Fasilitas

Era kepemimpinan Giay jumlah pasien yang dirawat di RSUD Abepura, semakin meningkat, apalagi setelah pemberlakuan program Jamkesda. “Kami cukup kewalahan bahkan terkadang kami terpaksa menggunakan lorong untuk menampung mereka karena tidak mungkin kita tolak. Kami senang karena hal ini berarti masyarakat semakin percaya dengan kami dan mereka (masyarakat-red) juga semakin sadar dengan arti dan pentingnya pemeliharaan kesehatan,”. Aloysius Giay, juga mengungkapkan bahwa angka kematian pun semakin berkurang sebesar 2,1 %. Menurutnya masih banyak yang perlu dibenahi di RS tersebut seperti masalah bangunan yang masih minim baik untuk perawatan, administrasi, maupun gudang obat. Hal ini menjadi salah satu prioritas program utama tahun 2010, yaitu penambahan fasilitas RSUD Abepura, khususnya ruang-ruang unit perawatan.
Melihat luas tanah di RS Abe, sangat tidak mungkin kompleks RS diperluas lagi. Tidak kehabisan akal, pihaknya merencanakan menambah lantai ke atas.

“Mengenai rancangan bangunnya kami siapkan dalam bentuk lantai 3 dan 4, untuk gudang logistik, serta kantin dan koperasi bagi para petugas medis.
Selain, penambahan ruang unit perawatan, hal mendesak yang harus segera dibenahi adalah, ruang UGD dan pembangunan gudang farmasi di depan UGD yang dulunya lokasi parkir. Untuk Fasilitas penunjang pelayanan, saat ini manajemen RS sedang berusaha melengkapi secara bertahap, misalnya AC untuk ruangan kerja dan kipas angin

Kebersihan
Sementara itu tidak lupa juga bidang pelayanan kebersihan dan gizi juga semakin diperhatikan. Lorong-lorong rumah sakit sekarang ini semakin bersih dengan penataan kebun dan tanaman bunga di sepanjang sisinya. Di instalasi loundry misalnya saat ini sudah hampir pasti melakukan tugasnya membersihkan kebutuhan pasien seperti sprei, sarung bantal, gorden, dan lain-lain, sesuai dengan prosedur dan standar kebersihan rumah sakit. “Kami baru saja mendapat tambahan mesin baru dan dengan tenaga loundry sebanyak 8 orang sudah mampu mengatasi hal ini. Kedepan kami merencanakan untuk melakukan study banding ke beberapa RS untuk meningkatkan kualitas pelayanan kami,” kata Kepala instalasi Loundry Yulianus Yawang S.Sos.

Program lain yang saat ini sedang digalakkan dan sudah mulai menampakkan hasilnya adalah RS yang bebas asap rokok, bebas pinang dan miras. “Saya berusaha melakukan tindakan tegas terhadap masyarakat yang mengisap rokok dan membuang ludah pinang di sembarang tempat, terutama bagi petugas RS. Saya juga tidak memberi toleransi kepada orang yang mengonsumsi miras di lokasi RS. “Saya bahkan menginstruksikan kepada petugas keamanan untuk tidak segan-segan bertindak represif kepada orang yang mengonsumsi miras di lokasi RS,”.

Di instalasi gizi juga memperlihatkan kemajuan signifikan. Makanan yang disajikan kepada pasien sudah lebih dari layak. Allosyus bahkan mengaku lebih senang makan makanan dari RS ketimbang di restoran. “Kalau ingin sembuh pasien harus diperhatikan kebersihan serta kualitas gizinya,” katanya tersenyum. Allosyus juga seringkali melakukan inspeksi mendadak untuk mengontrol langsung kondisi lapangan baik kebersihan maupun kualitas pelayanan. “Bapak sering melakukan sidak ke setiap ruangan jadi petugas selalu berusaha melakukan tugasnya sebaik mungkin,” kata seorang perawat. Selain itu ia senantiasa memberikan arahan dan petunjuk bagi para petugasnya pada acara apael pagi, yang rutin digelar.


Hambatan

Setelah berbagai pembenahan yang dilakukan namun tidak luput juga dari berbagai kendala. Hambatan seperti masih terbatasnya pasokan air bersih di setiap ruangan. Hal ini juga diakui oleh. “Kami masih sangat kesulitan terhadap air bersih baik untuk loundry, maupun untuk kebutuhan ruangan. Saat ini kami masih mengandalkan sumur artesis, karena pasokan dari PDAM masih sangat minim,”. Menurut Giay pihaknya mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakan tangki-tangki air untuk menampung air dari PDAM. “Kami juga telah melakukan kerjasama dengan pihak PDAM untuk membangun pipa air khusus untuk melayani kebutuhan Rumah sakit, dengan nilai 1, 2 Miliar yang akan beroperasi pada tahun 2010. Kami yakin jika hal ini telah berjalan maka keluhan kami terhadap pasokan air bersih akan terselesaikan,”.

Ia juga prihatin dengan kesejahteraan para pegawainya. “Kasihan mereka sudah bekerja keras, namun kesejahteraan masih sangat sangat minim. Masih banyak hak-hak mereka yang belum terakomodir. Namun saya bersyukur mereka tidak banyak menuntut dan tetap melaksanakan tugas pokok sebagaimana mestinya,” kata pria kelahiran 08 September 1972.

Setelah semua perubahan yang telah dilakukan berbagai apresiasi dan dukungan datang dari berbagai kalangan. Ketua Dewan Kesehatan Rakyat Papua Kota Jayapura Alex Krisifu dan Koordinator Sekretariat DKR Provinsi Papua Donald Heipon, dalam kunjungannya beberapa waktu lalu mengatakan bahwa DKR Papua siap mendukung kebijakan yang diambil Direktur RSUD Abepura drg. Aloysius Giai, M.Kes. selama itu Pro-Rakyat. “Saya berharap DKR selalu mengawal dan mengawasi, dan mengontrol setiap kebijakan yang ditempuh oleh pihak RSUD, agar lebih memberikan pelayanan maksimal kepada masyrakat,”, kata Giyai. (Junaedy Patading)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar