Senin, 30 November 2009

Pengabdian Sang Security


Pahlawan tanpa tanda jasa selama ini melekat erat pada para tenaga pendidik, namun bukan kritikan bila pengabdian mereka masih mendapat imbalan jasa yang cukup setimpal atas jasa-jasa mereka. Berbeda dengan nasib anggota Pertahanan Sipil (HANSIP), hanya dengan imbalan seragam hijau-hijau, sepatu hitam, dan tongkat yang menjadi kebanggaannya, mereka dengan sukarela menjalankan tugasnya membantu aparat keamanan menjaga ketertiban masyarakat. Berikut ini kisah Hiron Bamunti, salah seorang anggota Hansip asal Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.
Tempaan alam yang keras tampak tergambar pada raut muka yang keriput dan tampak lebih tua dari usia sesungguhnya dari pria kelahiran Oksibil 40 tahun silam ini. Menjalani masa kecilnya, sama seperti anak-anak pegunungan Papua lainnya, dengan kondisi alam yang keras, Hiron tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan tabah serta tahan terhadap semua kesulitan hidup yang menimpanya. Perannya sebagai Hansip dimulai sejak tahun 1975, pada saat itu Hiron masih berumur tujuh belas tahun.Tugasnya sebagai Hansip dimulai dengan ikut andil dalam membantu pemerintah membuka kampung-kampung dan distrik-distrik baru di daerah Pegunungan Bintang. Bukan pekerjaan mudah melaksanakan tugas ini karena ia mesti berjalan kaki menempuh jarak yang jauh dengan kondisi alam yang terjal dan berbukit bersama petugas lainnya.
Sebuah pengalaman tidak terlupakan baginya pada tahun 1989, ketika ia dan beberapa temannya berangkat ke wilayah negara tetangga Papua Nugini (PNG) untuk membujuk ratusan penduduk yang menyeberang kesana akibat kesulitan perekonomian serta ketakutan akibat tuduhan sebagai anggota GPK. “Waktu itu daerah kami menjadi daerah operasi militer, sehingga banyak penduduk yang melarikan diri kesana (Papua Nugini-red), karena takut,” kenang Hiron. Di sana Hiron dan teman-temannya mesti berjuang keras meyakinkan mereka untuk pulang ke kampung halamannya. “Setelah saya dan teman teman menjelaskan bahwa mereka telah keliru, karena lari tidak menyelesaikan masalah dan tidak perlu takut dengan tentara, akhirnya mereka mau kembali ke kampung halamannya,” ujar Hiron. Menurut Hiron, Ia dan teman-temannya tidak pernah mendapat maupun mengharap penghargaan atas jasa-jasa mereka tersebut. “Kami hanya membantu dengan ikhlas, dan tidak berharap diberi imbalan jasa, atau penghargaan. Penghargaan yang paling indah itu asalnya dari Tuhan,” kata pria berpostur kecil ini.
Tahun 2003, setelah pemekaran Kabupaten Pegunungan Bintang dari Kabupaten Puncak Jaya, akhirnya Hiron ditugaskan sebagai penjaga keamanan di kantor DPRD, Kabupaten Pegunungan Bintang, dengan gaji sebesar Rp1.500.000. Menurutnya gaji sebesar itu tidak mencukupi untuk ukuran Oksibil saat itu. (Sebagai perbandingan saat ini harga semen di Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai Rp1.200.000/sak, sementara harga bensin sebesar Rp40.000/liter).
Lima tahun bertugas di Kantor DPRD, akhirnya pada awal tahun 2009 ia kemudian di tugaskan untuk menjaga keamanan di kantor Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang. Keikhlasan, dan pengabdian, serta loyalitas diperlihatkan Hiron dan kawan–kawannya yang lain seperti Paulus Abintamo, Anton Abintamo, Leo Mimin, serta Salsan anjing setianya, mengamankan aula kantor Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, lokasi dimana berlangsungnya Rakerda dan Musrenbang daerah. Setiap pagi sebelum pukul 08.00 WIT, Hiron harus memimpin rekan-rekannya membersihkan halaman aula, selanjutnya mereka mesti stanby di pos masing-masing, di setiap sudut kantor Bupati selama kegiatan berlangsung sampai berakhir pada pukul 20.00 WIT.
Tidak hanya sampai disitu ketulusan yang di tunjukkan Hiron. Bersama pemilik tanah adat Betkum Uropdana lainnya, mereka dengan sukarela menyerahkan tanah adat tersebut untuk dijadikan arel pembangunan kantor bupati Kabupaten Pegunungan Bintang.

Berjuang untuk keluarga
Di sela himpitan ekonomi Hiron juga tidak tidak pernah menyerah pada keadaan. Tekadnya untuk memperbaiki nasib keluarganya ditunjukkan dengan perjuangannya menyekolahkan anaknya yang berjumlah enam orang. Hanya dengan bekerja sebagai petani sayur-sayuran, jagung dan ubi-ubian, Hiron bersama sang istri, Basylia Kasibmabin mampu menyekolahkan semua anaknya, tanpa bantuan orang lain. Lewat perjuangan kerasnya, saat ini salah seorang anaknya telah bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil pada dinas pertanian Kabupaten Pegunungan Bintang. Saat ini Hiron dan Basylia masih harus menanggung beban biaya kuliah dua orang anaknya. Tidak tanggung-tanggung, salah seorang anaknya saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester lima salah satu perguruan tinggi di Jakarta, sementara seorang lagi duduk dibangku kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Jayapura. Selain itu salah seorang anaknya saat ini masih duduk dibangku sekolah SMU di Jayapura, sementara kedua anak lainnya duduk di bangku SD. “Semua ini terjadi karena pertolongan Tuhan. Saya sangat berharap salah seorang anak saya bisa menjadi seorang polisi, karena bagaimanapun saya sudah bertekad untuk menjadikan anak saya lebih baik dari saya, dan saya tidak akan menuntut balas atas semuanya” kata pria yang dulunya bercita-cita jadi polisi ini. Yepmum, Telepe, Asbe, Labmum, Jelako.(R3).

Potret Kemiskinan di Negeri Otonomi Khusus


Deretan rumah mewah pejabat disepanjang jalan menuju kawasan angkasa Jayapura, tak ubahnya seperti topeng yang menutupi wajah kemiskinan di bagian belakangnya. Jika kita menyusuri jalan Sabang Merauke, kita akan mendapati sebuah perkampungan yang disebut kampung Wamena. Sebuah ironi tampak jelas terpampang. Beberapa rumah papan yang sudah dimakan rayap, menandakan status social penghuninya. Namun gelak tawa sekumpulan anak kecil yang sedang bermain sepertinya menghapus semua kesedihan dan penderitaan penghuni kampung ini.
Fanny Asso misalnya bocah manis ini tampak selalu ceria berkejar-kejaran dengan teman-teman sepermainannya. Anak kecil berkulit putih dengan rambut keriting pirang menandakan hasil perkawinan campuran ini merupakan anak dari Paul Asso. Umurnya yang sudah tujuh tahun seharusnya mengantarkannya duduk di bangku sekolah dasar, namun kenyataannya hingga sekarang Fanny harus rela menghabiskan hari-harinya bermain di halaman rumahnya. “Saya mau sekolah tapi kata bapak tidak punya uang untuk biaya,” katanya polos.
Paul dan anaknya Fanny, menempati rumah berpetak tiga. Mereka sendiri menempati bagian tengahnya, sementara dua petak lainnya ditempati oleh kerabatnya. Ruang tamunya tampak rapi. Sebuah meja kayu panjang tanpa taplak, hanya dihiasi oleh sebuah vas bunga dan setumpuk buku rohani serta sebuah Alkitab. Sebuah televisi tua merek sony empet belas inch menjadi satu-satunya penghibur duka lara Paul dan Fanny, sementara jam dinding Seiko yang jarumnya tidak bergerak pertanda mati, sepertinya menjadi saksi bisu penderitaan keluarga ini.
Menurut Paul Asso, ibu Fanny yang asal Jawa, telah meninggal dunia beberapa waktu lalu akibat tumor ganas yang tidak pernah mendapat pengobatan. Ia sendiri dalam keadaan sakit sakitan. “Saya kasihan melihat Fanny. Setiap pagi mukanya kelihatan sedih melihat anak-anak lainnya yang berangkat ke sekolah. “Saya hanya mampu menyekolahkannya hingga Taman Kanak-Kanak,” ujar pria berbadan kurus ini.
“Saya lahir di Wamena, dan sekolah hingga kelas dua SMP, namun karena keterbatasan biaya, akhirnya saya berhenti dan berniat mencari pekerjaan. Kesulitan hidup di Wamena membuat saya berpikir untuk merantau ke Jayapura. Saya datang kesini (Jayapura-red) sejak tahun1980,” kata Paul memulai kisahnya. Di Jayapura Paul kemudian bekerja di rumah Komandan Kodim Danin Harianto. “Waktu itu saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Semuanya saya kerjakan mulai dari memasak, mencuci, menyetrika, hingga mengantar anak-anak ke sekolah. Saya bekerja disana tanpa imbalan, saya hanya berpikir yang penting saya bisa hidup,” kata pria kelahiran Wamena 1963 ini.
Setahun kemudian Paul memutuskan untuk bekerja sebagai cleaning service di depot Pertamina Dok IX, Jayapura. Di sini Paul bekerja selama kurang lebih empat belas tahun. Namun usia yang terus menggerogoti hidupnya menyebabkan ia harus berhenti. Oleh atasannya ia kemudian dipindahkan ke rumah dinas pimpinannya juga sebagai petugas kebersihan. Setelah bekerja selama satu tahun lebih satu persatu penyakit mulai menderanya. “Kata dokter saya menderita penyakit maag kronis, namun saya terpaksa tidak berobat karena tidak memiliki biaya, sementara ini saya belum menerima pesangon dari tempat kerja saya dulu. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan,“ katanya.
Hingga saat ini Paul hanya bisa berharap uluran tangan dari kerabat-kerabat terdekatnya. “Saya beruntung masih ada Alex Siep (kerabatnya-red) yang mau menolong kesusahan saya. Rumah yang kami tempati ini juga kami bangun dari hasil patungan dengan bapak Alex dan keluarga lainnya,” ungkap Paul. Kini Paul dan Fanny hanya bisa berharap perhatian dari pemerintah atau dermawan yang dapat membantu kesulitan ekonomi dan menyekolahkan Fanny demi masa depannya. Ataukah pendidikan gratis anak-anak Papua, yang digembor-gemborkan pemerintah mungkin hanya akan menjadi sebuah mimpi penghias tidurnya. (R3)

Hidup Tanpa Harapan


Jika kita berada di Jakarta fenomena perumahan kumuh dan tempat tinggal yang tidak layak huni bukan pemandangan langka. Namun jika hal itu terjadi di daerah yang diberi otonomi khusus seperti Papua, lalu sejauh mana peran dari otsus itu sendiri setelah berjalan hampir sembilan tahun. Bahkan hal itu bisa ditemui di tengah ibukota Provinsi Papua, Jayapura yang menjadi pusat pengelolaan dana otsus.
Pina May mungkin salah satu dari sekian banyak contoh kegagalan otonomi khusus, yang digadang-gadangkan mampu mewujudkan kesejahteraan orang Papua.
Ditemui Senin malam 15 Juni 2009 lalu di pondoknya yang terletak di sudut jembatan Hanyaan, jalan raya poros Hamadi-Entrop, suasana pondok mama Pina demikian ia biasa disapa tampak lengang, dan temaram. Tempat kediamannya yang berukuran kurang lebih tiga kali lima meter itu lebih layak disebut gubuk hanya diterangi oleh sebuah lampu lantera, dan ruang dalamnya, yang merupakan dapur sekaligus tempat tidur diterangi oleh pelita, yang terbuat dari kaleng buatan mama Pina sendiri. Lantai papan yang berderik dan beberapa tampak lepas dari posisinya karena tidak di paku, membuat kita mesti hati-hati melangkahkan kaki, jika tidak mau terperosok kedalam sungai. Tidak ada meja ataupun perabot lain di dalamnya. Menurutnya tanah tempat membangun gubugnya tersebut merupakan tanah adat suku Dawir. “Saya sudah mendapat ijin dari kepala suku, untuk tinggal disini,” ungkap mama Pina.
“Pondok ini saya buat sendiri, sekitar lima tahun lalu tanpa bantuan siapa-siapa,” katanya. Perempuan kelahiran Serui enam puluh tahun silam ini menceritakan bahwa suaminya Suradi yang asal Jawa merupakan seorang nakhoda kapal Navigasi Teluk Tanah Merah, milik dinas perhubungan provinsi Papua. Namun karena terserang penyakit, akhirnya meninggal dunia, meninggalkan Pina dan seorang anak perempuannya. Kesulitan ekonomi yang mulai menghimpit, membuat Pina memutuskan menyerahkan anak semata wayangnya ke pihak neneknya di Jawa, untuk di pelihara. Jauhnya jarak yang memisahkan Pina dan anaknya menyebabkan putusnya hubungan komunikasi diantara mereka. Kabar terakhir menyebutkan bahwa anaknya tersebut telah berada di Swiss, karena menikah dengan orang setempat.
Kehilangan suami dan anaknya tidak membuat Pina hilang arah hidupnya. Berbekal semangat untuk bertahan hidup mama Pina berjuang mencari nafkah sebagai pencari kayu bakar, yang kemudian dijual di depan gubugnya. Setiap harinya mama Pina berangkat mencari kayu dengan mengayuh sampan mengarungi kali Hanyaan hingga muara bersama teman-teman lainnya, hingga muara Tobati. “Kami biasanya berangkat bersama teman-teman pukul 08.00 dan pulang ke rumah pukul satu siang,” ungkap wanita asal Serui ini. Setelah beristirahat mama Pina melanjutkan aktifitasnya untuk membelah kayu bakarnya untuk dikeringkan. Dari hasil menjual beberapa tumpuk kayu bakar mama Pina hanya bisa menghasilkan enam puluh ribu rupiah itu pun kalau laku terjual. “Terkadang satu harinya tidak ada yang laku, apalagi kalau lagi tanggal tua,’ ujarnya. Walaupun penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhannya, namun mama Pina tidak pernah mau meminta belas kasihan orang lain. Gaji pensiunan suaminya yang tidak pernah diterimanya tidak membuatnya sakit hati. Dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diprioritaskan bagi fakir miskin pun tidak diharapkannya. Bahkan dua orang saudara kandungnya yang telah menempati posisi strategis di pemerintahan, juga tidak menunjukkan perhatian kepadanya. “Saya tidak mau berharap pada orang lain bahkan kepada anak dan saudara-saudaraku Soleman dan Frans May,” tandasnya.
Di gubugnya tersebut Mama Pina hanya ditemani oleh tiga ekor anjing kesayangannya jena, ani dan asko. Ketiganya dengan setia menjaga gubug jika mama Pina keluar ataupun sedang tidur. “Saya tidak pernah takut tinggal sendirian di sini. Sering di depan ada orang mabuk namun mereka tidak pernah mengganggu saya,” kata Pina.
Penderitaan yang dialami mama Pina tidak membuatnya lupa akan Tuhan, sebaliknya ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa, dan beribadah setiap hari minggu di Gereja. “Saya selalu bersyakur dalam segala kekurangan saya, sehingga hati saya selalu gembira menjalani hidup,” ungkap wanita yang gemar menggunakan kalung salib ini. (R3)

Hapus Stigma


Persepsi pemerintah pusat dan militer terhadap masyarakat asli Papua
Menurut Neles Tebay Sejak Papua diserahkan Belanda kepada Indonesia orang Papua tidak diperlakukan sebagai orang Indonesia, tetapi dipandang sebagai musuh, lewat operasi-operasi militer yang dilaksanakan di Papua. Sehingga sejak awal sudah ada main set yang menempatkan orang Papua sebagai separatis, sehingga sejak 2 Mei orang Papua diperlakukan sebagai separatis atau musuh. Sejak itu juga berbagai operasi militer itu dilakukan dengan maksud memberantas musuh dan separatis. Jadi yang pertama harus dilakukan pemerintah pusat adalah mengubah pandangan tersebut. Pemerintah harus melihat orang papua sebagai orang Indonesia juga. Caranya orang papua harus diberi ruang untuk terlibat dalam pembangunan di Papua. Dimana kebijakan dilakukan di luar Papua tetapi pelaksanaannya dilakukan di Papua, sementara mereka tidak mengerti tentang kearifan lokal Papua. Berapa contoh ketidak adilan yang dialami oleh orang papua seperti
1. pengambilalihan hutan adat oleh perusahan perusahan kayu yang mendapat protes dari masyarakat adat Papua. Aksi protes tersebut langsung diterjemahkan sebagai aksi separatis. Jadi bagaimana kita bisa membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Papua jika setiap aspirasinya langsung dituding sebagai separatis.
2. Setelah adanya UU otsus justru terjadi penambahan pasukan di wilayah Papua, yang walaupun kita tidak mengetahui jumlahnya namun Indikatornya jelas seperti penambahan Korem, pembukaan Kodim baru seiring pemekaran kabupaten baru, yang secara otomatis diikuti oleh pembentukan Koramil-Koramil baru di setiap distrik. Indikator lainnya adalah penambahan jumlah personil di batalyon-batalyon infantri baru, pembukaan pos-pos pengamanan baru. Hal ini jelas membuktikan bahwa telah terjadi penambahan jumlah [pasukan di tanah Papua, karena tidak mungkin semuanya itu dibangun tanpa penambahan personil pasukan, dan yang kita lihat yang berseragam, belum lagi yang tidak berseragam.
3. Sikap arogansi militer terhadap orang asli Papua. ”Jika mereka hendak kesuatu tempat mereka akan diinterogasi dulu. Hendak kemana, dan tujuannya apa, jadi hal ini membuktikan bahwa mereka mendapat perlakuan diskriminatif sehingga ruang geraknya terbatas. Mereka sepertinya bukan orang Indonesia sehingga harus diinterogasi. Kami malah merasa lebih aman sebagai orang Indonesia justru di luar Papua,”. Pengalaman saya tahun 80-an jika kita jalan-jalan maka kita harus bawa KTP, karena tentara pasti tanya, karena jika tidak ada KTP berarti separatis, dan aturan itu hanya berlaku untuk orang Papua, sementara pendatang tidak.
4. Pada saat pemilu lalu banyak orang papua yang tidak terdaftar dalam DPT. Hal ini menunjukkan orang papua tidak dianggap sebagai orang Indonesia, karena yang melakukan pendataan adalah pemerintah sendiri.
”Saya baru menyusun daftar penembakan yang terjadi beberapa minggu terakhir. Sekarang ini Papua sepertinya dijadikan arena atau tempat latihan tembak”. Kemarin yang heboh itu di Timika karena korbannya orang asing, sementar jika yang korban itu orang Papua itu tidak dihargai sama sekali mungkin dianggap tidak bernilai,”
Jadi yang menyatakan orang Papua itu bukan orang Indonesia adalah pemerintah sendiri dan militer hal itu tercermin dari sikap dan tindakan mereka terhadap orang Papua asli. Nasionalisme orang Papua hanya diukur sejauh mana ia mengibarkan bendera merah putih. Sekalipun Ia mengibarkan bendera merah putih ia tetap diasumsikan sebagai separatis. Sebagai anggota dewan, pejabat pemerintahan, atau apapun tetap saja ada kecurigaan bahwa mereka itu separatis. Tidak ada cerita bahwa operasi militer dilakukan di Papua untuk mengejar orang non Papua yang tinggal di Papua. Sasarannya tetap orang asli Papua, sehingga dalil separatis selalu dijadikan alasan untuk membunuh orang Papua. Hal inilah yang menyebabkan biasa berkata ; jika kami tidak dipandang sebagai orang Indonesia maka biarkan kami mengurus diri sendiri”. Jadi dalam hal ini orang Papua hanya sebagai akibat, sementara penyebabnya adalah pemerintah sendiri.

Kegagalan Implementasi Otsus
Pada dasarnya UU otsus itu teorinya bagus, karena ada perlindungan, keberpihakan dan pemberdayaan, dan jika perdasus dan perdasi tidak bermuara kesini bararti harus diganti, dan ini adalah fungsi dari MRP, untuk mengawasi. Persoalannya adalah sejak awal pemerintah tidak menghendaki otsus. UU otsus dilakukan untuk meredam tuntutan rakyat Papua untuk merdeka sedang bergejolak bahkan gaungnya sampai ke dunia Internasional. ”Karena tidak ada niat baik pemerintah untuk menjalankan otsus, maka dalam setiap kebijakan di papua selalu bertentangan dengan UU otsus,” ujarnya. Hal itu terbukti ketika Presiden megawati menandatangani UU otsus tahun 2001 sedangkan pada januari 2003 meneluarkan inpres pemekaran 3 provinsi di Papua. Yang kedua menurut UU otsus MRP dibentuk setelah 6 bulan stelah lahirnya Otsus namun hal tersebut harus menunggu 4 tahun untuk pembentukan MRP. Yang ketiga presiden SBY mengeluarkan inpres percepatan pembangunan, dan hal ini tumpang tindih dengan UU otsus dan yang lebih parah lagi hal ini disetujui dan diterima oleh pemerintah provinsi, mungkin mereka mengira akan ada dana khusus untuk inpres seperti otsus. Pemekaran provinsi Otsus justru membawa kerancuan, karena dengan dengan demikian disana juga menuntut pembentukan MRP. Perlu ada pengadilan Ham, sehingga disana juga harus ada pengadilan HAM juga KKR, jika dibentuk apa dasar hukumnya demikian sebaliknya. Hal ini sengaja dilakukan pemerintah pusat. Kemudian UU otsus juga mnegisyaratkan bahwa orang Papua boleh memiliki bendera sebagi lambang jati diri. Perdasus yang harus dibuat gubernur jadi gubernur mana yang harus membuatnya. Jadi kebijakan pemerintah pusat tersebut cenderung menghambat pelaksanaan implementasi otsus. (R3)

Membentuk Karakter Dan Mental Lewat Olahraga Beladiri




Kushin Ryu ; “Jiwa yang besar disertai akal budi pekerti yang luhur dan memiliki ilmu yang tinggi dan percaya diri dapat membela diri dengan tangan kosong,”.

Sejarah KKI
Pendiri Kushin Ryu Karatedo adalah Kiyotada Sannosuke Ueshima di wilayah Hyogo (Kobe), di kota Akou, Jepang. Aliran perguruan KKI (Kushin Ryu M Karate-do Indonesia) lahir pertama kali di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1966. Organisasinya sendiri resmi berdiri setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 11 April 1967. Aliran Kushin Ryu di Indonesia diperkenalkan oleh Sensei Horyu Sinya Matsuzaki, yang kini menyandang gelar sebagai Presiden Kushin Ryu Se-Dunia. Aliran perguruan KKI (Kushin Ryu M Karate-do Indonesia) lahir pertama kali di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1966. Organisasinya sendiri resmi berdiri setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 11 April 1967. Aliran Kushin Ryu di Indonesia diperkenalkan oleh Sensei Horyu Sinya Matsuzaki, yang kini menyandang gelar sebagai Presiden Kushin Ryu Se-Dunia.

KKI Papua
KKI sendiri masuk ke Papua pada tahun 1967, yang diperkenalkan oleh anggota Detasmen Kavaleri Panser Cobra (Den Kav Ser Cobra), dengan pelatih Kopral Hermanto, Sersan Mudjabir, Sersan Mayor Sungkowo di kota Jayapura. Hingga saat ini KKI telah berkembang menjadi perguruan karate terbesar yang ada di Papua dan telah tersebar di hampir semua kabupaten dan Kota. Kepengurusan KKI untuk periode 2007/2011, dijabat oleh Alex Hasegem, pemegang Dan III Karate-Do, yang juga merupakan Wakil Gubernur Provinsi Papua, sementara Ketua Harian dipercayakan kepada Fannie Dimara (Dan II Karate-Do), yang juga anggota Komisi C DPRP Papua.
Menurut Fannie Dimara, hingga saat ini keanggotaan KKI Papua sudah mencapai lebih dari 1000 anggota. ”Fungsi dari Karate-Do itu sendiri adalah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menyadari bahwa daya potensi yang dimilikinya baik secara fisik, maupun spiritual, dapat dilatih melalui latihan yang tepat dan terarah, dengan tidak meninggalkan aspek-aspek penting dari Karate-Do, yaitu Karate Do sebagai seni beladiri, pembinaan mental dan fisik, sebagai sains, , dan olahraga pertandingan, dengan tujuan mengajarkan dan membentuk atlet sesuai tahapan dalam kurikulum untuk menciptakan atlet yang berkualitas, dan mempelajari teknik berkelahi, dalam keadaan mendesak,” kata Dimara. Pedoman Karate-Do KKI menrut Dimara yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, setia kepada bangsa dan tanah air Indonesia, bersifat jujur dan sportif, berjiwa tabah, berani, berjiwa suka menolong sesama, disiplin, dapat menguasai diri, bersifat ksatria dan sopan santun, dan setia kepada jiwa Karate-do.
Beberapa prestasi membanggakan yang pernah ditorehkan oleh KKI Papua seperti meloloskan enam atlet yang memperkuat tim karate Papua pada PON XVII Kalimantan Timur tahun 2008 lalu. Salah satunya Yolanda Asmuruf yang saat ini tercatat sebagai pemain Pelatnas sejak bulan Februari lalu di Kaltim untuk menghadapi Sea Games di laos Desember mendatang. Dalam bulan Juli lalu juga KKI Papua berhasil meloloskan 7 atletnya untuk mengikuti Seleknas, di Lampung, yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2009. Mereka diantaranya ; Adonia Wally (Kelas 48 Kg putri), Dian Yoku (dibawah 60 Kg putri), Vera Yoku (di atas 60 Kg putri), Yansen Ibo (di bawah 70 Kg putra), Jefry Pasaribu (di bawah 75 Kg putra), Charles W. (di bawah 66 Kg putra), dan Ryan Lukman (di bawah 55 Kg putra). ”Mereka adalah hasil seleksi daerah dari berbagai dojo di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom,” kata Dimara.
Di Kota Jayapura sendiri terdapat beberapa dojo KKI yang dilatih oleh para traineer handal seperti dojo BPD, dimana Alberth Pesulima (Dan IV Karate-Do) bertindak sebagai pelatih kepala didampingi oleh Lamuri Jumbo sebagai asisten pelatih (dan 3 Karate-Do). Menurut Alberth hingga saat ini anggota yang aktif di dojo BPD sebanyak 85 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok umur. Sementara itu dojo Uncen, Abepura bertindak sebagai pelatih kepala yaitu Zakarias Sogorom (Dan IV Karate-do), dan asisten pelatih Rustam Sattuan (Dan III Karate-Do). ” Saat ini anggota kami kurang lebih 100 orang, yang sebagin besar merupakan pelajar dan Mahasiswa,” kata Irwan Rahim yang juga pengurus dojo Uncen. Selain dojo terdapat juga ranting Karate-Do yang telah terbentuk di beberapa sekolah.
Kini dengan semangat untuk memasyarakatkan olahraga Karate, KKI Papua semakin gencar menggiatkan pembentukan cabang di setiap kabupaten. ”Kami sedang menggiatkan pembentukan dan pembinaan cabang di setiap Kabupaten, sehingga masyarakat semakin mengenal olahraga ini sebagai sarana pembinaan mental dan fisik, terutama sebagai wadah bagi generasi muda untuk berprestasi dan tidak melakukan aktivitas yang merugikan diri sendiri dan masyarakat luas. Jika mereka punya kegiatan dan prestasi, maka paling tidak ini akan berdampak positif terhadap masa depan dan karakter dalam hidup bermasyarakat,” kata Dimara. (R3)

Harapan Yang Tak Kunjung Tiba


Fisiknya mungkin tidak seperti orang lain namun tidak demikian dengan semangat hidupnya.
Sebuah rumah berdinding tripleks beratapkan seng berukuran tidak lebih dari empat kali enam meter yang terletak di jalan Ardipura 4 RW 5 sore itu tampak ramai. Seorang wanita tua tampak sedang mengayunkan kapak untuk membelah kayu bakar. Sesekali ia menyeka peluh yang membasahi mukanya yang sudah keriput. Seoarng wanita lain yang lebih muda sedang membersihkan halaman rumah dari sampah yang berserakan. Dua orang anak kecil sedang bermain dihalaman rumah yang tak lebih luas dari ukuran rumah itu. Kedatangan foja sendiri disambut oleh seorang lelaki dengan perawakan tegap namun bertumpu di kedua tongkat besinya karena kehilangan salah satu kakinya. Ia adalah Noach Yoas Mandobar (45), yang lebih akrab di sapa om Noach. “Itu ibu saya,” katanya menunjuk wanita yang sedang membelah kayu itu. “Dan yang itu istri saya dan kedua anak saya, yang seorang lagi sedang ikut latihan gerak jalan. Persiapan tujuh belasan!,” ungkapnya lagi sambil bersiap-siap menyambut kedua anak kecil yang berlari ke dekapannya.
Om Noach mulai bercerita tentang kehidupan yang dialaminya dan keluarganya. “Tahun 1995 saya berprofesi sebagai seorang loper koran, setelah itui saya bekerja menjadi seorang cady Golf di lapangan golf Kodam Cenderawasih. Disana saya kemudian saya dikursuskan sebagai driver,” ungkapnya. Namun karena sebuah hal Noach kemudian keluar dan oleh Tahi Butar Butar (Direktur Yayasan Pemberdayaan Kesejahteraan Masyarakat) ditugaskan sebagai driver. “Saya waktu itu sudah membulatkan tekad untuk mengabdi bagi sesama. Sering ketika merawat ODHA, saya bahkan tidak menggunakan pengaman, walaupun sering diingatkan teman-teman lain,”. Berkat pengabdiannya itu Noach pun merasa menemukan kebahagiaan tiada tara. “Walaupun harus mengunjungi kampung demi kampung, bahkan biasa pulang pagi, namun saya selalu merasa bahagia, karena merasa hidup saya sudah berguna untuk orang lain,”. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nasib berkata lain. Sebuah peristiwa naas menimpa Noach.
“Saya mengalami kecelakaan motor tahun 2003 lalu dari perjalanan dari sentani ke Jayapura bersama seorang temannya. Motor slip dan jatuh bertepatan ketika sebuah truck melintas dan menggilas kaki saya,” katanya sambil memejamkan mata. Entah sepertinya masih trauma atau sedang mengingat sesuatu.
Dalam keadaan terluka parah sesorang yang lewat dengan mobil taft berhenti untuk menolongnya. “Waktu itu saya tidak pingsan karena saya masih sempat mendengar terikan histeris dari orang itu walaupun saya tidak bisa melihat mukanya,”. Sempat mengalami pertolongan pertama di RSUD Abepura, Noach akhirnya dirujuk ke RS Dok II, Jayapura.
Noach mengaku walaupun sempat merasa tertekan akibat harus menghadapi kenyataan kehilangan kaki kirinya, namun hal itu tidakberlarut-larut. Semangat hidupnya bangkit lagi. Ia pasrah menerima keadaan tersebut. “Mungkin ini adalah cobaan bagi saya dan keluarga,”.
Noach yang sebelumnya adalah seorang driver di Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat, Papua beralih tugas menjadi seorang operator mesin foto copy, di YPKM. “Saya juga bertugas menerima telepon yang masuk, dan mencetak tabloid untuk HIV-AIDS,”. Ia bahkan sudah mengikuti kursus komputer.
Setitik harapan terbersit ketika ia dinyatakan berhak atas satu kaki palsu buatan Sugeng dari program Kick Andy (Metro TV). Sayang seribu disayang kaki palsu tersebut ternyata tidak cocok dengan kaki buntungnya. Noach masih harus bertumpu pada kedua tongkatnya.
Dalam kunjungan tim Media Indonesia waktu itu mengundangnya tampil di acara Kick Andy. “Saya sangat bahagia jika saya bisa tampil disana. Saya sangat terinpirasi dengan sosok Sugeng yang cacat namun punya semangat hidup dan bisa berguna untuk sesamanya,”.
Menurut sang istri Yulian (41), Noach seorang yang tegar. “Dia tidak pernah mengeluh, setiap pekerjaan dilakukannya dengan senang,” kata Yuliana. Mereka juga sudah berkali-kali meminta bantuan kaki palsu kepada Dinas Sosial Provinsi, maupun Kota, namun selalu di tolak. Tidak ada alokasi dana. Jawaban yang selalu diterimanya.
Walaupun begitu Noach tidak berkecil hati. Setiap harinya ia menjalankan tugasnya di YPKM sambil mencoba memelihara tiga ekor babinya. Semua itu dilakukannya demi mewujudkan cita-cita ketiga buah hatinya; Daniel Mandobar (11), Abraham Yinseren (7), dan si bungsu Yana Yakomina (6). (R3)

Derita Di Tanah Impian


Jam baru menunjukkan pukul tiga pagi, Suminah bergegas dari pembaringan. Mengambil air wuduh di sumur belakang rumahnya selanjutnya menggelar sajadah untuk ritual sholat subuhnya. Sebait ungkapan doa terlantun lewat bisikan bibirnya. Anak, suami dan rejeki untuk hari ini adalah permintaan rutin disetiap doanya. Sejurus kemudian merapikan mukenah dan melipat sajadahnya.
Ia kemudian membuka tudung saji di meja makan. Segenggam nasi dingin meluncur mulus ke dalam mulutnya, ditemani segelas teh panas.
Setelah mencium kening ketiga anaknya yang masih terlelap ia berjalan keluar rumah sambil menenteng dua tas plastik hitam berisi tomat dan lombok jualannya, menunggu taksi ke arah Jayapura. Ditemui di salah satu sudut perkantoran instansi pemerintah di Dok IX Jayapura, Suminah menceritakan awal mula ia melakoni pekerjaannya itu.
Suminah, 48 tahun perempuan asal Surabaya ini merantau bersama suaminya ke Papua, tiga tahun lalu, tepatnya di Arso IV kabupaten Keerom. “Saya diajak kesini sama teman yang kebetulan pulang ke kampung (Surabaya-red). Dia banyak bercerita tentang mudahnya cari uang yang banyak di Papua. lahan kosong, jaminan pemerintah berupa rumah dan makanan. Pokoknya transmigrasi itu enak,” kenangnya. Tergiur oleh bujuk rayu teman sekampungnya tersebut Suminah dan Sutimin suaminya kemudian berkemas-kemas. Dengan bekal seadanya Sutimin sekeluarga kemudian kemudian berangkat bersama ketiga anaknya, dan meninggalkan kedua anak tertuanya.
Singkat cerita Sutimin sekeluarga tiba di “tanah impian”. Harapan tinggal harapan. Setibanya di Arso Sutimin sekeluarga harus numpang di rumah teman sekampungnya tersebut. Lama kelamaan perasaan risih mendera. “Kami tidak enak numpang terus di rumah teman,”. Mereka akhirnya memutuskan pindah ke salah satu rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. “Saya tidak tahu itu rumah siapa,” katanya lagi. Kehidupan semakin tidak menentu. Untuk menghidupi keluarganya, suaminya hanya bekerja sebagai buruh kasar. Dua tahun kemudian atas alasan menjenguk anaknya di kampung Sutimin kemudian meninggalkan anak istrinya dan kembali ke Surabaya. Hari demi hari berlalu. Bulan berganti bulan. Sang suami yang diharapkan pulang untuk menafkahi tak kunjung datang. “Suami saya berangkat setahun lalu menjenguk anak tapi sampai sekarang belum bisa kembali. Tidak ada ongkos katanya”. Suminah semakin bingung karena harus membiayai hidup dan tiga orang anaknya. “Anak saya masih sekolah saya bingung membiayai mereka,”. Sadar tidak bisa mengharap sang suami ia kemudian berusaha mencari jalan. Dengan modal seadanya ia kemudian membeli lombok dan tomat yang banyak dihasilkan petani di Arso IV yang di jualnya di Abepura atau Jayapura.
Pagi itu dengan penuh keyakinan Sutinah berangkat ke Jayapura menawarkan dagangannya. Sesampainya di Terminal Abepura. Sutinah kemudian melangkahkan kaki beralaskan sandal jepit bututnya. Tidak ada tujuan pasti. Semata-mata hanya menjajakan dagangannya. Sesekali terdengar suaranya menawarkan jualannya ke rumah-rumah. Matahari sudah di ubun-ubun, namun jualan belum juga habis setengahnya. Panas mendera. Sutinah bingung tidak tahu mau kemana lagi. Pilihan terkahir pun dijatuhkan dalam sekejap. Tidak ada jalan lain kecuali ke Jayapura. Setibanya di Jayapura, Sutinah pun kembali berjalan kaki ke arah Dok IX. Panas matahari dan mulutnya yang kering karena berpuasa tidak membuatnya menyerah. Seperti biasanya ia berhenti di setiap kantor pemerintah untuk menawarkan dagangannnya sembari beristirahat. Beberapa pegawai dari dinas-dinas itu telah mengenalnya terutama para wanita.
“Saya tidak tahu mau bikin apalagi, jadi terpaksa saya seperti ini. Kadang tidak ada yang laku jadi terpaksa saya menginap di terminal karena tidak punya ongkos pulang. Tahun depan kalau ada uang saya mau pulang saja ke kampung. Saya sudah tua dan tidak kuat lagi menghidupi anak saya, bahkan untuk lebaran saya tidak ada uang sama sekali,” katanya polos.
Tapi hari itu ia beruntung jualannya laris semua. “Saya mau pulang dulu mas,” ujarnya sambil membenahi barang-barangnya. Lebaran sudah berlalu, namun seperti seperti tahun lalu tidak ada baju baru untuk anak-anaknya. (R3)

Kamis, 26 November 2009

Blunder KIB Jilid II



Pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) telah berlalu, namun bukan berarti lepas dari sejumlah masalah mulai dari komposisi anggota kabinet yang didominasi oleh figur partai, kepastian PDI Perjuangan untuk berada di luar pemerintahan, penolakan sejumlah figur oleh masyarakat, dan yang menjadi kontroversi serta cukup menyita perhatian media adalah gagalnya Nila Moelek menjadi menteri kesehatan dan digantikan oleh Sri Endang Rahayu Setyaningsih.

Dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta nasional, salah seorang fungsionaris partai Demokrat, menyatakan bahwa ‘wajar saja jika yang masuk dalam susunan kabinet adalah orang-orang yang berkeringat’. Hal ini mengindikasikan bahwa SBY cenderung memberi prioritas kepada para tim sukses maupun tokoh parpol koalisi Demokrat, dibandingkan dengan kaum profesional, yang notabene lebih kompeten. Sebut saja nama-nama seperti Hatta Rajasa (PAN), Tifatul Sembiring (PKS), Fredy Numberi, Andi Mallarangeng (tim sukses), Surya Dharma Ali (PPP), dan lain-lain. Tercatat lebih dari 50% di antaranya merupakan figur yang berasal dari partai, sementara selebihnya merupakan kaum profesional. Pertanyaannya adalah apakah mereka (figur partai) cukup berkompeten untuk menduduki jabatan yang sangat penting ini?.

Pengamat politik Maswadi Rauf menilai, di sebuah media harian menilai bahwa pembentukan kabinet SBY kali ini memang sangat ditentukan oleh afiliasi partai. "SBY terlihat ingin melakukan power sharing dengan koalisinya. Hal ini bertentangan dengan keinginan banyak orang agar SBY memilih menteri yang ahli di bidangnya," kata Maswadi. Menurutnya memberikan kursi menteri kepada perwakilan partai politik bukan merupakan kesalahan, namun SBY seharusnya memilih orang-orang partai itu sesuai kebutuhan kementerian dan sesuai keahlian kandidat yang dipilihnya. “Hal ini tidak masalah, tetapi jangan orang sembarangan. Ini tidak hanya merugikan SBY, tapi juga rakyat Indonesia yang berharap banyak dari pemerintah," ujarnya.

Selain itu menurutnya di tubuh partai politik sebenarnya tersimpan para profesional. Namun, pada pemilihan orang-orang partai kali ini, ia menilai SBY agak mengabaikan syarat keahlian bagi seorang menteri. Maswadi berharap, dalam perjalanan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, SBY bisa melakukan evaluasi secara ketat terhadap kinerja menteri-menterinya. "Kalau dalam penilaiannya dipandang tidak layak, maka beliau harus berani memberhentikan. Jangan sampai menteri yang tidak bisa bekerja dibiarkan saja karena bisa merugikan rakyat Indonesia," kata Maswadi.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Cenderawasih Naffi Sanggenafa. Ia menilai komposisi KIB sudah cukup baik namun kurang berimbang antara profesional dengan figur partai. “Masyarakat semakin dewasa untuk menilai buktinya mereka melakukan protes terhadap Hatta Rajasa sebagai menteri perhubungan, karena dianggap tidak mempunyai keahlian di bidang itu, sementara untuk melakukan adaptasi itu butuh waktu. Figur-figur yang baru mesti banyak belajar kepada para pendahulunya agar tidak terjadi over laping, atau hal baru di luar apa yang telah diletakkan sebelumnya karena pembangunan itu harus berkelanjutan. Program 100 hari SBY itu sangat penting sehingga bisa dilakukan evalusi terhadap kinerja menteri itu. Contohnya gagalnya Nila Moelek menduduki jabatan Menkes merupakan blunder karena berdampak negatif terhadap psikologi ibu Nila. Seharusnya SBY menggunakan 100 hari itu sebagai evaluasi bagi kinerjanya,” kata Pembantu Rektor IV Uncen ini.

Ia juga menilai fit and proper test itu tidak menjamin kapabilitas para menteri. “Itu hanya wawancara mengenai apa yang diketahui oleh para kandidat soal posisinya nanti, jadi bisa dikatakan bahwa itu hanya formalitas saja. Kalau mau lebih akuarat seharusnya dilaksanakan oleh lembaga yang independen. “Namanya saja yang fit and proper test,”.

Sementara itu Ketua Fraksi PDIP DPR Papua Max Mirino menilai dalam penyusunan KIB jilid 2, SBY telah melakukan sebuah kemajuan dengan melakukan fit and proper test kepada masing-masing kandidat, dan diikuti secara terbuka oleh publik. “Ini sebuah terobosan baru, yang memberi nilai competitive adventage, dan berbeda dari penyusunan kabinet lainnya di waktu lalu, yang tiba-tiba saja diumumkan,” kata Mirino. Mirino juga memuji SBY, yang mengadakan National Summit, yaitu pertemuan para stake holder, dengan jajaran kabinet di awal masa tugasnya.

Ia juga tidak mempermasalahkan KIB, yang didominasi oleh wajah-wajah dengan latar belakang parpol. “Mereka itu dicalonkan oleh partai, dan tentu saja partai telah mengetahui kapasitas dari calon tersebut lagian mereka tentu mempunyai akses seperti konsultan dalam bekerja, sehingga kita tidak perlu meragukan kinerja mereka ke depan. Yang terpenting adalah bagaimana SBY konsisten menjaga keterbukaan yang telah dibangunnya ini ke depan”. Terkait PDIP sendiri yang tidak ambil bagian dalam KIB, Mirino mengatakan bahwa partainya telah mengambil kebijakan sebagai oposisi. “Salah jika mereka mengatakan kami ketinggalan kereta. Yang benar adalah kami tidak membeli tiket kereta!,” tegasnya membantah pernyataan Andi Alfian Mallarangeng beberapa waktu lalu. (Pat)
Gbr:gudangfurniture.com

Lapas Narkotika Klas II A Jayapura


Memasuki areal Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Narkotika Jayapura suasana tampak lengang, yang tampak hanya ada beberapa mobil dan motor terpakir di halamannya. Di salah satu sudut tembok tampak gambar daun ganja dalam lingkaran dengan strip merah. Di bawahnya terdapat tulisan “stop narkoba”. Setelah melapor di pos pejagaan depan, dengan menjelaskan maksud kedatangan, akhirnya Foja diijinkan masuk.
Memasuki pintu utama, suasana di ruang tunggu besuk tampak ramai oleh beberapa wanita muda, yang belakangan diketahui ternyata napi yang ditangkap di sebuah bar, beberapa waktu lalu di kota Jayapura. Mereka sedang bersenda gurau satu dengan lainnya, dibawah pengawasan beberapa orang sipir Lapas. Setelah melakukan registrasi dengan petugas Foja pun diijinkan masuk menemui Kepala Lapas.
Menurut kalapas Y.Waskito BC.IP,SH,MH,MSi, saat ini terdapat 78 narapidana yang dibina di lapas ini. “Angka ini sewaktu waktu bisa berubah. Ada napi yang masuk dan ada yang bebas,” kata Waskito.
Menurut Waskito ada perbedaan mendasar antara lembaga pemayarakatan narkoba dengan lembaga pemasyarakatan lainnya. “Yang diterapkan di sini adalah sistem pembinaan mental para narapidana untuk disiapkan kembali kelingkungan masyarakat.
Lembaga pemasyarakatan membina mental napi untuk kembali ke masyarakat. Jadi lembaga ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat Papua yang terjebak dalam penggunaan obat terlarang,” katanya.
Menurut data yang diperoleh di Lapas ini terdapat 70 napi laki laki, dan sebanyak 8 napi perempuan. Untuk kelompok umur diklasifikasikan atas dua bagian yaitu umur 18 tahun ke bawah sebanyak 4 orang napi, yang terdiri atas 3 laki laki dan 1 perempuan. Sementara untuk kelompok umur 18 tahun ke atas sebanyak 74 orang sebanyak 67 laki-laki dan 7 orang perempuan . Dari semua Napi yang di bina berasal dari berbagai wilayah seperti Kota Jayapura sebanyak 68 orang, Kabupaten Keerom 1 orang, pelintas batas yang merupakan warga negara tetangga Papua Nugini sebanyak 11 orang namun kini tinggal 10 orang, karena salah seorang diantaranya berhasil melarikan lari beberapa waktu lalu.

Menurut data setiap tahunnya jumlah tahanan di lapas ini mengalami peningkatan dari segi jumlah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan jumlah pengguna narkoba di wilayah Papua. Bahkan data terakhir menunjukkan bahwa penggunaan narkoba tidak hanya dari kalangan pria tetapi juga kaum wanita, bahkan sudah menyentuh kalangan remaja. Tercatat di tahun 2004, jumlah tahanan sebanyak 19 orang, tahun 2005 sebanyak 19 orang napi, tahun 2006 sebanyak 14 orang napi 2007 meningkat tajam sebanyak 49 orang napi, tahun 2008 sebanyak 43 orang napi dan sampai dengan bulan Mei tahun 2009 jumlah narapidana sebanyak 78 orang.
Perhatian bagi penghuni lapas ditempuh melalui beberapa pendekatan seperti dari segi religius melalui tokoh gereja, terutama pada hari raya besar keagamaan sementara bagi yang muslim menurut Waskito belum mendapat perhatian dari lingkungan atau lembaga keagamaan setempat. Perhatian juga ditunjukkan dengan pengembangan kretifitas napi melalui berbagai kegiatan seperti kerajinan tangan, membuat bingkai foto, tempat tissue, hiasan bunga, bercocok tanam, beternak ikan, dan pelatihan computer. “Beberapa LSM juga menunjukkan perhatian serius seperti YPPM, dan YAKITA yang secara rutin memberikan bimbingan konseling bagi para napi,” kata Waskito.
Waskito sangat menyayangkan masih kurangnya perhatian pemerintah terutama fasilitas Lapas tersebut. “ Napi yang dibina sebagian besar dari kawula muda yang akrab dengan kreatifitas sehingga seharusnya lapas ini dilengkapi dengan sarana olahraga dan alat musik sebagai wahana penyaluran bakat,” imbuhnya.
Menurut salah seorang tenaga medis di lapas ini sampai sekarang belum ada napi yang terkait dengan HIV-AIDS. Penyakit yang diderita banyak diderita seperti TB Paru, yang merupakan pengaruh langsung dari penggunaan obat terlarang seperti ganja, serta penyakit infeksi menular.

Menurut Hs (samaran), salah seorang Napi yang berhasil ditemui, Ia telah menempati hotel prodeo ini sejak Desember 2007. “Saya dikenakan hukuman penjara satu tahun lima bulan, dengan status pemakai sekaligus pengedar,” kata Hs. Menurut Hs, ia menggunakan Narkoba jenis sabu-sabu sejak tahun 1997. “Waktu itu saya masih kuliah di Makassar. Awalnya saya hanya mau mencoba rasanya bagaimana. Saya menggunakan sabu-sabu untuk menambah kepercayaan diri, serta menambah tenaga. Saya tidak pernah tahu bahwa hal yang saya rasakan setelah mengkonsumsi sabu sabu itu hanya ilusi belaka,” katanya. Menurut Hs, dampak dari penggunaan sabu itu sangat merusak. “Kita tidak akan merasa ngantuk walaupun tidak tidur sampai berhari-hari. Akibatnya berdampak pada kondisi tubuh yang lemah, dan kurus. Selain itu efek psikologis dari penggunaan narkoba seperti perasaan gelisah, sensitive, cepat marah, serta pelupa. Ketergantungan terhadap barang ini akan memaksa kita untuk mendapatkan barang haram itu dengan segala cara, “ ungkapnya.
Hs juga sangat berterima kasih dengan bimbingan dari para sipir di lembaga ini yang membuatnya sadar akan kekeliruannya. “Di sini kami memiliki banyak kesibukan sehingga kami bisa membekali diri untuk terjun kemasyarkat umum,” katanya.
Hs menghimbau para remaja, agar lebih fokus terhadap kegiatan yang positif. “ Pergaulan yang salah adalah awal keterlibatan remaja dengan penggunaan obat terlarang. Anda jangan pernah mencoba, cukup anda tahu. Tanpa narkoba hidup ini bisa indah dan berarti,” himbau Hs.
Setelah berbincang-bincang cukup lama kami pun berpamitan pulang. Di luar kami bertemu dengan seorang ibu. Dia bercerita kalau ia sedang menjenguk anaknya yang sudah satu bulan lebih menghuni hotel pordeo tersebut. “Saya tinggal di Kota Jayapura. Saya kesini tiga kali dalam seminggu besuk anak saya. Bapaknya sudah tidak peduli lagi,” ungkapnya. Menurut ibu yang menolak disebutkan namanya itu ia tidak pernah tahu pergaulan anaknya hingga suatu hari ia didatangi oleh pihak kepolisian bahwa anaknya ditahan di kantor polisi. “Dia dan teman-temannya tertangkap sedang pesta ganja,” katanya tak kuasa menitikkan air mata. (Yul-Pat CR 8)

Rabu, 25 November 2009

THE MORNING STAR,


MERAMBAH DIVISI I LIGA INDONESIA

Kondisi alam geografis yang keras, tidak menjadi halangan bagi talenta-talenta berbakat asal Pegunungan Bintang untuk terus berprestasi. Walaupun baru terbentuk secara resmi pada tanggal 20 November 2003, namun mereka terus menunjukkan grafik peningkatan penampilan. Memulai kiprahnya ditahun 2005, di kompetisi divisi III Liga Indonesia Zone Papua, di Timika, Persatuan Sepakbola Pegunungan Bintang (Persigubin) langsung lolos ke kompetisi Divisi II PSSI, dengan menyandang status peringkat empat diakhir kompetisi. Pada tahun 2006 berlaga di kompetisi Divisi II di Palu Sulawesi Tengah dan hanya menempati Peringkat Lima sehingga mereka terpaksa menunda ambisinya untuk naik ke kasta kompetisi yang lebih tinggi. Kegagalan itu tidak menyurutkan semangat persigubin untuk tetap berprestasi. “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, menjadi pelecut semangat mereka,” kata Manejer Persigubin Drs. Theodorus Sitokdana. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan promosi ke Divisi I Liga Indonesia PSSI pada tahun 2007, dengan bergabung di grup VIII, hingga sekarang.
Prestasi The Morning Star, demikian julukan Persigubin tidak hanya sampai disitu, buktinya tercatat beberapa orang pemainnya disumbangkan untuk tim PON Papua di Kalimantan Timur Lalu. Penampilan ciamik nama- nama seperti Vendri Mofu, yang saat ini sudah bergabung dengan Persiwa Wamena, Yohanes Tjoe, Ilfred So, Alex Yarangga, dan Yulianus Goo, berhasil memikat perhatian pelatih Sepakbola tim PON Papua Rully Nere.
Bahkan pada sebuah laga persahabatan pemanasan Pra kompetisi liga Indonesia beberapa bulan lalu Tim Persigubin berhasil menahan seri saudara tuanya tim Mutiara Hitam, Persipura Jayapura. “Striker kawakan seperti Boaz Salossa bahkan tidak mampu menjebol gawang kami,” kata sang manejer bangga.
Menurut Drs. Theodorus Sitokdana, yang juga Wakil Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang yang menjadi ciri khas dari tim Persigubin adalah permainan kolektif dan kerjasama yang baik.
Sistem pembinaan yang berjenjang diharapkan mampu menghasilkan pemain yang berkualitas sehingga dapat mengharumkan nama Pegunungan Bintang, Papua, bahkan Indonesia. “ Saat ini kami telah melakukan pembinaan berdasarkan kelompok umur, yaitu kelompok umur dibawah 12 tahun, dibawah 15 tahun, dibawah 18 tahun, dan dibawah 21 tahun. Kami berusaha untuk mengelola klub secara professional, dimulai dengan nilai kontrak dan gaji para pemain yang tertera diatas perjanjian hitam putih, hingga transfer pemain, sehingga bila ada klub lain yang menginginkan pemain Persigubin, harus melalui transfer dan administrasi yang jelas, ” ungkap Theodorus. Kini Persigubin mulai berbenah, dengan merencanakan pembangunan stadion yang layak menggelar pertandingan berskala nasional, sehingga tidak heran jika suatu saat nama Persigubin akan diperhitungkan di kancah sepakbola Nasional seperti kedua saudara tuanya yakni Mutiara Hitam Persipura Jayapura dan Badai Pegunungan Tengah, Persiwa Wamena. Maju terus, bravo sang Bintang Pagi. Yepmum, telepe, asbe, labmum, jelako.(Yen, Pat/CR 8)
Profil Persigubin
Berdiri : 20 November 2003
Julukan : “ The MORNING STAR TEAM ”
Alamat : Jl. Yapimakot – Oksibil Pegunungan Bintang
Telepon : 0967 – 594765 (sementara)
Faksimile : 0967 – 594765 (sementara)
Kostum : Orange - Hijau
Website : persigubin@yahoo.com
Stadion :
Kapasitas :
Ketua Umum : Drs. Theo B.Opki
Manajer : Drs. Theodorus Sitokdana
Pelatih :
Suporter : Persigubin Mania

Pendiri : Pieter Kalakmabin – Nicolaus Uropmabin
Arnold Uropka – Drs. Theo B. Opki

Balada: Abraham Wukah



Hidup sebatangkara jauh dari tanah kelahiran dan sanak famili bagi sebagian orang mungkin lazim, dan bukan sebuah persoalan. Namun apa jadinya bila penderitaan tersebut ditambah oleh kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk menjalani hidup
Abraham Wukah yang akrab disapa Bram misalnya. Sosok laki-laki asal pedalaman Wamena ini tergolong manusia bertekad baja. Sejak tahun 2002 Bram mesti berjuang sendiri menghidupi dirinya, tanpa tanpa bantuan orang lain di dengan kodisi cacat pada kakinya, dikota Jayapura. Menurut Bram cacat itu harus diterimanya sejak masih bayi, ketika ia baru berumur satu minggu. Dari cerita yang diperolehnya dari sang ibu Kumeh, waktu masih bayi ia terjatuh dari bale-bale buatan ayahnya, sehingga harus mengalami patah tulang kaki. Seorang dokter yang berasal dari Belanda mengusulkan untuk mengamputasi kakinya, namun karena kedua orang tuanya tidak tega, akhirnya Bram mesti tumbuh dengan kaki kirinya yang tidak normal, sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.
Warisan sang ayah dan siksaan ibu tiri
Ayah Bram, Waukmo ternyata tidak berumur panjang. Karena sakit, ia kemudian meninggal dunia, di saat Bram masih sangat kecil yang tidak mengerti apa-apa. Walaupun ayahnya mempunyai harta warisan yang tidak sedikit untuk ukuran pedalaman, namun tetap saja kebahagiaan tersebut tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh Bram. “Dahulu bapak saya memiliki banyak kebun seperti kopi, kacang, kedelai, kebun sayur, bahkan beternak sapi,” ungkapnya. Bukan hanya sampai disitu penderitaan Bram. Perebutan harta warisan sang ayah oleh ibunya dengan ibu tirinya, sering melibatkan dirinya menjadi korban amarah. “Saya sering dimarahi ibu tiri, bahkan saya pernah dilempar dengan bara api waktu saya baru berumur empat tahun,” kenang Bram.

Hijrah ke Jayapura
Menjalani masa kecilnya, tanpa kasih sayang sang ayah, membuat Bram seperti kehilangan arah hidupnya. Apalagi sanak familinya tidak peduli lagi dengannya. Sempat mengecap bangku sekolah hingga kelas tiga Sekolah Dasar, Bram mesti rela berhenti sekolah karena terbentur biaya serta kehidupan keluarga yang morat-marit. “Waktu itu kehidupan sangat susah. Untuk makan aja terkadang saya harus mencuri kacang dan batatas (sejenis ubi), dari kebun orang lain untuk sekedar menahan lapar. Namun kondisi ini tidak membuatnya patah arang. Tahun 2002, tepatnya saat ia berumur tujuh belas tahun Bram memutuskan untuk mengadu nasib ke Jayapura. Namun bukan persoalan gampang mewujudkan niatnya tersebut, karena perjalanan dari Wamena ke Jayapura harus ditempuh dengan pesawat terbang, sementara ia sendiri tidak memiliki biaya tiket, yang tergolong cukup mahal. Bram tidak putus asa. Demi tekad bulatnya tersebut ia memberanikan diri menghadap petugas bandara untuk meminta bantuan untuk memperoleh surat jalan. Bram sunguh beruntung, dan atas kebaikan dari petugas bandara, Bram akhirnya diijinkan naik pesawat tanpa membayar sepeser pun.

Sebatangkara
Setibanya di Abepura, Bram harus menghadapi kesulitan yang tidak kalah peliknya. “ Waktu itu saya bingung mau tinggal dimana. Saya akhirnya meminta ijin ke pihak Gereja Bethel Jemaat Gunung Kemuliaan, Abepura untuk tinggal di gedung gereja, sambil membantu menjaga dan memelihara kebersihan gedung gereja. “ Saya menjaga gedung gereja sambil mencoba mencari pekerjaan,” katanya. Tahun 2005, Bram kemudian diterima bekerja di perusahaan penerbangan MAF (Mission Aviation Fellowship), di Sentani. “ Saat itu saya bekerja sebagai tukang cuci mobil perusahaan, dengan penghasilan sebesar dupuluh ribu rupiah per hari, namun pekerjaan itu tidak dijalani setiap hari. Terkadang hanya dua kali seminggu sehingga hasilnya jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Pekerjaan ini terus saya lakoni hingga dua tahun,” katanya lagi.

Loper koran
Tahun 2007, sekali lagi Bram mendapat pukulan berat. Bagai petir disiang bolong ia mesti menerima kabar kepergian sang ibu untuk selama-lamanya. Bram sempat pulang ke Wamena untuk memberi penghormatan terakhir bagi ibunda tercinta, bahkan sempat pula membuat sebuah kolam ikan, yang dipercayakan kepada saudaranya. Sekembalinya dari sana bungsu dari tujuh bersaudara ini kemudian beralih profesi sebagai penjual koran, tabloid, dan majalah. “Lumayan saya memperoleh keuntungan Rp1.600 sampai Rp5.000 per eksempelarnya,” akunya. Dari hasilnya bekerja sebagai loper inilah Bram berhasil membangun sebuah gubuk berukuran tiga kali empat meter disamping gedung gereja. Bahkan ia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. “Jika saya sudah punya banyak tabungan saya berniat membuka usaha, namun belum tahu usaha apa yang potensial,” katanya optimis. Setiap harinya Bram bisa menghasilkan keuntungan hingga dua ratus ribu rupiah. “Saya tidak mampu menyewa rumah kost, sehingga untuk menghemat saya mendirikan gubuk ini untuk menetap,” ujar Bram. Setiap pagi kira-kira pukul 06.00, Bram sudah berangkat dari kediamannya ke tempat mangkalnya di depan pintu masuk Saga Mall Abepura, dibantu kedua tongkat besi rancangannya.
“Terkadang bawaan berat jadi saya terpaksa naik ojek,” timpal Bram. Pukul 12.00, Bram kembali ke gubugnya untuk makan siang sekaligus melepas lelah hingga pukul 16.00. Ternyata pekerjaan ini dirasa cocok sehingga Bram tidak berniat mencari pekerjaan lain. Di lingkungan tempat tinggalnya, maupun tempat kerjanya ia cukup disenangi rekan-rekannya, karena memiliki kepribadian yang sopan.

Melayani Tuhan lewat musik
Menurut Bram ia tidak pernah mendapat perhatian dari kerabatnya yang ada di kota Jayapura, namun ia tidak pernah dendam terhadap mereka. “Saya tetap optimis walaupun mereka tidak peduli dengan saya. Saya juga tidak dendam sama orang-orang yang pernah menyakiti saya disana (Wamena –red). Jadi semuanya saya serahkan sama Tuhan,” kata lajang berumur 25 tahun ini. Tinggal di lingkungan gereja tdak disia-siakan Bram. Ia selalu menyempatkan waktu senggangnya untuk berlatih musik secara otodidak. “ Saya belajar keyboard sendiri tanpa bimbingan khusus. Syukurlah saat ini saya sudah bisa mengiringi jemaat yang beribadah, dan itu anugerah Tuhan yang luar biasa bagi saya,” tandasnya.
(Pat/CR 8)

Jumat, 20 November 2009

Pengangguran di Jayapura

Faktor penarik

Menurut Kepala Badan Kepegawaian Kota Jayapura Marthnus Asmuruf, SH, MSi, faktor utama yang menyebabkan membludaknya pencari kerja terutama saat penerimaan CPNS di kota Jayapura salah satunya adalah fasilitas publik yang ditawarkan kota Jayapura jauh lebih baik dari daerah-daerah lain di Papua, yang sebagian besar masih terisolir.

Himbauan

Untuk para pelamar Martinus Asmuruf menghimbau agar taat pada setiap ketentuan umum, yang berlaku seperti kelengkapan berkas dan batas usia maksimum untuk mendapatkan hasil yang objektif dan optimal karena yang dibutuhkan adalah SDM (Sumber Daya Manusia), yang benar-benar berkualitas. Karena alokasi formasi yang terbatas dibandingkan jumlah pelamar, maka bagi pelamar yang tidak lulus tidak perlu berkecil hati. “Masih ada kesempatan lain. Lagian sektor swasta banyak tersedia lapangan pekerjaan yang baik,” imbuhnya.

Kebijakan Pemkot

Kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah kota bagi yang dinyatakan lulus harus menandatangani surat pernyataan untuk mengabdi minimal 15 tahun baru bisa mengajukan permohonan pindah ke daerah lain. Kenyataan diwaktu lalu banyak PNS yang baru mengabdi satu atau dua tahun sudah mengurus kepindahan kedaerah asalnya. ”Jika tidak demikian maka kita (pemerintah kota) akan dirugikan karena terjadi pengurangan formasi terutama para pendidik (guru), sementara kita masih sangat kekurangan tenaga pendidik di lingkungan kota Jayapura,” kata Asmuruf mengakhiri pembicaraan.

Kestabilan Perekonomian

Sementara itu di lain tempat Kepala Dinas Ketenagakerjaan kota Jayapura Sabar Simbolon SE, terkait membludaknya pencaker di kota Jayapura mengungkapkan bahwa jumlah pencari kerja di kota Jayapura yang semakin meluap, menjadi salah satu permasalahan krusial bagi pemerintah kota. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain migrasi besar-besaran ke kota Jayapura, laju pertumbuhan penduduk, investor yang masih kurang, inflasi yang berfluktuasi, serta pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil.

Unemployment (Pengangguran terbuka)

Pengurusan kartu pencari kerja yang marak saat penerimaan formasi CPNS setiap tahunnya menjadi salah satu indikasi dan dasar perhitungan jumlah pengangguran di kota Jayapura. Menurut Sabar Simbolon jumlah pencari kerja untuk kota Jayapura tahun 2008 sampai dengan tanggal 16 Februari 2009 tercatat sebanyak 23.500 pencari kerja, namun jumlah ini belum dapat divonis sebagai total pengangguran terbuka (Open unemployment) secara keseluruhan. Angka ini masih bisa diklasifikasikan berdasarkan status pencari kerja, yaitu : pencaker yang benar-benar menganggur atau pengangguran terbuka diperkirakan sebesar 17.000 pencaker, dan sisanya pencaker yang saat ini sedang bekerja baik dari sektor informal, maupun swasta. Jumlah pencaker tahun 2008 ini menunjukkan kenaikan 10 % dibanding tahun 2007. “Dari data ini 60 %-nya merupakan lulusan SLTA, sementara kenaikannya merupakan pencaker yang lulus pada tahun 2008, baik SLTA maupun perguruan tinggi, serta pencari kerja dari derah lain yang berduyun-duyun datang ke kota Jayapura, ” ungkap Sabar Simbolon.

Pencaker Asli Papua

Disnaker sendiri mengklasifikasikan pencaker yang berasal dari luar dengan penduduk asli Papua Sampai dengan tanggal 16 Februari Disnaker mencatat data pencari kerja untuk orang Papua asli sebanyak 20.304 orang yang terdiri atas 11.990 laki-laki dan 8.314 perempuan. Dengan demikian pencaker yang berasal dari luar Papua di kota Jayapura sebanyak 3.196 orang. Dapat disimpulkan bahwa Pencaker asli orang Papua masih mendominasi jumlah pencaker di kota Jayapura yang mencapai 86% sedangkan sisanya berasal dari warga pendatang.

Tidak menjanjikan

Terkait soal fenomena banyaknya pencari kerja yang berlomba-lomba mendaftar CPNS, menurut Sabar Simbolon hal ini cukup mengherankan. ” Ditinjau dari segi penghasilan menjadi seorang PNS bukanlah pekerjaan yang menjanjikan, apalagi jika mereka tidak mempunyai pendapatan dari sektor lain, maka taraf ekonomi mereka tidak jauh beda dengan pekerja lainnya (Swasta atau Informal),” kata Sabar.

Alternatif

Menurut Sabar Simbolon cukup banyak alternatif yang disediakan pemerintah untuk menekan angka pengangguran misalnya pelatihan bahasa inggris, dan komputer, tata rias, driver yang nantinya dapat langsung terserap pada lapangan kerja yang membutuhkan. Selain itu pemerintah juga telah menggalakkan program padat karya, walaupun semuanya itu masih sering terbentur pada masalah pembiayaan. “Papua sebenarnya sangat luas dan punya potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja dan wira usaha sehingga pencari kerja yang tidak lulus CPNS tidak perlu bersikap stagnan atau apatis,” himbau Sabar. (OruCR 2-PatCR 8).

Kamis, 19 November 2009

Senyum dalam Derita



Menjalani hidup sebagai Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) bagi sebagian orang mungkin sangat berat. Menjalani hari-hari bagai neraka, tanpa semangat, dan tanpa aktivitas. Namun tidak demikian halnya dengan dua wanita ini. Julia Hutapea, yang lebih dikenal dengan nama mama Julia dan Yuliana Yarisetou, yang akrab disapa mama Yuli. Ditemui di sekretariat FHI, di Kotaraja beberapa waktu lalu oleh tim BERSAHAJA FOJA keduanya menceritakan pengalamannya sebagai penyandang status ODHA. “Saya tidak tahu persis kapan saya terinfeksi HIV-AIDS. Saya juga tidak tahu mengapa saya bisa terinfeksi. Yang saya pikirkan bagaimana saya bisa melawan penyakit ini dan mengisi hari-hari saya dengan kegiatan bermanfaat bagi saya dan orang lain,” kata mama Julia. Wanita berdarah Batak ini saat ini tercatat sebagai Koordinator IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia), perwakilan Papua. Menurutnya dengan mengisi hari-hari dengan berbagai kegiatan hal itu akan berdampak pada psikologi penderita, yang secara otomatis akan berpengaruh terhadap kondisi tubuh ODHA. Demikian halnya dengan mama Yuliana yang juga mengaku tidak pernah merasa minder dengan penyakitnya itu. “Awalnya saya memang merasa malu. Saya bahkan bertanya tanya mengapa saya harus terinfeksi. Saya bahkan ditolak di lingkungan, Gereja, bahkan keluarga,”. Bahkan kenyataan pahit harus di terimanya setelah anak bungsunya juga dinyatakan positif. Hal itu disebabkan karena waktu itu masyarakat luas belum mengetahui secara benar informasi HIV-AIDS, termasuk cara penularannya.
Atas dukungan dari Bruder Agus Adil (konselor HIV&AIDS RS. Dian harapan), mama Yuli akhirnya memulai perjuangannya untuk bertahan hidup. Hingga saat ini Mama Yuli sudah mulai menemukan kepercayaan dirinya. Bahkan sekarang ini mama Yuli tercatat sebagai salah seorang staff FHI (Family Health International). Di IPPI sendiri mama Julia dan Mama Yuliana sangat aktif melakukan berbagai kegiatan Seperti pelatihan-pelatihan keterampilan, menyuarakan suara perempuan, study kebijakan, IMAI (Integrated Management of Adolescent and Adult Illness), dan aktif merangkul teman-teman ODHA, “Yang terpenting adalah Advokasi,” ujar mama Julia. “Di IPPI kita bisa menmukan teman-teman senasib jadi kita bisa lebih diterima. Selain itu kita bisa saling berbagi pengalaman, jadi intinya adalah disini kta bisa saling mendukung dan mengerti dengan keadaan,” kata mama Yuliana. Menurut mama Julia hingga saat ini IPPI Papua telah terdaftar sebanyak 32 ODHA, namun sebagian besar dari mereka belum sepenuhnya mau terbuka kepada masyrakat luas. “Hal ini tidak bisa dipaksakan. Kita hanya bisa memberi contoh yang baik agar mereka dapat mengikutinya,”. Dari pengalamannya, mama Julia berpendapat bahwa seorang ODHA sebenarnya bisa menetukan ditolak atau diterima di masyarakat melalui pembawaan diri, misalnya bagaimana seorang ODHA mampu merawat diri dengan selalu menjaga kebersihan dan juga memperhatikan gizi dan rutin makan obat.
Soal pemberdayaan ODHA juga mendapat sorotan dari Mama Julia. “Untuk mengembangkan potensi ODHA, kita harus memperhatikan bakat dan kemampuan mereka. Contohnya ketika saya mendapat bantuan berupa mesin jahit, tetapi karena saya tidak hobby dan tidak bisa menjahit maka mesin tersebut tidak dapat difungsikan dengan baik. Kesulitan lain adalah saat kami mengundang mereka untuk membuat sebuah kegiatan cukup rumit karena kami harus meminta mereka sama LSM pendampingnya,”. Mereka juga mengeluhkan hingga saat ini belum adanya lembaga donor tetap bagi IPPI papua.
Hingga kini kondisi mama Julia dan mama Yuliana tampak sehat. Mereka tampak ceria dan optimis menghadapi hari-harinya. Setiap harinya Mama Julia aktif sebagai penjual baju kaos bertemakan HIV-AIDS dan beberapa pernak-pernik lainnya di setiap kegiatan-kegiatan atau seminar-seminar HIV-AIDS. (TIM BERSAHAJA)

Satu Tahun Mamberamo Tengah


Membangun Dalam kasih
Kondisi pedalaman Papua yang sebagian besar merupakan pegunungan dan akses yang sulit menyebabkan ketertinggalan yang cukup jauh dari daerah lain. Untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat, maka Kabupaten Jayawijaya kemudian dimekarkan menjadi beberapa kabupaten, dan melalui Undang-Undang No.3 Tahun 2008 lahirlah Kabupaten Memberamo Tengah dengan Kobakma sebagai ibukotanya. Wilayah administrasi Kabupaten Memberamo Tengah sendiri di kelilingi oleh beberapa kabupaten dimana sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Yalimo dan Kabupaten Jayapura, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tolikara, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Memberamo Raya, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya, sebagai kabupaten induk. Dengan luas Wilayah 1.705 Km2, dan jumlah penduduknya sebesar 70.000 jiwa maka ini merupakan modal utama dari Memberamo Tengah untuk merangkak hingga akhirnya berdiri tegak sejajar dengan kabupaten lainnya di Papua. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di kabupatem muda tersebut diperlukan seorang leader yang dianggap mampu dan mempunyai konsep yang jelas kedepannya. Untuk itu tampillah David Pagawak S.Sos yang ditujuk sebagai caretaker Bupati untuk merintis sebuah jalan menuju arah kemajuan yang dicita-citakan masyarakat Memberamo Tengah. David pagawak sendiri merupakan figur yang dianggap tepat setelah sebelumnya dinilai sukses membuktikan kapasitasnya sebagai Kepala Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kabupaten Jayawijaya.

Visi dan Misi
Demi pertumbuhan dan percepatan Pembangunan Memberamo Tengah Pemerintah daerah kemudian merumuskan Visi Mewujudkan masyarakat Kabupaten Mamberamo Tengah menjadi saluran berkat bagi semua suku bangsa dan sejahtera beriman, bermartabat serta berwawasan lingkungan. Visi ini kemudian dijabarkan dalam Misi sebagai berikut :
1. Terwujudnya kesadaran bangsa dalam bingkai NKRI melalui pembinaan agama, adat dan sosial budaya
2. Terciptanya tata ruang wilayah dan kota Kabupaten Mamberamo Tengah yang berwawasan lingkungan.
3. Terwujudnya pemerintahan yang bersih, berwibawa, akuntabilitas dan bermartabat melalui pembentukan struktur organinsasi dan tata pemerintahan daerah Kabupaten Memberamo Tengah dengan prinsip “Kaya Fungsi dan “Miskin Struktur.
4. Terbangunnya Infrastruktur jalan, jembatan dan fasilitas umum, sarana perekonomian, kesehatan, pendidikan Kabupaten Mamberamo Tengah dengan pendekatan wawasan lingkungan.
5. Menciptakan pusat pengembagan kota kecil di setiap distrik untuk memperkuat sektor sektor unggulan guna meningkatkan pendapatan dan swadaya masyarakat menuju kemandirian yang permanen dan kokoh.

Mengejar Ketertinggalan
Seperti halnya sebagian besar daerah di wilayah pegunungan Papua, Memberamo Tengah juga memiliki topografi yang yang terdiri dari bukit, lembah. Kondisi ini mengakibatkan mobilisasi akses keluar masuk wilayah Memberamo Tengah merupakan masalah utama dalam membangun Kabupaten ini. Tidak ingin membuang-buang waktu Pagawak memulai langkah besarnya dengan melengkapi struktur Sepuluh orang pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan pemerintah Kabupaten Memberamo Tengah diambil sumpah dan janji jabatannya oleh Penjabat Bupati Memberamo Tengah, David Pagawak, S.Sos di Gedung Mas Budi Wamena. Berdasarkan SK Gubernur nomor SK.821.2-042 tanggal 04 Februari 2009 dan SK. 821.2-4364 tanggal 18 Desember 2008. Para pejabat yang dilantik yaitu, 2 orang pejabat eselon II yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Distrik Kobakma dan Pelaksana Tugas Kepala Distrik Kelila, 7 orang pejabat eselon III dan 1 orang pejabat eselon IV. “Mereka yang dilantik merupakan aparat yang dibutuhan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kepercayaan ini merupakan suatu kebanggaan, oleh sebab itu saya menghimbau kepada pejabat yang baru dilantik, agar dapat menjalankan tanggungjawab dengan baik,” ujar David Pagawak ketika itu.
Infrastruktur
Bupati Mamberamo Tengah David Pagawak, Rabu (4/3) mencanangkan dimulainya pembangunan infrastruktur di daerahnya. Hal itu dikatakan Pagawak dalam suatu ibadah syukuran dipimpin Pdt. Fredy Ayomi di halaman Kantor Distrik Megabilis, awal April lalu.
Pencanangan pembangunan di kabupaten baru itu ditandai dengan pengoperasian alat berat (eksavator) dan dam truk langsung oleh Bupati David Pagawak yang mendapat sambutan tepuk tangan masyarakat daerah itu.
Pagawak mengatakan kehadiran alat berat di daerahnya itu merupakan anugerah Tuhan karena kabupaten ini belum memiliki jalan darat maupun angkutan sungai. Alat berat tersebut bisa berada di Taria Distrik Megabilis yang terletak di pedalaman Papua.
Sementara mobilisasi alat berat, serta kebutuhan lain kedaerahnya, Pagawak, bekerjasama dengan PT Marta Buana Abadi (MBA), mendatangkan pesawat Heli Kamov 3211 BC PK-JTC dan Pilatus 6, dengan baseops di Bandara Sentani,.
Heli Kamov ini mempunyai kapasistas penumpang sebanyak 13 orang, dan beban muatan maksimal 5 ton atau tergantung dari jarak tempuhnya. Helikopter buatan Rusia ini dibeli oleh perusahaan Korea, yang didatangkan ke Indonesia melalui PT Marta Teknik.
Menurut Pagawak perusahaan yang memasukkan alat berat ke kabupaten yang dipimpinnya itu bekerja menggunakan modalnya sendiri karena Pemkab Mamteng belum memiliki dana yang besar.
Walaupun Pemkab Mamteng belum mengeluarkan dana untuk membayar heli Kamov maupun alat-alat berat tersebut, saat ini peralatan itu sudah berada di Mamteng. Ini membuktikan bahwa perusahaan pemilik heli maupun alat berat mau membantu rakyat Papua, khususnya yang berada di kampung-kampung terpencil di pedalaman. Bupati Pagawak meminta masyarakat di daerahnya agar mendukung program pembangunan yang akan dilaksanakan pihaknya, termasuk membantu perusahaan-perusahaan yang akan membangun Memberamo tengah.
Untuk membuka keterisolasian daerah, pihaknya akan membuka jalan tembus dari dataran rendah ke dataran pegunungan tengah poros Taria- Kobakma - Wolo - Daria - Wamena.
Diharapkan dengan pembangunan jalan tersebut, kabupaten ini akan terbuka sehingga masyarakat dapat dengan mudah memasarkan hasil pertanian, perkebunan dan buah-buahan ke ibu kota kabupaten tetangganya seperti Jayawijaya, Tolikara, dan Mamberamo Raya.
Direncanakan Distrik Taria akan dijadikan kawasan pertanian dan peternakan. Sementara, pusat pemerintahan berada di tengah-tengah antara Distrik Megabilis dan Distrik Kobakma. Selain akses darat Memberamo tengah juga sedang berusaha memperluas dan memperpanjang lapangan terbang Taria, untuk memperlacar dan meningkatkan frekuensi penerbangan ke daerah ini.
Pendidikan
Sebelum berdiri sebagai sebuah kabupaten banyak Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Mamberamo Tengah, sudah lama tidak menjalankan aktivitas belajar-mengajar karena tidak punya tenaga guru.
Keadaan ini diperparah oleh kondisi gedung sekolah yang rusak berat.
Sekolah-sekolah dasar yang terlantar itu umumnya berada di kampung-kampung yang terisolasi.
Hal ini diakibatkan oleh wilayah yang sangat luas dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, terutama transportasi dan komunikasi, sehingga banyak SD di kampung-kampung terpencil tidak mendapat perhatian. Pagawak menyatakan bahwa sekolah-sekolah yang sudah lama tidak beroperasi itu terlantar karena para gurunya meninggalkan tempat tugasnya sehingga para siswa tidak bersekolah lagi.
Sehingga dengan diresmikannya Kabupaten Mamberamo Tengah, pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap sekolah-sekolah dasar yang terlantar itu dan segera ditindaklanjuti dengan mengaktifkan kembali proses belajar mengajar. Alternatif lain yang ditempuh adalah menghapus keberadaan beberapa sekolah sementara siswanya akan di pindahkan ke sekolah terdekat guna meningkatkan pelayanan pendidikan di kabupaten ini.
Pagawak mengatakan, pihaknya juga sudah memprogramkan pendidikan berpola asrama guna menghasilkan sumber daya manusia berkualitas di kabupaten ini sehingga kelak bisa membangun daerahnya sendiri. "Saya juga sedang berjuang agar para siswa mulai dari SD sampai SMU di daerah ini bisa mengenyam pendidikan secara gratis tanpa membayar uang sekolah, karena dana Otonomi Khusus Papua yang disediakan pemerintah cukup besar," kata Pagawak. Sementara itu di bidang fisik Pemda juga sedang menyiapkan lokasi pembangunan sekolah di Taria. Perhatian juga ditunjukkan Pagawak terhadap keberadaan putra-putri Memberamo Tengah yang sedang menuntut ilmu di Jayapura. Beberapa waktu lalu Pagawak turun langsung meninjau pembangunan Asrama mahasiswa Memberamo Tengah yang sementara ini dalam tahap penyelesaian di Jayapura. “Rencananya asrama ini akan diresmikan dalam waktu dekat setelah pemilihan Presiden RI,“ kata Alumni APDN Yoka ini.
Kesehatan
Sementara itu melihat kondisi kesehatan masyarakat Memberamo Tengah yang belum memenuhi standar hidup sehat, dan rawan terhadap penyakit, maka kesehatan Pagawak juga bergerak cepat untuk mengantisipasi hal tersebut dengan mengadakan pelatihan pemantapan manajemen Puskesmas dalam menunjang pelayanan kesehatan di kampung kampung, yang dilaksanakan di Baliem Pilamo, 15 hingga 20 Juni 2009 lalu. “Pelatihan ini kami lakukan untuk meningkatkat kualitas SDM tenaga kesehatan untuk meningkatkat kualitas pelayanan, yang diharapkan bisa meningkatkan standar kualitas hidup masyarakat daerah kami, ujarnya. Selain itu untuk mencegah merebaknya kasus HIV-AIDS, di Memberamo Tengah“. Pihaknya juga telah menyelenggarakan penyuluhan HIV-AIDS, yang diselenggarakan di Distrik Kelila, 6 Juni 2009 lalu. “Penyuluhan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan warga terhadap HIV-AIDS, termasuk penularan dan dampaknya bagi tubuh penderita, sehingga bisa melakukan antisipasi sejak dini,“ kata Pagawak.
Potensi Parawisata dan Investasi
Letak daerah otonomi baru Kabupaten Mamberamo Tengah berada pada posisi memanjang mengikuti letak alam, yang mewarnai keindahan panorama yang melukiskan indah gunung, mata air jernih (berwarna kebiruan ) yang mengalir kearah bawah lembah Mamberamo, Tariya, Megambelis yang merupakan area potensi wisata yang menjanjikan.
Potensi wisata lain Memberamo Tengah yang saat ini sedang hangat dibicarakan banyak pihak seperti Kawasan Gunung Foja, (baca : Foja Edisi 2) yang merupakan habitat hidup berbagai flora dan fauna yang tidak dapat ditemukan di belahan dunia lain seperti jenis palem-paleman, spesies rotan, katak mata jaring (Nyctimytes fluviatilis), dan yang paling spektakuler dengan penemuan kanguru pohon mantel emas (dendrolagus pulcheerrimus). Selain potensi pariwisata, terdapat juga potensi investasi besar yaitu sungai Memberamo yang panjangnya 800 km dengan wilayah resapan mencapai 138.877 km2, atau hampir sepertiga luas Papua. Debit air Sungai Mamberamo 5.500 meter kubik (m3) per detik, sehingga bisa dijadikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) raksasa di daerah itu.
Dari 800 km panjang Sungai Mamberamo, 160 km di antaranya dapat dilayari. Walau jangkauan pelayaran cuma 160 km, tetapi bisa menjadi urat nadi pelayaran melintasi wilayah pedalaman Papua.
Bersama anak-anak sungainya, Sungai Mamberamo membentuk daerah aliran sungai (DAS) yang sangat luas meliputi Kabupaten Jayawijaya, Yapen Waropen, dan Nabire. Sungai yang sangat panjang dan berkelok-kelok ini membentuk sebagian batas alam antara Kabupaten Jayapura, Nabire, Yapen Waropen, dan Jayawijaya.
Berdasarkan penelitian Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Nippon Koei tahun 1983 menunjukkan, debit air Sungai Mamberamo 5.500 m3 per detik. Dan, dari empat lokasi penelitian untuk pembangunan PLTA akan dapat dihasilkan listrik hingga 20.000 megawatt (MW). Potensi sungai yang sangat besar, tetapi murah ini bisa ditujukan untuk pengembangan industri berat maupun kegiatan industri lainya.
***
Komitmen sang Carataker
Selain aktif bergerak di daerahnya David Pagawak juga melakukan berbagai pendekatan ke pusat. Beberapa waktu lalu pagawak berangkat ke Jakarta untuk bertemu dengan kepala BAPPENAS, Paskah Suzetta. Kunjungan ini dimaksudkan selain melaporkan pencapaian pembangunan di daerahnya, Pagawak juga berusaha melakukan permohonan bantuan dana untuk menunjang kegiatan pembangunan di daerahnya. Perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya juga nampak ketika pihak Departemen Sosial RI beberapa waktu lalu menyerahkan bantuan bagi warga Memberamo Tengah, berupa peralatan rumah tangga, pakaian seragam sekolah, pakaian selimut, dan lain-lain.
Beberapa agenda kegiatan Pemda Memberamo Tengah yang telah dilaksanakan seperti Musrenbang tingkat Kabupaten, dan tingkat provinsi, Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Distrik, dan Kabupaten, dan Seminar Daerah Dalam Angka (DDA) Dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Menurut Pagawak masih banyak Agenda ke depan yang harus dilaksanakan seperti Pembentukan Kelembagaan Eksekutif dan legislatif, Mensukseskan Pemilu 2009 dan Pilpres, Menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, Melantik Ketua DPRD dan anggota DPRD terpilih, Melaksanakan Pilkada untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Definitif, Meningkatkan kualitas Infrastruktur, Pembinaan Pemerintahan Desa/ Kampung, dan Meletakkan Dasar Pembangunan Kabupaten Mamberamo Tengah untuk tahun yang akan datang.
Pagawak mengakui bahwa tugas utama yang harus dilakukan sebagai bupati caretaker adalah mempersiapkan kelengkapan kelembagaan, termasuk DPRD setempat serta administrasi pemerintahan, bukan pembangunan fisik.
Namun dengan waktu singkat dan dana yang terbatas dia berupaya untuk berbuat sesuatu yang dapat dinikmati masyarakat. Pemerintah RI memberikan kepercayaan kepada saya sebagai penjabat Bupati, tetapi saya tidak mampu untuk melaksanakan tugas-tugas ke depan jika dikerjakan sendiri. Saya berharap adanya persamaan persepsi antara pemerintah dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan seluruh lapisan masyarakat untuk membangun Kabupaten Mamberamo Tengah. Untuk itu saya memohon dukungan, masukan dan saran, koreksi dari semua pihak guna meletakkan dasar pembangunan yang kuat demi masa depan bangsa, jadi mari kita membangun dalam kasih,”. Nabuwa Kabua Yabu Eruwok. (Pat/R3)

Suatu Senja di Tanjung Elmo, Sentani





Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 namun matahari masih terasa panas. Tidak terkecuali di komplekas tanjung Elmo, Sentani, yang lebih akrab disebut Sentani kiri, yang merupakan lokalisasi Pekerja Sex Komersial. Sebuah tulisan “Selamat datang. Anda memasuki Kawasan 100 % wajib kondom” menghiasi gerbang jalan masuk lokalisasi. Di samping sebelah kanan gerbang terdapat juga sebuah papan pemberitahuan berupa tulisan, yang hampir luput dari pandangan. Setelah mata kru Foja terbelalak membaca tulisan tersebut. Pemberiitahuan tersebut berupa larangan melakukan kegiatan prostitusi di wilayah itu, namun karena terbuat dari plat besi dan sudah dimakan karat sehingga hampir sudah tidak terbaca lagi. Yang jelas pemberitahuan itu adalah keputusan Bupati Jayapura bertahun 1997. Memasuki areal kompleks puluhan pasang mata perempuan penghuni kompleks tampak nanar mengawasi setiap kendaraan dan pejalan kaki yang lewat. Di beberapa beranda pondokan juga berkerumun beberapa orang wanita yang sedang bercengkrama sambil tertawa. Mungkin sedang berbagi cerita tentang pengalaman mereka semalam. Melanjutkan perjalanan ke bagian belakang kompleks, suasana semakin ramai. Sebuah bangunan mungil bertingkat. Bangunan ini merupakan pusat dari Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV-AIDS Elmo Sehat. Tidak jauh dari sini juga terdapat bangunan Wisma Kesehatan Terpadu, yang merupakan milik dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Papua, yang merupakan klinik tempat pemeriksaan kesehatan para PSK. “Kami membuka pelayanan dari hari Senin hingga Kamis, setiap minggunya. Pemeriksaan itu meliputi IMS,….. .>Jumlah PSK disini (Tanjung Elmo) kurang lebih 300 orang. Pada dasarnya mereka (PSK) cukup respon dengan pelayanan klinik ini,” kata Ria, yang merupakan Koordinator Klinik Wisma Kesehatan Terpadu Cenderawasih (WKTC). Awalnya kru Foja cukup kesulitan untuk melakukan wawancara dengan PSK. Mereka sepertinya takut atau malu untuk diekspos. Atas bantuan dan pendekatan dari ibu Ria, Foja akhirnya bisa bertanya jawab dengan mereka.

***

Menurut Inneke (samaran) 32 tahun, ia datang ke Tanjung Elmo sejak pertengahan 2007. “Saya lupa persisnya mas,” ungkapnya. Inneke sendiri datang kesini atas ajakan temannya yang telah terlebih dahulu bekerja disini. Inneke yang mengaku berasal dari Malang, Jawa Timur ini adalah seorang janda beranak dua. “Saya cukup kesulitan membiayai hidup dan pendidikan anak saya, yang saat ini sudah duduk di kelas satu SMP dan kelas dua SD. Jadi terpaksa saya nekad merantau demi masa depan mereka,”. Setibanya di Jayapura Inneke bingung mau kerja dimana. Dalam kebingungannya itu ia terpaksa menerima tawaran temannya yang telah terlebih dahulu bekerja sebagai PSK untuk bekerja sebagai PSK di Tanjung Elmo. Namun Inneke terpaksa merahasiakan pekerjaannya sama keluarganya di Jawa. “Keluarga tahunya saya bekerja di restoran,”. Inneke mengungkapakan bahwa dalam semalam ia bisa melayani tamu hingga tiga orang, dengan bayaran dari Rp.200.000, hingga Rp.300.000 per-tamu. “Tapi biasa juga dalam semalam tidak ada tamu,” katanya tersenyum. Dari hasil kerjanya tersebut setiap bulannya ia bisa mengirim dua juta rupiah ke kampung halamannya.

Lain lagi dengan Lastri (samaran) 37 tahun, janda tiga anak asal Madiun Jawa Timur ini mengaku terpaksa bekerja sebagai PSK, karena terlilit utang yang cukup banyak, sementara ia sendiri harus menghidupi orang tua dan anaknya yang masih sekolah. “Saya kesini tahun 2006 lalu. Saya terpaksa bekerja sebagai PSK karena saya sudah tidak tahu lagi cara membayar utang keluarga yang banyak. Sementara anak saya juga sedang sekolah,” ungkapnya. Lastri bersyukur dari hasilnya bekerja selama tiga tahun saat ini utangnya sudah lunas, bahkan salah seorang anaknya telah lulus SMK. “Saya malah mau menyekolahkan anak saya hingga keperguruan tinggi, tapi katanya ia tidak mau jadi beban terus. Ia mau mencari kerja saja,”. Ditanya soal pengalaman pahit menjadi seorang PSK, Lastri mengungkapkan sering mengalami perlakuan kasar dari tamu yang sudah mabuk. “Ada juga yang marah kalau disuruh pake kondom. Jadi kalu mereka tidak mau pake kondom kita tolak, soalnya kami takut tertular penyakit,” ungkapnya tersipu malu. Lasti juga menceritakan bahwa hingga saat ini rahasia tentang pekerjannnya di Jayapura masih tersimpan kepada anak-anaknya. “Anak-anak tidak tahu kecuali orang tua saya. Saya sangat takut jika mereka sampai tahu. Pasti mereka sangat kecewa,” katanya dengan menyeka airmata sambil memalingkan wajahnya, seolah-olah tidak ingin terlihat kalau ia sedang menangis. Namun dalam waktu dekat Lastri sudah berniat untuk kembali ke kampung halamannya. “Saya sudah punya tabungan, sehingga saya berniat pulang untuk buka usaha, selain itu saya juga sudah rindu berkumpul dengan keluarga,” katanya berlalu.

Di temui di tempat yang sama seorang gadis yang berkulit putih bersih, yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Gadis muda ini mengaku berumur 21 tahun namun hal itu tidak tampak pada raut mukanya yang kelihatan masih belasan tahun. Berbeda dengan kedua temannya diatas, tidak banyak keterangan yang diperoleh dari gadis ini. Nampaknya ia lebih memilih bercanda ria dengan teman-teman se-profesinya ketimbang menjawab pertanyaan kami. Dengan terpaksa kami pun berpamitan. “Silahkan mas,” katanya dengan nada mengusir. Dari kejauhan samar-samar masih terdengar senda-gurau mereka, seakan-akan tidak peduli dengan kepergian kami.

Kami kemudian melanjutkan penelusuran. Kali ini kami mencoba menemui salah seorang germo atau mucikari. Hendry (samaran), lelaki paruh baya ini mengaku memiliki sebuah wisma, yang menampung 15 orang PSK. “Umurnya bervariasi. Antara 17 hingga 40 tahun,” ungkapnya. Hendry mengaku setiap PSK wajib menyetor uang kamar sebesar 20.000 rupiah setiap melayani tamunya, di samping biaya lampu dan air setiap bulannya. “Kalau pendapatan tidak bisa dipatok soalnya kadang sepi, seperti waktu dulu. Ramai jika tanggal muda aja,” katanya acuh tak acuh, sepertinya kurang senang dengan kehadiran kami. Kami pun berpamitan.

Sejarah Tanjung Elmo

Ditemui di kediamannya di bagian luar lokalisasi tanjung Elmo, Elvis Doce yang merupakan Ondoafi setempat, mengungkapkan bahwa dahulunya tanah itu merupakan hak ulayat dari suku Doce. “Dahulu tanah adat itu bernama Elmo, namun setelah tempat tersebut dijadikan lokalisasi entah mulai darimana diberi nama Tanjung Elmo. Diberi nama Tanjung karena daratannya yang menjorok ke laut,” ungkapnya. Menurut Elvis, tanah tersebut dilepaskan ke pengusaha lokalisasi sewaktu Mesakh Doce, ayahnya menjabat sebagi ondoafi suku Doce. “Waktu itu tahun 1978, awalnya mereka hanya kontrak, namun pada tahun 1991 ayah saya akhirnya melepaskan tanah tersebut kepada pengusaha lokalisasi, berikut sertifikatnya,”. Tahun 1997, Bupati Jayapura Yan Pieter Karafir sempat mengeluarkan Keputusan Bupati berupa larangan melakukan kegiatan prostitusi di daerah ini, (terbukti papan pemberitahuan di depan jalan masuk lokalisasi) namun hal ini tidak direspon baik dari penghuni. “Bahkan dalam Musyawarah besar Masyarakat Lembaga Adat yang dilaksanakan di kampung Ayapo, menyepakati untuk memindahkan lokalisasi tersebut, karena limbahnya berupa sampah sangat mencemari ekosistem danau Sentani. Walaupun kepemilikan telah berpindah tangan, namun Elvis merasa tetap bertanggungjawab terhadap keberadaan lokalisasi tersebut. “Saya selalu melakukan pemantauan ke dalam. Beberapa kasus yang saya temui ada PSK yang datang tanpa mengetahui tujuannya. “Ada yang mengaku dijanjikan pekerjaan layak, namun setibanya di sini mereka ternyata dipekerjakan sebagai PSK. Bahkan pernah ada yang melarikan diri,” ungkapnya.

Menurut Elvis alternatif untuk menutup lokalisasi tersebut merupakan sebuah dilema. “Jika ditutup kemungkinan PSK tersebut akan beroperasi di jalanan, sehingga tidak terkontrol kesehatannya seperti di lokalisasi yang sangat berdampak pada penularan HIV-AIDS, maupun penyakit kelamin lainnya. Elvis menyarankan agar ada pengendalian terhadap jumlah PSK yang masuk, karena di tengarai para PSK masuk jumlahnya semakin bertambah setiap ada kapal yang masuk di pelabuhan Jayapura. Elvis juga sangat mengharapkan jika suatu saat kawasan ini di ubah menjadi kawasan yang lebih bermanfaat seperti tempat pelatihan. “Untuk mengurangi jumlah mereka seharusnya PSK yang berusia tua di pulangkan ke daerah asalnya, atau di beri keterampilan untuk mencari pekerjaan lain, karena bagaimanapun mereka juga manusia yang layak menjalani hidup yang lebih baik,” tambahnya. (Pat/R8)